Menghidupkan Kembali Jantung Perjuangan Muhammadiyah di Cabang dan Ranting
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Masa depan persyarikatan bukan dilihat dari megahnya gedung-gedung amal usaha, melainkan harus dilihat dari pergerakan di cabang dan rantingnya. Sejatinya denyut kehidupan Muhammadiyah tidak berada di pusat pimpinan, bukan hanya di universitas besar, rumah sakit modern, atau gedung-gedung organisasi yang megah; tetapi hidup di ruang yang paling dekat dengan umat yaitu di cabang dan ranting. Di sana Muhammadiyah berinteraksi dengan masyarakat secara langsung, di sana ideologi bertemu realitas sosial, dan di sanalah dakwah menjadi hidup, membumi, dan bekerja diam-diam namun pasti.
Namun, kejujuran kadang diperlukan. Di banyak tempat, kita menyaksikan cabang dan ranting yang hidup segan, mati tak mau. Tak sedikit cabang dan ranting yang hanya eksis ketika musyawarah mulai dari musyawarah wilayah sampai ranting. Ada cabang dan ranting yang sekadar nama dalam struktur, tanpa aktivitas, tanpa denyut dakwah yang terasa.
Di saat yang sama, kita melihat wajah Muhammadiyah yang tampak perkasa di permukaan seperti amal usaha besar, jaringan pendidikan luas, kapasitas organisasi yang kuat, dan peran kebangsaan yang signifikan. Tetapi pertanyaannya ialah apakah kekuatan itu juga benar-benar mengalir sampai ke cabang dan ranting? Ataukah kita secara tidak sadar sedang membangun Muhammadiyah yang gemuk di atas, tetapi kurus di akar rumput?
Dalam sistem organisasi Muhammadiyah, cabang dan ranting bukan sekadar unit administratif. Cabang dan ranting adalah ruang sejarah, ruang dakwah, dan ruang ideologi. Ranting adalah Muhammadiyah pada tingkat paling kecil yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Sementara cabang menjadi penghubung antara gerakan akar rumput dengan dinamika struktural yang lebih besar. Dari sanalah lahir kader, dari sana tumbuh tokoh masyarakat, dan dari sana pula Muhammadiyah dikenali oleh publik bukan dari pidato besar, bukan dari forum nasional, tetapi dari kehadiran nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di masa lalu, cabang dan ranting adalah mercusuar dakwah. Di sana ada pengajian rutin yang tidak pernah putus, ada diskusi ideologis yang membangun kesadaran, ada kerja-kerja sosial yang langsung dirasakan masyarakat, ada keteladanan pimpinan yang dekat, ramah, dan mengakar. Banyak tokoh Muhammadiyah besar hari ini yang lahir dari ranting kecil yang hidup, yang membentuk mereka menjadi kader dengan ideologi kuat dan empati sosial yang tinggi. Itulah jantung perjuangan Muhammadiyah yaitu sederhana, tetapi menyala; kecil, tetapi berarti; mungkin tak viral, tetapi nyata.
Namun kini, tantangan berubah. Mobilitas warga Muhammadiyah semakin tinggi, gaya hidup masyarakat makin individualistis, ruang komunal keagamaan mengalami perubahan drastis, dan logika digital sering kali menggantikan keintiman silaturahmi fisik. Jika cabang dan ranting tidak berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan ini, maka ia akan ditinggalkan sebagai struktur formal tanpa roh.
Terdapat beberapa gejala yang sering kita temui di cabang dan ranting Muhammadiyah seperti pengajian yang sempat rutin mulai jarang, agenda kaderisasi berjalan sekadar formalitas, pimpinan sibuk administratif tapi miskin sentuhan ideologis dan sosial, serta minimnya regenerasi karena para senior organisasi enggan melibatkan anak muda. Di beberapa tempat, Muhammadiyah bahkan dikenal hanya karena sekolah atau rumah sakitnya, tanpa identitas dakwah yang kuat di tingkat masyarakat.
Kondisi bukan sekadar persoalan teknis organisasi, tetapi persoalan masa depan gerakan. Sebab jika cabang dan ranting melemah, maka beberapa hal akan terjadi. Pertama, Muhammadiyah akan kehilangan basis kaderisasi alami. Kedua, Muhammadiyah akan semakin elitis dan jauh dari rakyat. Ketiga, amal usaha bisa menjadi besar secara institusi tetapi kehilangan orientasi dakwahnya; dan Keempat, ideologi Islam berkemajuan bisa kehilangan pijakan sosialnya dan tinggal menjadi slogan. Karena itu, membicarakan penguatan cabang dan ranting bukan nostalgia romantik terhadap masa lalu, tetapi agenda serius untuk memastikan keberlanjutan gerakan dalam jangka panjang.
