Menghadirkan Empati di bulan Ramadhan
Oleh: Amalia Irfani, Kaprodi Studi Agama-Agama FUSHA IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar
Sering kita mendengar diksi empati, dengan stigma sosial, jika ada individu tidak peduli dengan penderitaan orang lain yang ada disekitarnya, maka ia terkategori manusia tanpa memiliki empati. Empati bukanlah sesuatu yang remeh temeh dan dapat dimiliki oleh setiap insan, ia sebuah sikap, kemampuan yang hanya ada pada hamba Allah SWT yang beriman dan cerdas secara emosional.
Posisinya diatas tingkat setelah simpati, dan para ahli bersepakat empati adalah proses kedewasaan yang harus terus di asah. Individu yang memiliki empati biasanya cenderung lebih peka/sensitif terhadap penderitaan orang lain.
Jika dihubungkan dengan kehidupan sosial sehari-hari, empati merupakan pilar utama untuk membangun hubungan yang lebih kuat atau harmonis. Di ranah bermasyarakat empati akan tercermin pada komunikasi efektif untuk mengurangi konflik.
Dalam ranah komunitas, keluarga, empati terlihat saat individu dapat memberikan support kepada teman, saudara dengan mendengarkan keluhan, curhat dan jika memungkinkan membantu dengan kesanggupan yang dimiliki.
Empati juga berkonotasi tentang memahami perspektif orang lain, memberikan dukungan emosional, serta meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan mental diri sendiri. Empati bisa terus diasah dengan banyak berinteraksi dengan orang lain.
dr. Aisyah Dahlan, praktisi neuroparenting skill, menguraikan bahwa meningkatkan rasa empati berkaitan erat dengan pemahaman cara kerja otak manusia, emosi, dan komunikasi yang efektif. Tiga hal ini lanjutnya landasan untuk menyelami rasa, dan akhirnya dapat memberikan dukungan moril untuk saling menguatkan.
Empati dapat dirunutkan dalam tiga kategori. Pertama empati kognitif, yakni memahami pikiran orang lain. Kedua, empati emosional atau afektif; merasakan emosi orang lain. Ketiga empati aksi atau kompasioner, suatu keadaan yakin dan mendorong individu untuk membantu berdasarkan pemahaman perasaannya dalam bentuk aksi nyata.
Empati di Bulan Mulia
Empati berasal dari bahasa Yunani Kuno empatheia yang secara harfiah bermakna merasakan di dalam atau ikut merasakan perasaan orang lain. Dalam konteks sosiologi, empati diibaratkan berjalan di sepatu orang lain (role-taking), yaitu memahami latar belakang, perasaan, dan pemikiran orang lain dari sudut pandang mereka sendiri.
Dihubungkan dengan bulan suci ramadhan, empati dapat diukur misalnya saat seorang mukmin ikut merasakan lapar dahaga atau kesulitan yang dirasakan oleh saudaranya. Memahami disini bukan ujian fisik, melainkan sarana menumbuhkan kepedulian. Saat seorang mukmin berempati kepada saudaranya, semata-mata hanya ingin mengharapkan ridha Allah. Tanpa empati puasa seorang hamba hanya akan sia-sia, sebab sekedar ritual menahan lapar dahaga.
Berikut beberapa alasan mengapa memunculkan empati itu sangat krusial di bulan ramadhan. Pertama, menjadi jembatan ritual antara kewajiban dan sosial untuk mengumpulkan pahala. Kedua, empati menghilangkan keangkuhan seorang hamba untuk menundukkan hati (tawadhu) bahwa sebanyak apapun ibadah yang dilakukan bukan untuk dipamerkan.
Tanpa disadari empati menghilangkan sifat narsisme yang sejak internet menjadi kebutuhan primer, merupakan bagian identitas diri individu mencari kebahagiaan.
Ketiga, empati merubah pengetahuan menjadi kesadaran; tidak sekedar tahu tetapi seolah ikut merasakan penderitaan saudara yang sedang kemalangan. Empati adalah lem perekat (solidaritas), menciptakan kehidupan aman, damai dan saling memahami.
Ibnu Qayyim, salah satu ilmuwan, teolog, dan pakar hukum Islam paling berpengaruh abad ke-14, memberikan analisanya, bahwa empati adalah rahmat Allah kepada hambaNya yang berhati lembut. Semakin luas rahmat di hati seseorang, semakin besar pula kemampuannya merasakan penderitaan, kesulitan saudaranya. Rasulullah SAW bersabda sebagai pesan untuk melembutkan hati dalam kebaikan. "Jika kamu ingin melunakkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim", (HR. Ahmad).

