Mewujudkan IPM Sebagai Gerakan Pelajar Progresif

Publish

8 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
135
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Mewujudkan IPM Sebagai Gerakan Pelajar Progresif

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Muktamar XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) secara resmi dibuka pada Jumat, 6 Februari 2026. Di banyak sekolah Muhammadiyah, nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sering kali terdengar akrab namun terasa jauh. Akrab karena logo dan strukturnya ada, kegiatannya tercantum dalam kalender sekolah, bahkan atributnya kadang menjadi pelengkap upacara atau acara seremonial. 

Namun terasa jauh karena bagi sebagian pelajar, IPM tidak lebih dari “organisasi ekstrakurikuler” yang setara dengan klub hobi atau kegiatan tambahan yang penting ada, tetapi tidak selalu bermakna. Pertanyaan mendasarnya ialah apakah IPM memang telah bergeser menjadi sekadar aktivitas ekstra kurikuler, atau dapat menjadi gerakan pelajar progresif yaitu ruang ideologisasi, pembentukan kesadaran sosial, sekaligus kawah candradimuka kader masa depan Muhammadiyah?

Pertanyaan ini muncul dari kegelisahan tentang regenerasi di Muhammadiyah yang kerap dipotret sebagai persoalan klasik yaitu kader ada, tetapi kedalaman ideologinya menipis. Secara struktur organisasi hidup, tetapi ruh gerakannya melemah. Di titik inilah IPM memegang peran strategis. IPM bukan sekadar organisasi pelajar karena IPM merupakan pintu pertama kaderisasi formal Muhammadiyah. 

Dari rahim IPM diharapkan lahir generasi yang bukan hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memahami Islam berkemajuan, memiliki keberpihakan pada kaum lemah, dan sanggup melanjutkan dakwah keumatan dalam format yang relevan dengan zamannya.

Namun, realitas lapangan menunjukkan paradoks. Di satu sisi, IPM diakui sebagai ortom penting dalam sistem kaderisasi Muhammadiyah. Di sisi lain, di banyak sekolah, IPM direduksi menjadi kepanjangan tangan kesiswaan yang sibuk mengurusi acara peringatan hari besar, lomba-lomba, atau seremoni formal. Kegiatan ideologisasi, penguatan nalar kritis, dan dakwah keumatan sering kali tersisih oleh rutinitas administratif. Akibatnya, IPM berisiko kehilangan watak gerakannya dan terjebak dalam logika “ekstrakurikuler wajib ada”.

Sejak kelahirannya, IPM dimaksudkan sebagai gerakan pelajar. Kata “gerakan” di sini bukan tempelan. Kata ini mengandung makna untuk menggerakkan kesadaran, membentuk sikap, dan memproduksi tindakan kolektif yang berpihak pada nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. IPM lahir dari kesadaran bahwa pelajar bukan sekadar objek pendidikan, melainkan subjek perubahan. Di tangan pelajar, cita-cita Islam berkemajuan menemukan energi mudanya.

Namun seiring berjalannya waktu, tantangan zaman berubah. Pelajar hari ini hidup di tengah banjir informasi, budaya instan, dan godaan popularitas digital. Otoritas pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh guru atau organisasi. Media sosial menghadirkan “ustadz instan”, influencer dakwah, dan komunitas-komunitas non-ideologis yang menawarkan rasa memiliki tanpa ikatan struktural. Dalam lanskap seperti ini, IPM ditantang untuk tetap relevan. Bila IPM gagal bertransformasi, maka akan mudah terpinggirkan oleh ruang-ruang alternatif yang lebih “seksi” bagi pelajar.

Fenomena “ekstrakurikulerisasi” IPM bukan tuduhan tanpa dasar karena tampak dari beberapa gejala. Pertama, orientasi kegiatan yang lebih menekankan seremonial ketimbang pembentukan kesadaran. Kedua, relasi IPM dengan sekolah yang cenderung subordinatif dimana IPM menjadi pelaksana program sekolah, bukan mitra kritis dalam membangun iklim pendidikan yang berkemajuan. Ketiga, kaderisasi yang bersifat administratif yaitu sekadar memenuhi syarat keanggotaan tanpa proses ideologisasi yang mendalam.