Pertanyaan selanjutnya ialah mengapa kita harus kembali menghidupkan cabang dan ranting. Pertama, karena di situlah Muhammadiyah benar-benar bersentuhan dengan umat. Di tingkat rantinglah orang-orang datang dengan masalah hidup mereka seperti kemiskinan, pendidikan anak, konflik sosial, persoalan kebangsaan, sampai kegelisahan spiritual. Jika Muhammadiyah hadir dengan solusi, bimbingan, dan keteladanan, maka Muhammadiyah akan tetap relevan dan dicintai. Tetapi jika Muhammadiyah hanya hadir sebagai papan nama, maka kedekatan emosional umat pun akan hilang.
Kedua, cabang dan ranting adalah arena kaderisasi paling ideal. Kader tidak lahir dari forum formal semata, tetapi dari proses panjang mulai dari bergaul dengan jamaah, terlibat dalam program sosial, merasakan langsung arti melayani, belajar memimpin di ruang yang nyata, hingga ditempa secara ideologis dalam situasi kehidupan sehari-hari. Tanpa cabang dan ranting yang hidup, kaderisasi akan semakin teoritis, kering, dan jauh dari realitas sosial.
Ketiga, cabang dan ranting adalah benteng ideologi Muhammadiyah. Di era digital yang penuh dengan arus wacana keagamaan seperti populisme religius, ekstremisme pemahaman, atau komersialisasi dakwah, ranting adalah ruang paling strategis untuk menjaga kemurnian sekaligus kelenturan pemikiran Muhammadiyah. Di sana Islam berkemajuan bisa diterjemahkan dalam praktik, bukan hanya konsep.
Tidak bisa dipungkiri, salah satu tantangan cabang dan ranting hari ini adalah perubahan cara manusia berinteraksi. Banyak hal yang dulu hanya bisa dilakukan dalam ruang fisik kini berpindah ke ruang digital. Anak muda membangun komunitas bukan lagi hanya melalui organisasi struktural, tetapi melalui minat yang sama seperti hobi, konten, gagasan, dan jejaring daring. Jika ranting dan cabang tidak mampu masuk ke ruang ini, mereka akan kehilangan generasi muda.
Di sisi lain, era digital juga menghadirkan peluang besar. Dakwah, advokasi sosial, pelayanan umat, dan penguatan ideologi bisa dilakukan lebih luas, lebih kreatif, dan lebih menarik. Cabang dan ranting bisa menjadi pusat literasi digital keagamaan, pusat dakwah cerdas, dan ruang alternatif bagi anak muda yang mencari identitas keagamaan yang rasional, inklusif, dan membumi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah cabang dan ranting harus masuk ruang digital, tetapi bagaimana masuk dengan strategi yang benar. Aksi ini bukan sekedar latah membuat akun media sosial tanpa ruh, tetapi menghidupkan dakwah digital yang berkarakter Muhammadiyah, cerdas, mencerahkan, dan membebaskan.
Apa yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali jantung perjuangan Muhammadiyah di cabang dan ranting? Pertama, mulai dari kesadaran pimpinan. Pimpinan cabang dan ranting perlu memiliki visi bahwa posisi mereka bukan sekadar pengelola administrasi organisasi, tetapi pemimpin dakwah dan sosial. Hal ini membutuhkan pemahaman ideologi yang kuat, kepekaan sosial, dan kemampuan membaca zaman. Menghidupkan ranting bukan sekadar memperbanyak rapat, tetapi menghidupkan interaksi, pelayanan, dan keteladanan.
Kedua, agenda dakwah sosial harus diperkuat. Ranting harus kembali menjadi ruang kebermanfaatan nyata seperti membantu warga miskin, menguatkan pendidikan keluarga, pendampingan anak-anak muda, advokasi kesehatan, hingga aktivitas kebencanaan jika diperlukan. Di sinilah filosofi “Sedikit bicara, banyak kerja” Muhammadiyah mendapatkan relevansinya. Semakin nyata kontribusi sosial ranting, semakin kuat posisinya di hati umat.
Ketiga, penguatan pengajian dan ideologi. Pengajian yang hidup bukan hanya yang ramai secara jumlah, tetapi yang relevan secara tema, mendalam secara pemikiran, dan menyentuh kehidupan jamaah. Ideologi Islam berkemajuan perlu diterjemahkan dalam bahasa yang mudah diterima masyarakat seperti rasional, moderat, toleran, tetapi tetap tegas dalam prinsip. Jika ideologi ini hidup di ranting, maka insyaallah masa depan Muhammadiyah terjaga.
