Meninggalkan Rumah untuk Menggapai Cita-Cita
Oleh: Hendra Apriyadi
Baru saja kemarin aku pulang ke rumah, menikmati kebersamaan yang begitu singkat bersama keluarga tercinta. Namun pagi itu, aku harus kembali berangkat ke Jakarta. Ada sebuah amanah besar yang masih harus kuselesaikan, yaitu menuntaskan studi program doktor yang telah lama kuperjuangkan.
Sebelum berangkat, aku berpesan kepada anak-anakku, “Papa harus menyelesaikan ini, Nak. Doakan agar semuanya berjalan lancar.”
Anak-anakku kini sedang tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat. Sang kakak sebentar lagi akan memasuki jenjang Sekolah Dasar, sementara sang adik akan memulai pengalaman barunya di Kelompok Bermain (KB). Melihat mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan ceria menjadi sumber semangat terbesar dalam setiap langkah perjuanganku.
“Papa pergi lagi? Kapan Papa pulang, Mah?” tanya sang adik dengan polos kepada ibunya. Pertanyaan sederhana itu selalu mengandung kerinduan yang begitu dalam.
Pada suatu pagi di hari Rabu, istriku mengirimkan pesan singkat. Ia mengabarkan bahwa semalam sang adik sulit tidur karena menunggu kepulangan Papa. Membaca pesan itu, hatiku terasa hangat sekaligus haru. Jarak memang memisahkan, tetapi cinta dan doa selalu menghubungkan kami.
Aku pun membalas, “Papa belum tahu kapan pulang. Papa masih berusaha menyelesaikan tugas ini. Insyaallah tidak lama lagi. Kata profesor, berkas untuk menuju ujian kelayakan segera ditandatangani.”
Kalimat itu menjadi penyemangat bagiku. Meski terkadang informasi yang datang membuat hati tenang, ada kalanya juga menimbulkan kecemasan. Sebagai mahasiswa doktoral, aku belajar bahwa setiap proses membutuhkan kesabaran. Tidak semua hal dapat berjalan sesuai harapan dan waktu yang kita inginkan.
Namun di tengah berbagai ketidakpastian itu, aku memilih untuk tetap optimis. Aku percaya bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya. Kerinduan kepada keluarga, doa dari istri, serta senyum anak-anak menjadi energi yang tidak pernah habis untuk menguatkanku.
Aku sadar bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang meraih gelar doktor. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah pelajaran tentang ketekunan, pengorbanan, dan tanggung jawab. Aku ingin anak-anakku kelak memahami bahwa cita-cita yang besar membutuhkan perjuangan yang besar pula.
Meninggalkan rumah memang tidak mudah. Namun setiap langkah yang kuambil adalah bagian dari ikhtiar untuk memberikan teladan bahwa mimpi harus diperjuangkan hingga tuntas. Dan ketika hari itu tiba, saat semua proses telah selesai, aku ingin pulang membawa kabar terbaik: bahwa perjuangan ini akhirnya membuahkan hasil, dan semua pengorbanan tidaklah sia-sia.
Jakarta 04 Juli 2026.
Cerita Pendek ini bagian dari syiar semangat Menuntut ilmu.
Penulis Dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Uhamka

