Mengurai Paradoks Angka dan Urutan Penciptaan Semesta dalam Al-Qur'an

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
62
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

6 atau 8 Hari? Mengurai Paradoks Angka dan Urutan Penciptaan Semesta dalam Al-Qur'an

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Bagi siapa saja yang mendalami kitab suci, narasi tentang bagaimana alam semesta ini bermula selalu menjadi topik yang menarik sekaligus memicu diskusi panjang. Salah satu diskusi yang kerap muncul di ruang publik adalah sebuah pertanyaan kritis: Apakah Al-Qur'an keliru dalam menghitung durasi penciptaan kosmos? Ada sebuah kegelisahan yang sering membingungkan banyak orang. Di satu sisi, mayoritas ayat Al-Qur'an menegaskan bahwa langit dan bumi diciptakan dalam waktu enam hari. Namun, ketika membaca Surah Fussilat (Surah ke-41) ayat 9 hingga 12, kalkulasi matematika sederhana kita seolah-olah dipaksa melihat angka delapan, bukan enam.

Untuk mengurai benang kusut yang sering disalahpahami ini, artikel ini hadir memberikan analisis mendalam. Melalui pendekatan kebahasaan, konteks tekstual, dan keselarasan dengan sains modern, tulisan ini membedah ayat demi ayat untuk meluruskan kekeliruan pembacaan yang selama ini terjadi.

Mari kita mulai dengan membedah Surah Fussilat ayat 9. Di awal ayat tersebut, Allah SWT menggugah kesadaran manusia dan mempertanyakan mengapa masih ada yang ingkar kepada Zat yang telah menciptakan bumi dalam dua masa. Dalam teks asli berbahasa Arab, kata yang digunakan adalah yawmain, bentuk ganda dari kata yawm yang secara harfiah sering diterjemahkan sebagai "hari". Namun, di sinilah letak jebakan bahasanya.

Penerjemah Al-Qur'an terkemuka seperti Muhammad Asad memilih kata "eon" atau "masa/periode yang panjang" ketimbang kata "hari" dalam arti 24 jam. Pilihan kata ini bukanlah tanpa dasar. Dalam struktur bahasa Arab, kata yawm memiliki fleksibilitas makna yang sangat luas tergantung pada konteksnya. Kata ini bisa merujuk pada rentang waktu yang sangat masif dan tak ditentukan.

Argumentasi ini diperkuat oleh fakta internal dari Al-Qur'an itu sendiri. Kitab suci ini berulang kali menggunakan kata yawm untuk menggambarkan garis waktu yang sangat panjang di luar dimensi manusia. Sebagai contoh, Hari Kiamat digambarkan memiliki durasi setara dengan 50.000 tahun menurut hitungan manusia bumi. Begitu pula dengan proses naiknya amal ibadah ke langit atau kehidupan di akhirat kelak, yang digambarkan satu harinya setara dengan seribu atau puluhan ribu tahun eksistensi kita. Konsep ini senada dengan apa yang ditulis oleh Dr. Maurice Bucaille dalam adikaryanya yang monumental, The Bible, The Quran and Science. Dengan demikian, "dua hari" yang dimaksud dalam penciptaan bumi awal bukanlah dua kali 24 jam, melainkan dua tahapan atau kosmis kosmik yang sangat panjang.

Kesalahpahaman mengenai total angka delapan hari muncul ketika pembaca melompat ke ayat berikutnya. Pada ayat ke-10, dinyatakan bahwa Allah menentukan kadar makanan dan sumber daya di bumi dalam waktu empat hari. Di sinilah logika matematika awam mulai keliru: mereka menambahkan dua hari dari ayat pertama dengan empat hari dari ayat kedua, sehingga menghasilkan angka enam hari hanya untuk urusan bumi. Kemudian, ketika ayat ke-12 menyebutkan bahwa penciptaan langit membutuhkan waktu dua hari lagi, mereka menjumlahkannya begitu saja: 6 + 2 = 8 hari.

Para ahli tafsir klasik sejak berabad-abad lalu telah memecahkan teka-teki ini dengan sangat cerdas. Kuncinya ada pada gaya bahasa Al-Qur'an yang ringkas, padat (terse), dan menuntut pembacanya untuk menggunakan logika berpikir yang utuh. Al-Qur'an tidak selalu mendiktekan setiap detail yang secara alamiah bisa disimpulkan oleh akal manusia.

Dalam konteks Surah Fussilat, angka empat hari pada ayat ke-10 bukanlah sebuah durasi baru yang berdiri sendiri, melainkan sebuah total kumulatif. Bayangkan seorang kontraktor bangunan yang berkata, "Saya membangun fondasi rumah ini dalam waktu 2 bulan, dan menyelesaikan seluruh struktur rumah hingga siap huni dalam waktu 4 bulan." Tentu kita tidak akan menyimpulkan bahwa total waktu pengerjaan rumah tersebut adalah 6 bulan. Angka 4 bulan sudah mencakup 2 bulan pertama pengerjaan fondasi.

Logika serupa berlaku di sini. Dua masa pertama digunakan untuk menciptakan bumi mentah, dan dua masa berikutnya digunakan untuk melengkapinya dengan gunung, berkah, dan sumber daya, sehingga total proses bumi memakan waktu empat masa secara kumulatif. Ketika ditambahkan dengan dua masa penciptaan langit pada ayat ke-12, maka total keseluruhannya adalah tepat enam masa. Angka ini selaras tanpa cacat dengan tujuh ayat lain di dalam Al-Qur'an—seperti dalam Surah Al-A'raf, Hud, hingga Qaf—yang secara eksplisit menegaskan bahwa jagat raya diciptakan dalam enam masa. Ada sebuah fakta menarik dari riset peneliti Halim Sayoud, yang menggarisbawahi keunikan numerik ini: frasa "penciptaan dalam enam hari" diulang tepat sebanyak tujuh kali di sepanjang Al-Qur'an.

Setelah teka-teki matematika terpecahkan, lalu kta perlu bergerak ke arah yang lebih menantang secara ilmiah: Mengapa Al-Qur'an menyebutkan bumi diciptakan terlebih dahulu, baru kemudian beralih ke langit? Jika dibaca secara tekstual biasa, urutan ini seolah menentang teori kosmologi modern yang menyatakan bahwa bumi adalah bagian kecil dari sistem tata surya yang terbentuk jauh setelah elemen-elemen langit lainnya eksis.

Menjawab tantangan ini, kita perlu merujuk pada analisis linguistik mendalam yang pernah dipaparkan oleh Dr. Maurice Bucaille. Fokus utamanya terletak pada penggunaan kata sambung thumma dalam ayat tersebut, yang dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai "kemudian".

Bucaille membuktikan bahwa dalam tata bahasa Arab, kata thumma tidak melulu berfungsi sebagai penunjuk urutan waktu kronologis (seperti kata fa yang berarti "lalu setelah itu"). Sering kali, thumma berfungsi sebagai kata sambung yang berarti "selain itu", "lagi pula", atau "di samping itu". Kata ini digunakan ketika seorang pembicara ingin mengalihkan fokus pembicaraan ke topik penting lainnya tanpa bermaksud menyusun urutan kejadian berdasarkan waktu. Jadi, ketika Al-Qur'an menceritakan penciptaan bumi lalu menggunakan kata thumma untuk menceritakan kondisi langit yang masih berupa asap, maknanya adalah: "Di samping penciptaan bumi yang luar biasa itu, ketahuilah bahwa Allah juga mengarahkan kehendak-Nya pada penciptaan langit."

Jika kita meneliti lebih dekat pada puncak rangkaian ayat ini—khususnya pada ayat ke-11—terdapat sebuah gambaran kosmik yang luar biasa memukau. Allah SWT berfirman kepada langit yang saat itu masih berupa asap (dukhan) dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa." Keduanya pun menjawab, "Kami datang dengan patuh."

Dialog kosmik ini mengindikasikan sebuah peristiwa yang terjadi secara simultan atau bersamaan, bukan berurutan. Ketika langit masih berupa gas/asap kosmik, material bumi pun berada di sana, terkandung dalam satu kesatuan entitas yang sama. Perintah Allah untuk "wujud dan datang" berlaku bagi keduanya pada saat yang sama.

Secara mengejutkan, narasi ini membawa ingatan kita pada teori kosmologi modern yang paling diterima saat ini: Teori Big Bang. Sains modern menyatakan bahwa seluruh alam semesta—termasuk ruang, waktu, dan segala materi yang kelak membentuk bintang, galaksi, hingga planet bumi—awalnya terkompresi dalam satu titik singularitas yang tak terhingga nilainya, sebelum akhirnya meledak dan mengembang bersama-sama.

Melalui penjelasan yang runtut dan elegan ini, kita sudah membongkar dua kesalahpahaman besar sekaligus. Pertama, mitos mengenai "delapan hari penciptaan" runtuh ketika kita memahami hukum akumulasi angka dalam gaya bahasa Arab klasik. Kedua, klaim bahwa Al-Qur'an bertentangan dengan sains karena mendahulukan bumi daripada langit terpatahkan setelah kita memahami fleksibilitas makna kata sambung thumma.

Pada akhirnya, Al-Qur'an terbukti tidak menampilkan kontradiksi matematika maupun kekeliruan ilmiah. Sebaliknya, keterbatasan pemahaman manusialah yang sering kali memenjarakan teks-teks suci yang kaya ini dalam penafsiran yang sempit. Ketika dibaca dengan kacamata ilmu bahasa yang tepat dan kelapangan berpikir, ayat-ayat ini justru memancarkan keharmonisan yang indah antara keimanan, logika, dan realitas alam semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bahagia Menyambut Ramadhan Penulis: Dr. Amalia Irfani, M.Si, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Dosen IAIN P....

Suara Muhammadiyah

14 February 2026

Wawasan

Bani Israil dan Tanah yang Dijanjikan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas A....

Suara Muhammadiyah

1 January 2024

Wawasan

Gaji Bangkai: Ketika Bekerja Dicampuri Ghibah Oleh: Deri Adlis, SHI, Mubhaligh Muhammadiyah Kepulau....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Wawasan

Generasi Muda, Sosial Media, dan Ancaman Penurunan Daya Pikir  Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Wawasan

Al-Qur`an Bukanlah Kitab Kekerasan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Anda....

Suara Muhammadiyah

15 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah