Mens Rea, Komedi, dan Batas Kritik di Ruang Publik
Oleh: Syahnanto Noerdin, Ketua Bidang Kerjasama dan hubungan Antar Lembaga Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI Pusat) 2021-2026 dan Alumni Mikom Fisip UMJ
Tayangan stand-up comedy special Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono di Netflix bukan sekadar produk hiburan. Ia telah menjelma menjadi peristiwa komunikasi publik yang memantik kontroversi, perdebatan hukum, hingga respons organisasi masyarakat. Viralitas Mens Rea menunjukkan bahwa komedi, ketika bersinggungan dengan politik dan kekuasaan, tidak pernah berdiri di ruang hampa nilai.
Judul Mens Rea—istilah hukum yang berarti niat jahat atau niat melakukan perbuatan pidana—secara simbolik menandai arah kritik yang hendak disampaikan Pandji. Komedi tidak lagi sekadar soal tawa, melainkan sarana membaca relasi antara kekuasaan, kebijakan publik, dan respons masyarakat. Dalam konteks ini, Mens Rea layak dikaji sebagai teks kritik sosial yang bekerja melalui humor.
Komedi sebagai Medium Kritik Politik
Secara tradisi, komedi memiliki fungsi sosial sebagai safety valve—katup pelepas ketegangan sosial. Dalam Mens Rea, Pandji memosisikan dirinya bukan hanya sebagai komedian, tetapi sebagai narator realitas sosial. Ia mengangkat isu politik, kebijakan negara, hingga perilaku elite dengan gaya satire dan ironi.
Pada era Orde Baru, grup lawak seperti Warkop DKI menggunakan satire untuk mengkritik birokrasi dan kesenjangan sosial karena saluran politik formal tersumbat. Keberhasilan komedi politik dalam membuka ruang diskusi terlihat pada tingginya minat publik. Sebagai contoh, tren Stand Up Comedy di Indonesia (yang dipelopori Pandji dkk. sejak 2011) seringkali menempatkan bit-bit politik sebagai konten dengan engagement tertinggi di media sosial, membuktikan bahwa komedi adalah jembatan efektif bagi generasi muda untuk memahami isu negara.
Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan stand-up comedy modern yang cenderung reflektif dan politis. Komedi tidak lagi netral; ia memihak pada perspektif tertentu. Di titik ini, Mens Rea berhasil membuka ruang diskusi publik, terutama bagi generasi muda, tentang relasi kuasa dan kritik terhadap negara. Namun, keberpihakan inilah yang sekaligus menjadi sumber persoalan.
Antara Kritik dan Kontroversi
Respons publik terhadap Mens Rea terbelah. Sebagian menilai tayangan ini sebagai bentuk keberanian dalam menyuarakan kritik di tengah iklim demokrasi yang dianggap semakin sensitif terhadap perbedaan pendapat. Pandji dipuji karena berani menggunakan panggung global seperti Netflix untuk menyampaikan keresahan warga negara.
Di sisi lain, kritik muncul karena beberapa materi dianggap melampaui batas etika komedi. Ketika humor menyentuh aspek personal, fisik, atau identitas figur tertentu, publik mempertanyakan: apakah ini masih kritik sosial, atau telah bergeser menjadi serangan personal?
Di sinilah dilema komedi politik muncul. Kritik yang tajam memang efektif menggugah kesadaran, tetapi tanpa kepekaan etis, ia berpotensi melukai dan memicu polarisasi. Komedi yang awalnya dimaksudkan sebagai refleksi justru dapat dipersepsikan sebagai provokasi.
Dimensi Hukum dan Kebebasan Berekspresi
Kontroversi Mens Rea kemudian memasuki ranah hukum dengan adanya laporan dari sejumlah kelompok masyarakat. Peristiwa ini menegaskan bahwa karya komedi tidak kebal dari tafsir hukum, terutama ketika bersinggungan dengan isu penghinaan, ujaran kebencian, atau pencemaran nama baik.
Namun, penting dicatat bahwa dalam negara demokrasi, kebebasan berekspresi adalah pilar utama, termasuk ekspresi melalui seni dan komedi. Hukum seharusnya menjadi alat terakhir (ultimum remedium), bukan instrumen untuk membungkam kritik.
Persoalan Mens Rea sejatinya bukan semata soal bisa atau tidaknya dipidana, melainkan tentang literasi publik dalam membedakan kritik, satire, dan serangan personal. Tanpa kedewasaan demokrasi, ruang kritik akan terus menyempit, dan komedi kehilangan fungsi sosialnya.
Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga pemantau kebebasan berekspresi, penggunaan UU ITE seringkali menjadi ancaman bagi para kritikus di ruang digital. Dalam konteks komedi, hal ini menciptakan chilling effect (efek gentar) di mana komedian merasa takut untuk menyentuh isu sensitif.
Sebelum kontroversi Mens Rea, terdapat kasus komedian lain (seperti Bintang Emon atau komika di daerah) yang sempat mengalami perundungan digital atau ancaman pelaporan setelah melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah atau perilaku oknum aparat. Ini mendukung argumen penulis bahwa hukum seharusnya menjadi ultimum remedium (alat terakhir).
Netflix dan Ruang Budaya Global
Rendahnya literasi digital seringkali membuat masyarakat sulit membedakan gaya bahasa satire (yang menggunakan ironi untuk mengkritik) dengan fitnah. Penggunaan platform global seperti Netflix memang membawa standar global, namun ia berbenturan dengan kenyataan bahwa tidak semua penonton memiliki frekuensi yang sama dalam mencerna komedi yang bersifat edgy atau provokatif.
Sebagai platform global, Netflix menghadirkan tantangan tersendiri. Konten lokal dengan muatan sosial-politik kini dikonsumsi dalam ruang budaya yang lebih luas. Standar etika, norma, dan sensitivitas tidak lagi tunggal. Apa yang dianggap wajar sebagai satire oleh satu kelompok, bisa dipandang ofensif oleh kelompok lain.
Karena itu, Mens Rea juga mencerminkan benturan antara ekspresi individual, norma lokal, dan logika platform global. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama—bukan hanya bagi komedian, tetapi juga penonton, regulator, dan masyarakat sipil.
Mens Rea menegaskan satu hal: komedi adalah kekuatan sosial yang serius. Ia mampu membuka kesadaran, tetapi juga memicu konflik. Karya ini berhasil memancing diskursus publik tentang politik, hukum, dan kebebasan berekspresi—sesuatu yang justru dibutuhkan dalam demokrasi.
Namun, kritik yang efektif bukan hanya soal keberanian, melainkan juga tanggung jawab. Komedi politik idealnya tidak berhenti pada keberpihakan, tetapi juga mengajak publik berpikir, bukan sekadar memilih kubu.
Pada akhirnya, Mens Rea bukan sekadar tontonan viral. Ia adalah cermin tentang sejauh mana bangsa ini siap berdialog secara dewasa di tengah perbedaan pandangan—dengan tawa, tetapi juga dengan nalar.
Karya Mens Rea adalah cermin bagi kualitas demokrasi kita hari ini. Keberanian untuk mengkritik harus dibarengi dengan tanggung jawab etis, namun di sisi lain, kedewasaan masyarakat dalam menerima kritik melalui tawa adalah indikator kesehatan sebuah bangsa. Tanpa perlindungan terhadap ekspresi kreatif, ruang publik akan menyempit dan kita akan kehilangan salah satu cara paling jujur dalam membaca realitas sosial kita sendiri. (***)

