Menjaga Keistikamahan dengan Berzikir

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Menjaga Keistikamahan dengan Berzikir

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Untuk menjaga keistikamahan, banyak cara yang perlu kita tempuh. Satu di antara cara-cara itu adalah berdoa. Cara ini telah diuraikan di dalam “Menjaga Keistikamahan dengan Berdoa” yang dipublikasi di Suara Muhammadiyah online, 1 November 2026. 

Selain dengan berdoa, menjaga keistikamahan dapat juga kita lakukan dengan berzikir. Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berzikir adalah menghadirkan hati untuk mengingat dan taat kepada Allah yang kemudian disusul dengan ucapan atau perbuatan dalam berbagai keadaan ketika shalat, berpuasa, menunaikan zakat, mengerjakan haji, menghadapi yang halal dan yang haram, berjual beli, dan dalam berbagai hal yang lain. 

Dari pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa orang yang berzikir semestinya sadar akan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sangat ironis jika ada orang yang rajin berzikir sampai-sampai di mana pun, bagaimana pun, dan kapan pun berzikir—bahkan, tasbih pun selalu dibawa, kecuali di tempat terlarang—, tetapi sering berbohong, berkhianat, dan mengingkari janji. Jika rajin berzikir, tetapi mempunyai sifat-sifat munafik seperti itu, berarti zikirnya hanya di bibir. 

Jika berzikir secara berjamaah dengan suara keras dan sampai ada yang menangis terisak-isak, bahkan histeris, boleh jadi ritual itu—sebagaimana pernah disebut oleh Ustaz Yunahar Ilyas ketika memberikan pengajian di Universitas Muhammadiyah Purworejo—menjadi seperti pertunjukan.

Perintah Berzikir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an misalnya surat al-Baqarah (2):152

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ

“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

Di samping itu, perintah berzikir terdapat pula di dalam surat al-Ahzab (33):41-42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Sementara itu, dapat kita ketahui perintah Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita berzikir, antara lain, di dalam HR at-Tirmizi berikut ini.

عن عبدالله بن بسر لما قال: يا رسول الله، علمني بابًا أتشبث به؛ فإنَّ شرائع الإسلام قد كثرت عليَّ، قال: لا يزال لسانك رطبًا من ذكر الله

“Abdullah Bin Busr meriwayatkan bahwa salah satu sahabat Nabi berkata, Ya Rasulullah. Saya kewalahan dengan begitu banyak ajaran Islam. Jadi, beri tahu saya sesuatu yang mungkin saya pegang teguh.” Nabi menjawab, “Jaga lidahmu tetap basah dengan mengingat Allah.” 

Keutamaan Zikir

Banyak keutamaan berzikir. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

Diingat oleh Allah

Subhanahu wa Ta’ala

Dari surat al-Baqarah (2):152 dapat kita ketahui bahwa jika kita berzikir, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingat kita. Mari kita pahami baik-baik! Diingat oleh sesama manusia karena kita berbuat kebaikan, kita senang apalagi diingat oleh Allah Subhanahu waTa’ala. 

Orang yang diingat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena berzikir, pasti memperoleh pertolongan. Bahkan, atas kasih sayang-Nya, dia dapat memperoleh pertolongan sebelum masalah terjadi. Dengan kata lain, dia memperoleh solusi sebelum masalah terjadi.

Dalam keadaan bagaimana pun dia istikamah karena memperoleh perlindungan. Ketika miskin harta, hatinya dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga tetap tenang. Ketika mempunyai harta melimpah, dia tidak pongah karena hatinya dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia sadar bahwa pada hartanya ada hak kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan lain-lain. Dengan kata lain, diuji dengan berbagai keadaan pun, dia tetap sabar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga keistikamahannya sebagai balasan atas zikirnya.

beruntung

 Di dalam surat Jumuat (62):10 dijelaskan.

 فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila shalat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Sebagian tanda orang beruntung dalam hubungannya dengan berzikir adalah sebagai berikut.

tenteram

Di dalam surat ar-Ra’d [13]:28 dijelaskan,

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” 

Ketenteraman yang diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.adalah ketenteraman yang sebenarnya. Setiap muslim.pasti mendambakannya.

diampuni

Dijelaskan di dalam HR al-Bukhari dan Muslim,

. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: من قال حين يصبح: سبحان الله وبحمده مائة مرة، غفرت ذنوبه وإن كانت أكثر من زبد البحر 

“Abu Hurairah juga melaporkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa berzikir, 'Subhan-Allahi wa bihamdih' seratus kali ketika pagi, dosa-dosanya akan dilenyapkan, bahkan, jika mereka sama dengan luasnya buih di laut.” 

Dosa menjadi perintang terkabulnya doa. Berdasarkan hadis tersebut, kita ketahui bahwa dengan zikir tersebut, kita memperoleh ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, peluang terkabulnya doa sangat besar. 

diakui sebagai orang hidup

Di dalam HR al-Bukhari dan Muslim dijelaskan,

مَثَلُ الّذِيْ يَذكُرُ رَبَّهُ وَالّذِيْ لَا يَذكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan antara orang yang zikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati.” 

Di dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa orang yang berzikir adalah orang hidup, sedangkan orang yang tidak berzikir adalah orang mati. Berdasarkan hadis tersebut, tanda orang hidup adalah berzikir. 

Contoh Zikir

Kalimat zikir yang paling utama (afdal) dijelaskan di dalam hadis berikut ini.

أَفْضَلُ الْكَلاَمِ بَعْدَ الْقُرْآنِ أَرْبَعٌ وَهُنَّ مِنَ الْقُرْآنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ اللهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Pembicaraan yang paling utama sesudah Al-Qur’an ada empat, dan keempatnya berasal dari Al-Qur’an; subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.” (al-Musnad, 5:20)

Zikir yang bisa dibaca pada dua waktu, yakni pagi dan sore, di antaranya adalah zikir sayyidul istighfar,

 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya, tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau).” (HR al-Bukhari)

Cara Berzikir

Zikir yang dilakukan sesuai dengan sunnah mempunyai keutamaan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika zikir tidak mendatangkan keutamaan, pasti ada yang salah. Kesalahan itu dapat disebabkan oleh pelanggaran atas ketentuan yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada di antara muslim yang berzikir dengan gerak-gerakan yang tidak ada tuntunannya. Ada juga di antara muslim yang mengubah lafal kalimat zikir “La ilaaha illallah” sesuai dengan seleranya. Alasan mereka adalah cara itu dapat menghadirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hatinya. 

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyan memberikan.pedoman. berzikir sebagai berikut:

1. dilakukan dengan khusyuk.dan rasa takut

2. dilakukan dengan suara halus, tidak kedengaran orang lain, tidak dengan berteriak-teriak, menangis dengan histeris, menggeleng-gelengkan kepala dan sebagainya sehingga tidak mengganggu orqng lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mendengar dan Maha Dekat

3. dilakukan dengan ikhlas, bukan karena untuk mencari popularitas, keduniaan dan sebagainya yang melanggar ketentuan Al-Qur'an dan.as-Sunnah

Kiranya perlu ada penekanan kembali tentang aktivitas zikir. Telah dikemukakan bahwa berzikir adalah menghadirkan hati untuk mengingat dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, zikir harus dilakukan untuk mengingat dan taat kepada-Nya. Jika ada muslim rajin berzikir, tetapi tidak menyebabkan taat kepada-Nya, dampaknya adalah godaan dan tantangan sekecil apa pun mampu menggoyahkan keistikamahan.

Na’uzubillah!