Mengantisipasi Lemahnya Regenerasi Tanpa Penguatan Ideologi
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Muhammadiyah dikenal sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di dunia. Usianya telah melampaui satu abad, dengan jaringan amal usaha yang luas mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi. Di tengah capaian tersebut, Muhammadiyah kerap dipuji sebagai organisasi yang relatif stabil, rasional, dan berkemajuan. Namun di balik kemapanan itu, terdapat satu persoalan sunyi yang jarang dibicarakan secara terbuka yaitu regenerasi yang berjalan tanpa fondasi ideologi yang kokoh.
Regenerasi dalam organisasi sebesar Muhammadiyah bukan sekadar soal pergantian usia atau alih jabatan struktural. Regenerasi sejati adalah proses pewarisan nilai, visi, dan ideologi. Ketika regenerasi berlangsung tanpa penguatan ideologi, organisasi berisiko kehilangan arah, meski secara struktural tampak tetap berjalan. Inilah ancaman sunyi yang pelan-pelan dapat menggerus jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Tulisan ini mencoba mengurai persoalan tersebut secara reflektif yaitu bagaimana regenerasi kader Muhammadiyah hari ini berlangsung, apa yang berubah, apa yang terlewat, dan apa risikonya jika ideologi tidak lagi menjadi fondasi utama dalam proses kaderisasi.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan ideologis. KH Ahmad Dahlan merintis Muhammadiyah dengan spirit tajdid yaitu pembaruan pemikiran dan praktik keislaman yang berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus terbuka pada ilmu pengetahuan modern.
Ideologi Muhammadiyah terumuskan dalam berbagai dokumen resmi, seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Dokumen-dokumen ini bukan sekadar arsip, melainkan fondasi nilai yang seharusnya hidup dalam diri setiap kader.
Dalam konteks ini, kader Muhammadiyah idealnya bukan hanya aktivis organisatoris atau profesional amal usaha, melainkan insan ideologis yaitu mereka yang memahami, meyakini, dan memperjuangkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam berbagai ruang kehidupan.
Dalam praktiknya, regenerasi Muhammadiyah hari ini sering kali berjalan administratif dan struktural. Pergantian pimpinan berlangsung tertib melalui musyawarah. Kemudian jabatan diisi secara prosedural. Serta Amal usaha terus berjalan dengan manajemen yang relatif profesional. Namun pertanyaannya ialah sejauh mana proses tersebut disertai internalisasi ideologi?
Banyak kader muda Muhammadiyah yang aktif, cerdas, dan kompeten. Mereka terlibat dalam pengelolaan sekolah, universitas, rumah sakit, hingga lembaga sosial. Namun tidak sedikit di antara mereka yang mengenal Muhammadiyah lebih sebagai “institusi” daripada “gerakan ideologis”. Muhammadiyah hadir sebagai tempat bekerja, berkarier, atau berjejaring dan bukan sebagai ruang pembentukan pandangan hidup. Regenerasi yang terlalu menekankan aspek struktural dan fungsional, tanpa penguatan ideologis, berpotensi melahirkan kader teknokratik yaitu piawai mengelola, tetapi miskin orientasi nilai.
Muhammadiyah tidak kekurangan kader. Muladi dari IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, hingga Aisyiyah, jalur kaderisasi formal tampak lengkap. Namun jumlah tidak selalu sebanding dengan kedalaman. Di banyak tempat, kaderisasi lebih berfokus pada pelatihan kepemimpinan teknis, manajemen organisasi, atau penguatan soft skills. Semua itu penting, tetapi ketika ideologi tidak menjadi ruh utama, kaderisasi berisiko berubah menjadi sekadar pelatihan aktivis.
Fenomena ini terlihat dari semakin tipisnya penguasaan kader muda terhadap khazanah pemikiran Muhammadiyah. Tidak semua kader mengenal sejarah intelektual Muhammadiyah, perdebatan ideologisnya, atau posisi Muhammadiyah dalam dinamika Islam dan kebangsaan. Akibatnya, identitas ideologis menjadi kabur.
Kita juga harus jujur mengakui bahwa konteks zaman berubah cepat. Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang serba instan, visual, dan pragmatis. Media sosial membentuk cara berpikir dan beraktivitas. Loyalitas pada organisasi tidak lagi otomatis. Dalam situasi ini, ideologi sering dianggap berat, kaku, atau tidak relevan.
Padahal justru di tengah arus pragmatisme itulah ideologi menjadi jangkar. Tanpa ideologi, kader mudah tercerabut, mudah berpindah orientasi, dan sulit mempertahankan konsistensi nilai. Godaan pragmatisme juga muncul ketika kader melihat Muhammadiyah lebih sebagai batu loncatan karier. Tidak salah jika kader sukses di ruang publik. Namun jika orientasi personal lebih dominan daripada komitmen ideologis, maka regenerasi kehilangan makna transformatifnya.
Keberhasilan Muhammadiyah mengelola amal usaha adalah anugerah sekaligus tantangan. Amal usaha yang besar menuntut profesionalisme tinggi. Namun profesionalisme tanpa ideologi berisiko melahirkan de-ideologisasi.
Tidak sedikit pengelola amal usaha Muhammadiyah yang unggul secara manajerial, tetapi minim keterikatan ideologis. Muhammadiyah lalu dipersepsi sekadar sebagai “brand” institusi, bukan gerakan dakwah dan tajdid. Jika amal usaha tidak menjadi ruang kaderisasi ideologis, maka regenerasi Muhammadiyah akan timpang yaitu kuat secara institusional, lemah secara ideologis.
Persoalan regenerasi ideologis juga berkaitan dengan regenerasi ulama dan intelektual Muhammadiyah. Sejarah Muhammadiyah dipenuhi tokoh-tokoh pemikir yang menjadi rujukan umat dan bangsa. Hari ini, pertanyaan kritisnya ialah apakah ekosistem kaderisasi kita cukup subur untuk melahirkan ulama dan intelektual baru? Tanpa tradisi intelektual yang kuat, ideologi mudah mengering. Regenerasi tanpa ideologi pada akhirnya akan melahirkan kekosongan pemikiran, yang berbahaya bagi organisasi dakwah.
Persoalan regenerasi tanpa ideologi di Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari konteks kebangsaan Indonesia. Sejak awal, Muhammadiyah bukan hanya berperan dalam dakwah keagamaan, tetapi juga ikut membentuk fondasi sosial dan intelektual bangsa. Kontribusi Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, dan penguatan masyarakat sipil menjadikannya aktor penting dalam perjalanan kebangsaan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, tantangan kebangsaan semakin kompleks. Polarisasi politik, menguatnya politik identitas, serta melemahnya etika publik menuntut kehadiran organisasi keagamaan yang matang secara ideologis. Muhammadiyah dituntut tidak sekadar hadir sebagai penyedia layanan sosial, tetapi juga sebagai penyangga moral dan nalar publik.
Regenerasi kader yang kehilangan basis ideologi akan melemahkan peran kebangsaan tersebut. Kader mungkin aktif di ruang publik, namun tanpa kerangka nilai Muhammadiyah yang kuat, kontribusinya menjadi cair dan sulit dibedakan dari arus pragmatisme politik dan ekonomi. Padahal, sejarah mencatat banyak kader Muhammadiyah yang tampil sebagai negarawan karena keteguhan ideologi, bukan semata kecakapan teknis.
Oleh karena itu, penguatan ideologi dalam regenerasi adalah bagian dari ikhtiar menjaga peran kebangsaan Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah yang moderat, rasional, dan berkemajuan sangat relevan untuk merawat persatuan, memperkuat demokrasi, dan mendorong keadilan sosial di Indonesia.
Era digital membawa perubahan mendasar dalam cara kader belajar, berorganisasi, dan memaknai identitas. Media sosial, algoritma, dan budaya viral membentuk ruang publik baru yang sering kali dangkal dan reaktif. Dalam lanskap seperti ini, ideologi berisiko tereduksi menjadi slogan atau simbol, bukan kerangka berpikir.
Banyak kader muda Muhammadiyah hari ini aktif di ruang digital, namun tidak selalu memiliki kedalaman ideologis yang memadai. Aktivisme digital sering bergerak cepat, emosional, dan pragmatis. Tanpa fondasi ideologi, kader mudah terseret arus wacana populer yang tidak selalu sejalan dengan nilai Muhammadiyah.
Tantangan lain adalah pergeseran otoritas pengetahuan. Di era digital, rujukan keilmuan dan keagamaan tidak lagi tunggal. Kader muda lebih mudah terpapar berbagai ideologi transnasional, populisme agama, atau bahkan narasi keagamaan instan yang dangkal. Tanpa penguatan ideologi Muhammadiyah, proses kaderisasi kehilangan daya filtrasi.
Namun era digital juga menyimpan peluang. Ideologi Muhammadiyah dapat dikontekstualisasikan melalui medium digital yang kreatif dan dialogis. Regenerasi ideologis tidak harus kaku dan seremonial. Ia dapat hadir dalam diskusi daring, konten edukatif, hingga ruang-ruang kreatif yang dekat dengan keseharian generasi muda.
Tantangannya adalah keberanian organisasi untuk beradaptasi tanpa kehilangan substansi. Regenerasi ideologis di era digital menuntut pendekatan baru, bahasa baru, dan metode baru, tanpa mengorbankan kedalaman nilai.
Ancaman terbesar dari regenerasi tanpa ideologi bukanlah konflik terbuka, melainkan pelapukan perlahan. Muhammadiyah tetap ada, tetap besar, tetap sibuk; namun jiwanya melemah. Organisasi yang kehilangan ideologi akan mudah terseret arus zaman, kehilangan keberanian moral, dan sulit mengambil posisi tegas dalam isu-isu strategis umat dan bangsa. Dalam jangka panjang, Muhammadiyah berisiko berubah dari gerakan pembaruan menjadi sekadar institusi pelayanan.
Menghadapi tantangan ini, Muhammadiyah perlu melakukan refleksi mendalam. Regenerasi harus dikembalikan sebagai proses ideologis, bukan semata administratif. Pertama, penguatan ideologi harus menjadi inti kaderisasi di semua level. Dokumen ideologis Muhammadiyah perlu dihidupkan kembali dalam bahasa yang relevan bagi generasi muda.
Kedua, amal usaha harus menjadi laboratorium ideologi. Profesionalisme dan ideologi bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Ketiga, ruang intelektual perlu diperluas. Diskursus pemikiran, kajian kritis, dan tradisi membaca harus kembali menjadi napas kaderisasi. Keempat, keteladanan pimpinan menjadi kunci, karena ideologi tidak akan hidup tanpa contoh nyata.
Regenerasi tanpa ideologi adalah ancaman sunyi bagi Muhammadiyah. Kondisi ini tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi pelan-pelan menggerus jati diri gerakan. Menyadari ancaman ini bukan untuk pesimistis, melainkan untuk membangkitkan kewaspadaan kolektif.
Muhammadiyah telah terbukti mampu bertahan dan beradaptasi selama lebih dari satu abad. Tantangan hari ini bukan sekadar bagaimana tetap besar, tetapi bagaimana tetap bermakna. Regenerasi yang berakar pada ideologi adalah kunci agar Muhammadiyah terus menjadi gerakan Islam berkemajuan, bukan sekadar institusi yang mapan.

