Mendengkur pada Anak? Kenali Tanda Bahayanya

Suara Muhammadiyah

2 September 2026

143
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Mendengkur pada Anak? Kenali Tanda Bahayanya

Oleh: Dr. Wahyu Tri Novriansyah, Sp.THT-KL, Dokter Spesialis THT, fellow THT-ANAK, UKM Malaysia, Universitas Muhammadiyah Riau

Pernahkah ayah bunda memperhatikan buah hati anda sedang tidur? Apakah mendengkur? Bila ya, maka, berikut hal-hal yang perlu diketahui orang tua. Mendengar anak mendengkur memang tidak selalu berarti ada penyakit serius. Kadang-kadang anak bisa mendengkur ketika sedang pilek, hidung tersumbat, atau mengalami infeksi saluran napas.

Tetapi ada satu hal yang perlu Ayah dan Bunda ketahui, mendengkur yang terjadi berulang, terutama hampir setiap malam, sebaiknya tidak dianggap sebagai suara tidur biasa. Mengapa? Karena pada sebagian anak, mendengkur bisa menjadi tanda bahwa jalan napasnya tidak benar-benar lancar ketika tidur. Dan masalahnya bukan sekadar suara dengkur. Yang lebih penting adalah bagaimana anak bernapas selama tidur?

Mendengkur terjadi ketika aliran udara melalui saluran napas bagian atas menjadi tidak lancar sehingga jaringan di sekitar tenggorokan ikut bergetar. Bayangkan jalan raya. Kalau jalannya lebar dan lancar, kendaraan bisa lewat tanpa hambatan. Tetapi kalau jalan menyempit, kendaraan tetap bisa lewat, hanya saja menjadi lebih lambat dan menimbulkan suara. Saat tidur, otot-otot tubuh menjadi lebih rileks. Jika saluran napas bagian atas sudah relatif sempit, aliran udara dapat menjadi turbulen dan menimbulkan suara dengkuran.

Pada anak, salah satu penyebab yang cukup sering adalah pembesaran amandel dan adenoid. Amandel berada di bagian belakang tenggorokan, sedangkan adenoid berada di belakang rongga hidung. Keduanya merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh anak. Namun, ketika ukurannya terlalu besar dan mengganggu aliran udara, keduanya justru dapat ikut menyebabkan sumbatan jalan napas.

Pembesaran amandel dan adenoid merupakan salah satu penyebab penting dan paling sering gangguan napas saat tidur pada anak, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Faktor lain seperti hidung tersumbat karena alergi, obesitas, bentuk rahang atau wajah tertentu, serta kelainan saluran napas juga dapat berperan.

Jika anak mendengkur terus-menerus, terutama disertai tanda-tanda gangguan pernapasan saat tidur, sebaiknya dilakukan evaluasi. American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar kebiasaan mendengkur pada anak ditanyakan dalam pemeriksaan rutin, dan anak dengan dengkuran disertai tanda atau gejala obstructive sleep apnea (OSA) perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Bayangkan kita tidur sambil bernapas melalui sedotan yang terlalu kecil. Udara masih bisa masuk, tetapi membutuhkan usaha yang lebih besar. Pada keadaan yang lebih berat, saluran napas dapat tertutup sesaat. Inilah kondisi yang menggambarkan Obstructive sleep apnea (OSA) . Anak kemudian mengambil napas dengan usaha yang lebih kuat, kadang disertai suara seperti tersedak atau megap-megap. Itulah sebabnya bukan kerasnya suara dengkuran saja yang harus diperhatikan. Yang jauh lebih penting adalah apakah napas anak terganggu selama tidur.

Waspadai Jika Anak Mendengkur Disertai Tanda-Tanda Ini

Ayah dan Bunda sebaiknya lebih waspada apabila anak yang mendengkur juga mengalami:

1. Napas seperti berhenti saat tidur

Anak tidur mendengkur, kemudian tiba-tiba diam beberapa detik, lalu menarik napas kembali dengan suara keras, seperti tersentak atau tersedak.

2. Tidur sangat gelisah

Anak sering bergerak, berganti posisi, menendang-nendang, atau tampak tidak pernah benar-benar tidur dengan tenang. Kadang anak juga tidur dengan posisi yang tidak biasa, misalnya kepala terlalu menengadah atau leher diekstensikan untuk membantu membuka jalan napas.

3. Tidur dengan mulut terbuka

Anak yang hidungnya sulit bernapas dapat terbiasa bernapas melalui mulut. Jika berlangsung terus-menerus, anak bisa tidur dengan mulut terbuka hampir sepanjang malam. Pembesaran adenoid, alergi, atau sumbatan hidung kronis dapat menjadi penyebabnya.

4. Napas terlihat berat atau berbunyi

Perhatikan apakah dada dan perut anak tampak bekerja lebih keras ketika tidur. Ada pula anak yang mengeluarkan suara napas keras, seperti grok-grok, mendengus, atau seperti berusaha menarik udara.

5. Sering terbangun

Anak mungkin tidak selalu benar-benar sadar ketika terbangun. Namun tidurnya menjadi terfragmentasi dan tidak berkualitas. Akibatnya, meskipun waktu tidurnya tampak cukup, anak tetap dapat mengalami dampak pada siang hari.

6. Anak sulit berkonsentrasi atau mudah berubah perilaku

Kalau orang dewasa kurang tidur, kita sering membayangkan orang tersebut akan mengantuk. Pada anak, gangguan tidur tidak selalu muncul sebagai kantuk. Anak justru dapat menjadi lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, lebih aktif, atau mengalami masalah belajar dan perilaku. Gangguan napas saat tidur pada anak memang dikaitkan dengan masalah neurobehavioral dan kualitas hidup.

7. Pertumbuhan atau berat badan tidak optimal

Pada sebagian anak dengan gangguan tidur berat, masalah makan dan pertumbuhan dapat ikut muncul. Karena itu, bila anak mendengkur disertai sulit makan, berat badan sulit naik, atau pertumbuhan tidak sesuai harapan, sebaiknya jangan hanya melihat masalah tersebut dari sisi nutrisi.

Bagaimana Dokter Menilai Anak yang Mendengkur?

Biasanya dokter akan mulai dari hal yang sederhana, yakni mendengarkan cerita orang tua. Kapan anak mulai mendengkur? Apakah setiap malam? Apakah ada henti napas? Apakah anak tidur dengan mulut terbuka? Apakah sering terbangun? Bagaimana kondisi anak pada siang hari?

Kemudian dilakukan pemeriksaan THT untuk melihat hidung, tenggorokan, amandel, adenoid, dan kemungkinan penyebab lainnya. Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan endoskopi hidung untuk melihat kondisi rongga hidung dan adenoid secara langsung.

Pada anak tertentu, terutama bila gejalanya mengarah ke OSA atau terdapat ketidaksesuaian antara gejala dengan hasil pemeriksaan, dokter dapat mempertimbangkan polysomnography (PSG) atau pemeriksaan tidur.

Ayah dan Bunda, mendengkur pada anak memang tidak selalu berarti penyakit. Sesekali mendengkur ketika pilek bisa saja terjadi. Tetapi jika dengkuran menjadi kebiasaan, terutama bila disertai napas berhenti, tidur gelisah, bernapas melalui mulut, atau perubahan perilaku di siang hari, jangan hanya menganggapnya sebagai “memang anak saya kalau tidur ngorok”.

Dengarkan dengkurannya, tetapi lebih penting lagi, perhatikan napasnya. Karena mendengkur bisa menjadi sebuah tanda sederhana bahwa jalan napas anak tidak sepenuhnya nyaman ketika tidur. Dan seperti lampu indikator pada kendaraan, tidak semua lampu berarti mesin sedang rusak berat. Tetapi kalau lampunya terus menyala, jangan ditutup dengan lakban. Cari tahu penyebabnya. Begitu juga dengan dengkuran anak. Tidak perlu langsung panik. Tidak perlu pula langsung berpikir bahwa anak pasti harus operasi. Yang paling penting adalah mencari tahu apa penyebabnya dan apakah tidur serta pernapasan anak benar-benar terganggu.

Karena tidur yang baik bukan hanya soal anak tidur cukup lama. Anak perlu tidur dengan napas yang nyaman, agar dapat bangun dengan segar, bermain, belajar, tumbuh, dan berkembang dengan optimal.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Wiwin Lestari  Lokasi geografis yang cukup menantang memang kadang membuat orang lekas m....

Suara Muhammadiyah

20 May 2025

Wawasan

Merdeka: Ketika Kita Menjadi Mahardika Seutuhnya Oleh: Agus setiyono Merdeka adalah nyanyian jiw....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024

Wawasan

Armuzna: Ujian Nyata Haji 2026 Oleh: H. Syahnanto Noerdin, M.I.Kom, Tim Peliput Timwas Haji DP....

Suara Muhammadiyah

20 May 2026

Wawasan

Kuasai Sumber Hajat Rakyat Oleh: Saidun Derani Telah terjadi Silaturahmi atau semacam pertemuan se....

Suara Muhammadiyah

11 November 2023

Wawasan

Mencari Solusi Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpi....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah