Kader Itu Olah Pikiran - Olah Rasa
Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Sukoharjo, Mahasantri Pondok Shabran UMS
Belakangan ini, pada lingkungan saya bertumbuh, merdeka finansial terus digelorakan. Dari padanya, Izzul Khaq menulis sebuah opini di web Suara Muhammadiyah dengan judul “Resolusi 2026: Merdeka Finansial atau Mati Konyol Digulung Pinjol” dan mendapat respon positif juga dari Najihus Salam dengan judul opini “Merdeka Berpikir Butuh Merdeka Finansial, Kritik atas “Olah-olah” Kader.”
Membaca dua tulisan itu, menggugah saya untuk melengkapinya dengan tulsian sederhana ini. Dua tulisan itu saya rasa saling melengkapi satu sama lain, dan saya akan melengkapinya juga, dengan keresahan yang saya alami.
Tulisan pertama mengingatkan kita bahwa kemerdekaan finansial adalah kebutuhan nyata kader, bukan pelengkap belaka. Di dunia yang makin kompleks, hidup tanpa pemahaman finansial sama saja berjalan di jalan raya tanpa mengenal rambu.
Sementara tulisan kedua menegaskan bahwa kemerdekaan berpikir mustahil berdiri kokoh bila hidup kita masih tersandera oleh keterbatasan ekonomi. Dua tulisan itu saling menyambung, saling menegaskan, dan sama-sama lahir dari kejujuran membaca realitas.
Namun izinkan saya masuk melalui pintu lain, kader itu bukan hanya olah pikiran, bukan hanya olah finansial, tetapi juga olah rasa. Bahkan saya ingin menambahkan satu kritik yang lembut, kaderisasi jangan sampai terjebak menjadi sekadar olah-olah dana acara.
Karena bila energi terbesar kader hanya habis pada proposal, sponsorship, konsumsi, dan dekorasi, maka pelan-pelan kita sedang menggeser tujuan kaderisasi. Kita tidak lagi membentuk manusia yang sadar misi, tetapi hanya mencetak panitia yang piawai mengelola event. Padahal Muhammadiyah sejak mula bukan mendirikan event organizer. Ia membangun peradaban.
Kemandirian finansial memang penting. Kita hidup di zaman ketika iklan dan gaya hidup berlomba-lomba membentuk standar “normal baru”. Di media sosial, ukuran bahagia sering kali disederhanakan pada barang yang kita pakai, tempat kita makan, dan destinasi yang kita kunjungi. Di sisi lain, jalan menuju utang terbuka selebar-selebarnya. Dengan beberapa klik, seseorang bisa terjerat cicilan yang panjang.
Kader Harus Melek Finansial
Karena itu wajar bila ada yang berseru “kader harus melek finansial.” Harus paham bedanya kebutuhan dan keinginan. Harus berani hidup sesuai kemampuan. Harus disiplin mengelola penghasilan. Semua ini bukan agar kita jadi kapitalis kecil-kecilan, tetapi agar hidup kita tidak mudah digulung badai utang dan tekanan ekonomi.
Namun, di titik ini saya ingin berhenti sejenak dan bertanya, apakah merdeka finansial adalah tujuan akhir kaderisasi? Saya kira tidak. Ia tetaplah alat. Seperti pena bagi penulis, tanpa pena kita tidak bisa menulis, tetapi pena bukanlah tulisan itu sendiri.
Yang Tak Kalah Penting adalah Olah Rasa. Olah rasa membuat kader tidak hanya tajam dalam berpikir, tetapi juga halus dalam memandang manusia. Ia melatih kita merasakan getirnya orang lain. Empati ini menjauhkan kita dari mentalitas “yang penting aku selamat dulu”. Muhammadiyah lahir bukan dari jiwa yang hanya memikirkan diri sendiri, tetapi dari keberanian mengambil peran sosial, bahkan saat diri sendiri belum tentu sepenuhnya aman.
Namun, kita juga perlu jujur mengakui hadirnya budaya olah-olah.
Olah-olah intelektual.
Olah-olah religius.
Olah-olah idealis.
Di forum kita bicara soal keumatan, keadilan sosial, bahkan perubahan besar. Tetapi begitu forum selesai, gagasan itu sering kali menggantung tanpa rumah. Ia tidak membumi pada cara kita bekerja, mengelola uang, dan menjaga komitmen. Karena itu, ajakan untuk merdeka finansial sebenarnya juga ajakan untuk hidup lebih autentik, tidak membangun idealisme di atas pondasi rapuh.
Namun kita tetap harus memberi rem kecil, jangan sampai semangat kemandirian finansial justru menggeser orientasi kaderisasi menjadi semata-mata pencarian dana. Bila setiap kegiatan kaderisasi hanya dipahami sebagai proyek pendanaan, maka kita kehilangan ruhnya. Kita lebih sibuk memastikan sponsor hadir daripada memastikan gagasan hidup.
Menurut saya, keseimbangan itu lahir dari tiga latihan utama:
Pertama, olah pikiran, agar kader jernih membaca realitas, kritis terhadap keadaan, dan tidak mudah diperdaya kata-kata indah.
Kedua, olah rasa, agar kader tetap manusiawi, rendah hati, dan penuh empati dalam melihat sesama.
Ketiga, olah finansial, agar kader mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak mudah dibeli, dan tetap merdeka dalam menyuarakan kebenaran.
Jika hanya satu yang dikedepankan, lahirlah ketimpangan. Kader yang hanya mengolah pikiran bisa menjadi kering. Yang hanya mengolah rasa bisa rapuh. Yang hanya mengolah finansial bisa terjebak menghitung hidup dengan angka semata.
Kemerdekaan Jiwa sebagai Dasar
Merdeka finansial penting. Namun kemerdekaan jiwa jauh lebih mendasar, jiwa yang tidak silau oleh gengsi, tidak minder oleh kesederhanaan, dan tidak menumpuk utang demi citra. Sering kali beban finansial bukan lahir dari kebutuhan, tetapi dari keinginan tampil “setara”.
Karena itu, mari menata ulang makna kemandirian finansial. Ia bukan lomba jadi kaya, bukan keharusan punya bisnis. Ia adalah komitmen untuk mengelola rezeki dengan amanah, sederhana, dan bertanggung jawab.
Bukan semata “berapa yang kita miliki”, tetapi bagaimana kita mendapatkannya dan untuk apa kita gunakan.
Dan akhirnya, saya ingin menegaskan kembali, kader itu olah pikiran, juga olah rasa, bukan olah-olah dana acara.
Kita boleh menyiapkan proposal. Kita boleh mencari sponsor. Tetapi jangan pernah lupa bahwa yang sedang kita bangun adalah manusia, bukan sekadar kegiatan. Sebab bila jiwa kita utuh, maka sekalipun kegiatan sederhana, ia tetap melahirkan dampak besar.
Dua tulisan sebelumnya telah membuka percakapan penting. Saya hanya menambahkan satu sudut pandang, bahwa kemandirian finansial harus berjalan beriringan dengan kejernihan nalar dan kelembutan hati. Di sanalah kader dilahirkan, bukan dari angka, bukan dari seremonial, tetapi dari hati yang terus ditempa untuk hadir sepenuh jiwa bagi kemanusiaan.