Keempat, melibatkan secara serius generasi muda. Ranting harus menjadi ruang yang ramah bagi anak muda dengan cara memberikan mereka peran, percayakan tanggung jawab, buka ruang kreativitas, dan jangan takut pada ide-ide baru. Biarkan mereka berinovasi dalam dakwah, sosial, dan digital, tentu dengan fondasi nilai-nilai Muhammadiyah. Ketika anak muda merasa memiliki ruang bermakna, mereka akan datang bukan karena disuruh, tetapi karena merasa dibutuhkan.
Kelima, memperkuat budaya silaturahmi. Muhammadiyah sering dipersepsikan sebagai organisasi yang sangat rasional dan manajerial, tetapi jangan lupa bahwa kekuatan gerakan ini juga terletak pada kehangatan sosialnya. Ranting harus menjadi ruang berkumpul, saling mendukung, dan membangun persaudaraan. Dari kehangatan inilah lahir loyalitas, komitmen, dan daya tahan gerakan.
Jika cabang dan ranting hidup, Muhammadiyah bukan hanya akan kuat sebagai organisasi, tetapi juga sebagai gerakan peradaban. Dari ranting, lahir keluarga-keluarga muslim yang cerdas, sehat, berakhlak, dan peduli sesama. Dari ranting, lahir kader-kader yang siap mengisi ruang kebangsaan dengan integritas dan kompetensi. Dari ranting pula, Islam berkemajuan akan terus bertahan sebagai jalan tengah yang konstruktif di tengah ekstremisme, kebencian, dan komersialisasi agama.
Pada akhirnya, membangkitkan cabang dan ranting adalah pekerjaan panjang, tetapi mulia. Hal ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan komitmen ideologis. Muhammadiyah telah membuktikan sepanjang sejarah bahwa ia mampu menjawab tantangan zaman. Kini, tantangan terbesarnya mungkin bukan lagi tentang eksistensi organisasi di tingkat nasional, tetapi tentang memastikan denyut perjuangan itu tetap hidup di tingkat paling bawah. Jika cabang dan ranting kembali hidup, maka jantung perjuangan Muhammadiyah akan kembali berdetak kencang. Dan selama jantung itu berdetak, Muhammadiyah akan terus menjadi suluh, penuntun, dan penggerak perubahan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Agar gagasan ini tidak berhenti sebagai retorika, setidaknya ada beberapa langkah strategis yang dapat menjadi pegangan praktis. Pertama, perlu ada pemetaan kondisi cabang dan ranting secara jujur yaitu mana yang benar-benar hidup, mana yang mulai melemah, dan mana yang hampir mati. Dari sana, dapat dirancang langkah pembinaan yang lebih terarah.
Kedua, membangun program yang sederhana tetapi konsisten. Tidak semua ranting harus melakukan kegiatan besar; yang terpenting ialah keberlanjutan. Pengajian rutin yang relevan, pelayanan sosial kecil namun terasa manfaatnya, kegiatan anak muda yang kreatif, atau forum diskusi keluarga jika dilakukan terus-menerus akan menghidupkan suasana keagamaan dan sosial di tingkat akar rumput.
Ketiga, membangun kepemimpinan ranting yang memiliki integritas, keteladanan, dan kehangatan. Pemimpin ranting bukan hanya administrator, tetapi figur yang hadir, menyapa, dan membersamai warga. Di tangan pemimpin seperti inilah ranting tidak hanya berjalan secara struktural, tetapi hidup secara kultural.
Keempat, memperkuat jaringan kolaborasi. Cabang dan ranting tidak harus bekerja sendirian. Mereka bisa bermitra dengan AUM, pemerintah setempat, komunitas sosial, dan kelompok masyarakat lainnya, selama tetap dalam koridor nilai Muhammadiyah. Kolaborasi akan memperluas daya jangkau dan memperkuat pengaruh dakwah ranting di masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh hidup tidaknya cabang dan ranting. Jika ranting lemah, maka ideologi akan mengambang, kaderisasi akan kering, dan kedekatan Muhammadiyah dengan umat akan berjarak. Namun jika ranting kuat, maka seluruh bangunan besar Muhammadiyah akan mendapatkan pijakan sosial yang kokoh.
Menghidupkan kembali cabang dan ranting berarti menjaga agar jantung perjuangan Muhammadiyah terus berdetak. Di situlah Muhammadiyah menemukan kembali makna keberadaannya yaitu bukan hanya sebagai organisasi besar dengan reputasi nasional dan internasional, tetapi sebagai gerakan yang benar-benar hadir di tengah kehidupan umat, menyentuh, menguatkan, dan memberdayakan. Selama jantung itu berdetak, selama itu pula Muhammadiyah akan terus menjadi cahaya yang mencerahkan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

