Mengembalikan IPM ke Khittah Gerakan Ilmu
Oleh: Ranti Sadira, Sekretaris Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PW IPM Sumatera Barat
Setiap kali memakai almamater kuning kebanggaan yang dihiasi logo IPM dengan garis-garis tegas dan makna ideologis dibaliknya, penulis sering bertanya pada diri sendiri, apakah penulis sudah benar-benar pantas disebut kader? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi ia terus menghantui setiap langkah dalam berorganisasi. Sebab, makna kader ideal sering kali diletakkan terlalu tinggi di forum-forum formal. Padahal sederhana saja, kader adalah mereka yang telah selesai dengan dirinya sebelum mengayomi orang lain, serta mampu menjadi teladan moral dan intelektual di lingkungannya.
Melihat kondisi hari ini, terasa ada pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Kita terjebak dalam euforia berorganisasi, agenda rapat silih berganti, administrasi diselesaikan, program dilaksanakan. Kita terlihat bekerja keras, tapi apakah semua kesibukan itu benar-benar berdampak? Apakah persoalan-persoalan nyata yang dihadapi pelajar hari ini sudah kita sentuh dan carikan jawabannya?
Dalam situasi ini, organisasi diperlakukan layaknya rumah, tempat yang nyaman untuk bernaung, kenyamanan tersebut justru menimbulkan stagnasi, membuat kita betah dengan lingkungan sendiri dan kehilangan kepekaan terhadap persoalan nyata yang dihadapi pelajar. Karena sejatinya, organisasi adalah ruang tumbuh yang harus mendorong kader untuk berproses, dan memberi dampak nyata.
Lebih jauh, persoalan keilmuan di tubuh IPM juga tercermin dari cara kaderisasi dijalankan. Dalam praktiknya, tidak sedikit pelajar yang mengikuti perkaderan bukan karena dorongan kesadaran, melainkan karena tuntutan sekolah atau sekedar menggugurkan kewajiban berorganisasi. Akibatnya, kaderisasi dipahami sebatas tahapan formal, belum sepenuhnya menjadi ruang pembinaan nalar dan karakter.
Banyak kader mengenal istilah dan nilai gerakan, tetapi belum didorong untuk mengolahnya secara reflektif dan kritis. Jika kondisi ini tidak disadari bersama, IPM berpotensi melahirkan kader yang hadir secara struktural, namun belum matang secara pemikiran. Padahal, sebagai gerakan pelajar, IPM memiliki tanggung jawab besar untuk menumbuhkan pribadi-pribadi yang berpikir jernih, berakhlak, dan memiliki kepekaan terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan.
Kondisi tersebut, sesungguhnya bukan karena ketiadaan ruang dialog dalam proses kaderisasi. Ruang-ruang itu telah dibuka dan disediakan, baik dalam forum resmi maupun diskusi nonformal. Namun persoalan ini terletak pada minimnya keberanian kader untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Banyak kader yang memilih diam, merasa ragu, atau takut keliru, sehingga forum-forum diskusi kerap berjalan satu arah. Padahal, tradisi bertanya, membaca, dan berdialog secara sehat merupakan pondasi penting dalam gerakan ilmu. Tanpa keberanian berpendapat, kader akan tumbuh sebagai pelaksana yang patuh, bukan pemikir yang terlatih. Akibatnya, kepekaan dalam menyikapi persoalan umat dan bangsa pun tidak berkembang secara optimal.
Tantangan untuk menginternalisasikan nilai-nilai IPM memang sangat berat, baik dari faktor internal maupun eksternal. Secara internal, kita dihadapkan pada budaya organisasi yang kaku dan kurang apresiatif terhadap ide-ide baru, ada semacam rasa puas diri yang mengakibatkan budaya membaca melemah, diskusi serius semakin jarang, dan cara-cara instan menjadi pilihan dalam menjalani organisasi. Keilmuan yang seharusnya menjadi ruh gerakan justru terpinggirkan.
Sementara dari eksternal, kita hidup di era disrupsi informasi yang bergerak sangat cepat, media sosial menawarkan hiburan dan popularitas yang jauh lebih menarik dibandingkan proses membaca dan berfikir panjang. Mengajak pelajar untuk peduli pada nilai-nilai keislaman dan menjaga keilmuan jauh lebih sulit dibandingkan mengajak mereka mengikuti tren media sosial yang sedang viral, ini harus membutuhkan pendekatan yang lebih sabar dan kreatif
Berangkat dari kegelisahan tersebut, penulis merasa IPM tidak bisa diam dan hanya mengikuti arus yang ada. Sudah saatnya IPM Kembali pada khittah sebagai Gerakan Ilmu. Artinya, IPM harus berani meninjau ulang cara kerja, kita tidak boleh lagi terjebak dalam zona nyaman, kita harus berani bongkar kebiasaan-kebiasaan lama yang terbukti tidak efektif dan menggantinya dengan gerakan yang lebih bermakna.
Bagi penulis, perubahan harus dimulai dari hal yang paling mendasar, memperkuat literasi diri sendiri. Tidak ada pelajar berkemajuan tanpa budaya membaca dan daya kritis yang kuat. Kita tidak bisa mencerdaskan orang lain jika kita sendiri enggan menyentuh buku. Selain itu, IPM perlu bertransformasi menjadi organisasi yang lebih mendengar daripada memerintah. Kita perlu lebih sering turun kebawah, bicara hati ke hati dengan pelajar, merancang gerakan berdasarkan kebutuhan pelajar, dan menjadikan IPM sebagai tempat yang nyaman bagi mereka untuk berkeluh kesah.
Pada akhirnya, menjadi kader IPM bagi penulis adalah sebuah perjalanan panjang untuk terus memperbaiki diri tanpa henti. Perjuangan ini sangat tidak mudah, tantangannya besar dan mungkin tidak akan terlihat dalam waktu singkat, namun penulis percaya bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil dengan niat tulus dan keberanian akan membawa perubahan besar. Sebab, kader sejati diukur dari siapa yang konsisten bertahan di garis perjuangan, dan di tangan kitalah wajah masa depan Pelajar Muhammadiyah akan ditentukan.

