Menghargai Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

16 March 2024

1818
Pengajian Ramadan 1445 H

Pengajian Ramadan 1445 H

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Purifikasi bukan tekstualisasi. Jika purifikasi diartikan sebagai tekstualisasi, menunjukkan betapa sempit Islam memaknai kehidupan. Selain itu, purifikasi juga bukan upaya penghilangan budaya, jika ini yang terjadi, betapa tidak berbudayanya dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua PWM Jawa Tengah KH Tafsir dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (15/3). 

Masih banyak orang salah mengartikan purifikasi dalam dakwah Muhammadiyah. Purifikasi yang mereka pahami mengacu pada upaya untuk membersihkan ajaran Islam dari praktik-praktik yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang murni. Hal ini meliputi penolakan terhadap bid'ah dan upaya untuk kembali kepada ajaran Islam yang asli dan murni. 

Menurut Tafsir purifikasi adalah otentikasi dalam mencari Islam yang sejati, bukan justru menghilangkan budaya yang sudah ada. Hadirnya budaya dalam dakwah Muhammadiyah seharunya dapat dihargai atau bahkan diapresiasi sebagai produk yang memiliki nilai local wisdom dan kemanusiaan universal. Oleh sebab itu purifikasi harus dapat dimaknai secara luas dan penuh kebijaksanaan.  

“Orang Jawa gak bisa membuat tank, gak bisa membuat roket, yang bisa mereka buat adalah keris. Mari kita hargai itu agar Islam di Jawa berbudaya,” ujarnya. 

Syamsul Anwar mengatakan bahwa definisi agama ada dua. Pertama adalah apa yang disebut sebagai syariat. Berupa perintah, larangan, dan petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Kedua adalah pengalaman imaniah yang diekspresikan dalam amal salih yang dijiwai oleh Islam dan dibingkai oleh syariat. 

Menurutnya, agama sebagai pengalaman imaniah memiliki tiga unsur penting yaitu inti (substansi) sebagai din al-fitrah, kemudian bentuk (norma-norma syariat), dan yang terakhir manifestasi dalam wujud amal salih. 

Tak berhenti sampai di situ, manifestasi dalam wujud amal salih masih dapat dibedakan berdasarkan cakupannya. Mulai dari manifestasi dalam bentuk berpikir (manifestasi intelektual), manifestasi dalam bentuk perilaku (manifestasi aksional), dan manifestasi dalam tindak berekpresi (manifestasi ekspresional). 

“Jika kita lihat dari definisi tersebut sejatinya agama Islam tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan,” tegasnya. 

Sementara itu, dinamisasi dalam konteks Muhammadiyah merujuk pada upaya untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Ini bisa melibatkan adaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan budaya agar pesan Islam dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat pada masa kini. Kedua konsep ini purifikasi dan dinamisasi merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah untuk menjaga kesucian ajaran Islam sambil mengakomodasi dinamika perubahan zaman. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA) menggelar wisuda program ....

Suara Muhammadiyah

14 April 2026

Berita

KUKAR, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-112, Pimpinan Ranti....

Suara Muhammadiyah

23 December 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka mendukung pencapaian Sustainable Development Goals....

Suara Muhammadiyah

12 October 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) merupakan salah satu tahap pen....

Suara Muhammadiyah

31 May 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menorehkan presta....

Suara Muhammadiyah

22 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah