SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Kehidupan itu tidak dapat dipastikan. Terkadang gembira hati, pun saat yang sama, juga gundah nurani. Seringkali pada situasi demikian, loneliness (kesepian), menjadi satu di antara titik pemicunya.
Tapi, “orang Islam seharusnya tidak mengalami loneliness,” ucap Agus Taufiqurrahman. Kenapa begitu? Paling tidak, lima kali sehari selalu bersua antarsesama untuk memenuhi seruan-Nya.
“Apalagi ngajinya seperti ini (penuh dengan jamaah) ketemu saudara banyak,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu. Jelaslah demikian itu merupakan pertautan relasi sosial dalam kehidupan, yang berdampak positif dalam kehidupan.
“Di antara kuncinya dia punya relasi sosial yang baik,” katanya saat Pengajian Umum di Omah Sawah Bodeh, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Sabtu (1/8).
Satu hal vital itu, sebut Agus, mesti dijaga dengan baik. Pada sisi yang lainnya, menyangkut fisik pun, tak kalah mendapat porsi yang fundamental. “Ini adalah anugerah Allah yang diamanahkan untuk dijaga,” bebernya.
Namun, acapkali soal satu ini suka agak alpa dan bahkan termarginalisasikan, karena begitu tingginya atensi duniawi sampai-sampai diri sendiri luput dari perhatian secara saksama.
“Kalau kita diberi fisik yang sehat itu amanah Allah dijaga biar tetap sehat,” ujar Agus.
Alasnya sangat kuat sekali menyangkut konteks tersebut; manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara; waktu sehat sebelum datang waktu sakit, demikian riwayat al-Hakim menegaskan.
“Dalam agama kita sudah jelas melakukan apa yang diperintahkan rasul berarti ibadah. Maka kalau kita itu menjaga sehat konotasi utama hadis adalah sehat fisik kita maka itu bagian dari ibadah,” tegas Agus.
Derivasi itu kesehatan mentalnya dan kesehatan batin, patut jua diperhatikan. Apakah yang konteks ini telah atau justru tidak mendapatkan ruang khusus kontemplasi?
“Harus dicek hari ini saya memulai hidup dengan syukur apa tidak? Hari ini saya masih peka terhadap amal saleh apa tidak?” lontaran pertanyaan Agus.
Realita di permukaan menampakkan, manusia seakan ada berantara (jarak) untuk masuk pada kontemplasi itu. “Kita jarang ngecek sudah berapa langkah yang kita bawa ke tempat-tempat baik,” ungkapnya.
“Tidak cukup hidup hanya sehat fisik saja,” ucapnya. Karenanya, ini laik menjadi titik refleksi umat Islam sepanjang mengembara di belantara kehidupan.
Yang dipertanyakan berikutnya, apakah dengan dipersembahkan sehatnya badan memecut tergerak diri berkiprah berbuat bajik dan menyemai kemaslahatan pada lingkungan sosial?
“Sebaik-baik manusia mereka yang bisa memberi kemanfaatan untuk manusia yang lain,” terangnya menukil riwayat Ahmad.
Apa setelah itu? Adalah jelas, seyogyanya umat Islam hari ini mesti berbuat demikian. Hidupnya mesti berupaya sedemikian rupa mensistematisasi pola hidup yang sehat. Dan itu, sifatnya bersifat niscaya.
“Kalau cara hidupnya tidak cara hidup sehat, tentu kita tidak bisa mendapatkan kesehatan itu,” tekannya. Lantas, mesti bagaimana? “Kalau ingin sehat, contoh terbaik Rasulullah Muhammad Saw,” bebernya. Sebab, hidupnya jarang sakit.
“Sakit pertama ketika Thaif dilempari batu atau menggigil setelah mendapatkan wahtu pertama, beliau demam terus,” ungkapnya. Termasuk, jelang wafat, “sehingga ketika beliau gerah (sakit) yang menggantikan imam Abu Bakar As-Siddiq,” sambung Agus.
Hal laik diteladan dari hidup Rasul menyangkut konteks tersebut antara lain menjaga kebersihan, mengatur pola makan, menjaga tidur dan bangun dengan cepat, melakukan shalat qiyamul lail, dan berpuasa.
Dengan begitu, meneladan pola hidup Rasulullah tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga menjadi ikhtiar menjaga kesehatan fisik dan mental. (Cris)