Dampaknya tidak kecil, karena IPM kemudian kehilangan daya tarik sebagai ruang pembentukan identitas pelajar Muhammadiyah. Pelajar mungkin aktif dalam kegiatan IPM, tetapi tidak merasa memiliki ikatan ideologis dengan Muhammadiyah. Ketika lulus, estafet kaderisasi ke IMM atau Pemuda Muhammadiyah tidak berjalan mulus. Regenerasi pun tersendat akhirnya berdampak pada struktur organisasi terisi, tetapi ruh gerakan melemah.

Terdapat beberapa faktor struktural yang mempengaruhi kondisi ini seperti beban kurikulum sekolah, tekanan prestasi akademik, hingga paradigma pengelolaan AUM pendidikan yang semakin profesional-birokratis. Sekolah Muhammadiyah dituntut unggul secara akademik dan kompetitif di pasar pendidikan. Konsekuensinya, ruang-ruang pengkaderan ideologis sering terdesak oleh logika efisiensi dan capaian kuantitatif.

Regenerasi di Muhammadiyah bukan sekadar soal pergantian usia atau jabatan. Regenerasi adalah proses pewarisan nilai, etos, dan keberpihakan. IPM berada di hulu proses ini. Jika hulu bermasalah, maka hilirnya pun akan ikut bermasalah. Maka, menempatkan IPM hanya sebagai “organisasi siswa” adalah kekeliruan strategis. IPM seharusnya diposisikan sebagai laboratorium kepemimpinan, ruang ideologisasi, dan arena latihan keberpihakan sosial.

Regenerasi yang sehat menuntut tiga hal yaitu pemahaman ideologis, kapasitas intelektual, dan kepekaan sosial. IPM bisa menjadi ruang awal untuk menanamkan Islam berkemajuan sebagai kerangka berpikir. Pelajar perlu dikenalkan pada gagasan bahwa berislam bukan sekadar ritual, tetapi juga keberpihakan pada keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemajuan peradaban. Tanpa fondasi ini, kader Muhammadiyah berisiko tumbuh menjadi generasi yang saleh secara personal tetapi tumpul secara sosial.

Istilah “kaderisasi ideologis” sering terdengar indah di forum-forum resmi. Namun di tingkat praksis, istilah ini kerap tereduksi menjadi modul formalitas. Tantangan kaderisasi IPM hari ini adalah bagaimana mentransformasikan ideologi menjadi pengalaman hidup. Pelajar perlu merasakan bahwa nilai-nilai Muhammadiyah relevan dengan permasalahan mereka seperti perundungan di sekolah, kecemasan mental, ketimpangan sosial, hingga krisis makna di tengah budaya populer.

Kaderisasi ideologis tidak bisa lagi mengandalkan ceramah satu arah, melainkan menuntut metode partisipatif berupa diskusi kritis, proyek sosial, advokasi isu-isu pelajar, dan pemanfaatan media digital sebagai ruang dakwah kreatif. Di sinilah IPM bisa menjadi gerakan pelajar progresif yang dapat menghubungkan nilai Islam berkemajuan dengan realitas konkret yang dihadapi pelajar. Ketika pelajar merasakan langsung dampak keberpihakan sosial, misalnya melalui aksi literasi, pendampingan teman sebaya, atau kampanye anti-perundungan, maka ideologi tidak lagi terasa abstrak.

Dakwah keumatan sering diasosiasikan dengan kerja-kerja besar seperti rumah sakit, sekolah, atau layanan sosial. Padahal, di tingkat pelajar, dakwah keumatan menemukan bentuk mikro namun fundamental. IPM dapat menjadi medium dakwah yang menyentuh persoalan nyata pelajar seperti kesehatan mental, kekerasan di sekolah, kecanduan gawai, hingga krisis identitas. Dakwah di sini bukan sekadar ceramah moral, melainkan pendampingan, advokasi, dan penciptaan ruang aman bagi pelajar.

Dengan perspektif ini, IPM tidak lagi sekadar “mengurus kegiatan OSIS plus”, melainkan menjadi gerakan pelajar yang berani hadir di tengah problem kemanusiaan. Hal inilah yang dapat menjadi wajah dakwah keumatan yang kontekstual yaitu Islam hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol. Ketika IPM mampu memosisikan diri sebagai teman seperjuangan pelajar dalam menghadapi problem sehari-hari, daya tariknya akan tumbuh secara organik.

Generasi pelajar hari ini adalah digital native. Mereka hidup di ruang yang serba cepat, visual, dan instan. Tantangan IPM bukan melawan budaya digital, melainkan memanfaatkannya secara kreatif. IPM perlu hadir di ruang-ruang digital dengan narasi yang segar, inklusif, dan relevan. Dakwah yang kaku dan normatif sulit bersaing dengan konten yang ringan namun emosional.

Namun, kehadiran digital tanpa kedalaman ideologis justru berbahaya. IPM bisa terjebak dalam logika popularitas yaitu hanya mengejar likes, tetapi kehilangan substansi. Di sinilah keseimbangan diuji yaitu bagaimana memproduksi konten yang menarik sekaligus mendidik. IPM perlu membangun literasi digital kadernya agar tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi produsen wacana yang kritis.

Relasi IPM dengan sekolah Muhammadiyah sering bersifat ambivalen. Di satu sisi, sekolah adalah ruang tumbuh IPM. Di sisi lain, sekolah dengan logika birokratisnya kadang membatasi ruang kritis pelajar. IPM perlu diposisikan sebagai mitra strategis sekolah dalam membangun iklim pendidikan berkemajuan. Kritik pelajar terhadap kebijakan sekolah seharusnya dibaca sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman otoritas.

Lebih jauh, relasi IPM dengan struktur persyarikatan perlu diperkuat. IPM sering dianggap “organisasi anak-anak”, padahal IPM memegang peran strategis dalam regenerasi. Diperlukan keseriusan struktural Muhammadiyah untuk mendampingi IPM, bukan sekadar hadir dalam seremoni. Pendampingan ideologis, fasilitasi ruang diskursus, dan keberanian memberi kepercayaan pada kader muda adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan gerakan.

Untuk keluar dari jebakan “sekadar ekstrakurikuler”, IPM perlu melakukan reorientasi. Pertama, menegaskan identitasnya sebagai gerakan pelajar progresif yang berpijak pada Islam berkemajuan. Kedua, merevitalisasi kaderisasi ideologis dengan metode yang kontekstual dan partisipatif. Ketiga, memperluas makna dakwah keumatan di ruang pelajar dengan hadir di tengah problem konkret, bukan hanya di mimbar formal.

Keempat, membangun ekosistem regenerasi yang berkelanjutan. IPM tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus terhubung secara organik dengan IMM, Pemuda Muhammadiyah, dan struktur persyarikatan. Estafet kaderisasi perlu dirancang sebagai proses yang alamiah, bukan sekadar formalitas struktural. Kelima, memanfaatkan ruang digital sebagai medan dakwah dan kaderisasi baru, tanpa kehilangan kedalaman ideologis.

Pertanyaan “IPM apakah sekadar organisasi ekstrakurikuler atau gerakan pelajar progresif?” sejatinya adalah cermin bagi Muhammadiyah sendiri. Bagaimana Muhammadiyah memandang kader mudanya? Sebagai pelengkap struktur atau subjek perubahan? Masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kualitas regenerasinya hari ini. IPM adalah ladang awal. Jika ladang ini dirawat dengan kesungguhan ideologis, maka akan melahirkan panen kader yang matang secara intelektual, kukuh secara moral, dan peka secara sosial.

Di tengah krisis makna yang melanda generasi muda, IPM punya peluang besar untuk tampil sebagai ruang pencarian makna. Bukan dengan jargon, tetapi dengan praksis dakwah keumatan yang membumi. Bukan dengan seremonial, tetapi dengan gerakan pelajar yang berani berpihak. Dari ruang-ruang kelas, masjid sekolah, hingga lini masa media sosial, IPM bisa menghidupkan kembali ruh gerakan untuk membentuk pelajar berkemajuan yang kelak menjadi tulang punggung Muhammadiyah.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Prof Dr A Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus Dalam pekan ini penulis diminta untuk menjadi s....

Suara Muhammadiyah

14 June 2025

Wawasan

Disrupsi Perspektif Mental Sehat Generasi ke Generasi  Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si, Dosen IA....

Suara Muhammadiyah

2 January 2025

Wawasan

Bencana Makanan dan Minuman Halal di Sekitar Kita  Oleh: Mochamad Novi Rifa'i .MA .ME, Dosen P....

Suara Muhammadiyah

25 July 2025

Wawasan

Menjenguk Tetangga Yang Sakit Oleh: Mohammad Fakhrudin Topik kajian ini merupakan lanjutan pengemb....

Suara Muhammadiyah

18 July 2025

Wawasan

Mengenal Cultural Violence dan Dampaknya  Oleh : Dr. Amalia Irfani, M.Si, Dosen IAIN Pontianak....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024