SIDOARJO, Suara Muhammadiyah — Meneladan Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah kelahiran dan perjuangan beliau. Keteladanan Nabi Muhammad justru harus dihadirkan dalam kehidupan hari ini agar umat Islam mampu membaca perubahan zaman, menjawab berbagai tantangan, dan menyiapkan generasi yang tangguh menghadapi masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Falah, Perumahan Citra Harmoni, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (30/8).
Dalam kajian tersebut, Arifin mengajak jamaah untuk memaknai keteladanan Rasulullah secara kontekstual. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak cukup diwujudkan melalui peringatan dan seremonial, tetapi harus diterjemahkan menjadi kemampuan umat dalam menghadapi perubahan zaman.
“Dari Rasulullah kita belajar menghadapi zaman. Dari Islam kita membangun kemajuan. Dan dari hari ini kita menyiapkan generasi masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat. Perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, media sosial, hingga hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.
"Kemajuan teknologi menghadirkan peluang besar. Namun, pada saat yang sama, muncul tantangan yang tidak kalah besar," terangnya.
Menurutnya, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi kebenarannya tidak selalu dapat dipastikan. Media sosial dapat menjadi ruang dakwah dan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan berbagai perilaku yang merusak.
"Keteladanan Rasulullah tidak boleh berhenti sebagai kisah masa lalu. Sirah Nabi harus menjadi sumber nilai untuk menghadapi kehidupan masa kini dan menata masa depan," jelasnya.
Meneladan Rasulullah bukan sekadar meniru bentuk kehidupan masa lalu, tetapi kata Arifin, mengambil nilai, prinsip, akhlak, keberanian, kecerdasan, dan visi perjuangan beliau untuk diterapkan sesuai konteks kehidupan yang terus berubah.
"Beliau membentuk akhlak, menanamkan ilmu, membangun persaudaraan, menegakkan keadilan, dan menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan risalah.
Rasulullah telah memberikan teladan bahwa membangun masa depan berarti menyiapkan manusia. Sebab perubahan besar selalu berawal dari kualitas manusia yang mampu membawa perubahan tersebut.
"Dunia mungkin semakin canggih, tetapi tanpa akhlak kecanggihan dapat kehilangan arah. AI dapat membantu manusia menghasilkan berbagai hal, tetapi manusialah yang menentukan untuk apa kecerdasan tersebut digunakan," tandasnya.

