Menyuarakan Perjalanan Spiritual di Tengah Masyarakat Multikultural

Publish

17 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
140
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

Di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Katolik, Masjid Nurul Asfar di Minggir, Sleman, Yogyakarta, hadir sebagai simbol keberagaman dan toleransi. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini kini menjadi rumah bagi para mualaf sekaligus tempat menyimpan sejarah perjalanan spiritual mereka. Museum ini tidak hanya mendokumentasikan perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya saling pengertian dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Kisah Masjid Nurul Asfar bermula dari pengajian kecil yang diadakan di sisi utara masjid lama. Pengajian ini awalnya hanya diikuti oleh sedikit orang, namun seiring waktu, semakin banyak yang tertarik memeluk Islam dan bergabung untuk memperdalam ilmu agama. Pada tahun 2025, tercatat 54 mualaf yang berpartisipasi dalam pengajian dan berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Melihat perkembangan yang pesat, kebutuhan akan ruang yang lebih besar pun muncul. Untuk itu, masjid baru dibangun di atas tanah wakaf yang diberikan oleh keluarga Joyo Sumarto.

Masjid baru ini digunakan untuk tempat ibadah, sementara masjid lama dialihfungsikan menjadi museum mualaf. Pada tahun 2023, museum ini diresmikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sebagai sarana untuk mendokumentasikan perjalanan hidup dan proses syahadat para mualaf, serta menjadi tempat edukasi bagi masyarakat luas.

Museum Mualaf: Lebih dari Sekadar Tempat Penyimpanan Sejarah

Museum Mualaf Masjid Nurul Asfar bukanlah sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan sebuah catatan hidup yang terus berkembang. Setiap koleksi di dalamnya menceritakan kisah perjalanan spiritual individu yang memutuskan untuk memeluk agama Islam. Salah satu cerita yang paling menginspirasi adalah kisah Rafael, seorang mualaf asal California, Amerika Serikat.

Sebelumnya, Rafael memiliki pandangan negatif terhadap Islam, namun setelah membaca berbagai buku dan mendalami ajaran Islam, ia akhirnya menemukan kedamaian dalam agama ini. Tiga tahun setelah merenung, Rafael datang ke Indonesia, bertemu dengan seorang ustaz yang fasih berbahasa Inggris, dan mengucapkan syahadat.

Cerita-cerita seperti ini tidak hanya menjadi bagian dari koleksi museum, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang. Setiap kisah mengingatkan kita bahwa perjalanan spiritual itu penuh makna dan bisa membawa perubahan yang positif dalam hidup seseorang.

Museum ini terus berkembang, dengan penambahan koleksi cerita-cerita dan dokumentasi perjalanan mualaf yang datang ke masjid. Keberadaannya juga menjadi jembatan antara umat Islam dan masyarakat non-Muslim, membuka ruang untuk saling pengertian dan mendorong toleransi antar agama.

Masjid Nurul Asfar dan museum mualafnya adalah bukti nyata bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Meskipun berada di tengah masyarakat yang mayoritas beragama non-Muslim, museum ini menunjukkan bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk membangun kerukunan. Sebaliknya, keberagaman ini menjadi sarana untuk saling belajar dan menghormati, serta memperkuat ikatan sosial antarumat beragama.

Museum ini juga menjadi kebanggaan bagi PCM Minggir, yang berhasil meraih juara dua tingkat nasional dalam lomba Muhammadiyah. Prestasi ini membuktikan bahwa meskipun berada di tengah masyarakat yang multikultural, Masjid Nurul Asfar dan museum mualafnya dapat memberikan kontribusi positif dalam mempererat hubungan antar umat beragama dan mendorong terciptanya kerukunan dalam keberagaman.

Tantangan dalam Pengelolaan Museum Mualaf

Pengelolaan museum mualaf ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah masalah pendanaan. Pengelolaan museum yang memerlukan dokumentasi yang akurat serta perawatan koleksi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saat ini, museum ini masih bergantung pada dana mandiri yang diperoleh dari sumbangan masyarakat.

Namun, baru-baru ini, BPD Syariah UMY memberikan bantuan sebesar 20 juta rupiah untuk membeli souvenir dan barang-barang lainnya yang mendukung operasional museum, seperti sarung, mukena, gelas, dan bingkai foto.

Selain itu, pengelolaan museum juga dihadapkan pada tantangan dalam menjaga kerukunan dengan masyarakat sekitar yang mayoritas non-Muslim. Walaupun hubungan antar umat beragama kini semakin baik, di masa lalu pengelolaan museum sempat mendapat pengawasan ketat dari pihak tertentu yang meragukan kegiatan pengajian yang diselenggarakan.

Salah satu pengalaman yang pernah terjadi adalah ketegangan dengan seorang mantan anggota angkatan laut yang sempat berkonflik dengan pengelola museum karena menganggap kegiatan pengajian tersebut bertentangan dengan keyakinannya.

Namun, dengan pendekatan yang bijaksana dan komunikasi yang terbuka dengan masyarakat sekitar, pengelola museum berhasil mengatasi tantangan tersebut. Kini, hubungan yang lebih harmonis dapat tercipta, dan museum ini semakin diterima sebagai tempat yang memberikan manfaat positif bagi semua kalangan.

Museum Mualaf Masjid Nurul Asfar menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun pemahaman dan toleransi antar umat beragama. Di tengah masyarakat yang mayoritas non-Muslim, museum ini menjadi ruang untuk memperkenalkan perjalanan spiritual para mualaf, serta mengajak masyarakat untuk melihat Islam dari perspektif yang lebih terbuka.

Dengan segala tantangan yang dihadapi, museum ini terus berkembang dan menjadi sarana edukasi serta simbol toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Keberadaannya membuktikan bahwa meskipun kita memiliki perbedaan agama, kita tetap dapat saling belajar, memahami, dan menghargai satu sama lain, demi terciptanya kehidupan yang lebih harmonis dan penuh toleransi. (Tim KKN MH19 UMY 2025)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerpen Diko Ahmad Riza Primadi Titik dan detik paling aman dunia adalah ketika matahari terbenam. S....

Suara Muhammadiyah

22 July 2023

Humaniora

Ustad Hima, sebutan akrab yang melekat pada pria kelahiran 1 November 1967 ini. Dia bukan seorang us....

Suara Muhammadiyah

26 October 2023

Humaniora

Transformasi Muhammadiyah (Selarik Catatan Perjalanan) Oleh: Herman Oesman, Dosen Sosiologi S1 dan ....

Suara Muhammadiyah

15 December 2024

Humaniora

Terinspirasi dari 3 buku babon yang mengulas pendidikan anak usia dini, mulai dari buku Totto Chan: ....

Suara Muhammadiyah

1 October 2024

Humaniora

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah  Suara jejarum hujan yang membentur atap seng teras tak dapat men....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah