KUDUS, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) merayakan milad ke-28 pada Senin, 12 Oktober 2026. Bertempat di gedung Crystal Building UMKU, momentum hari jadi ini dirayakan dengan sederhana bersama seluruh pegawai melalui kegiatan "Resepsi Milad UMKU".
Rektor UMKU, Dr. Edy Soesanto, S.Kp., M.Kes. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar UMKU atas kerja kerasnya selama ini. Menurutnya, milad ke-28 bukan sekadar penanda bertambahnya usia sebuah institusi, melainkan momentum untuk menengok perjalanan, mensyukuri pencapaian, mengevaluasi kekurangan, dan meneguhkan komitmen untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik. "Dua puluh delapan tahun adalah perjalanan tentang pengabdian, perjuangan, dan harapan. Dari seluruh proses, UMKU terus bertumbuh dan terus berdampak memberikan kontribusi bagi masyarakat," ujar Rektor dalam sambutannya.
Di momentum ini, Dr. Edy mengajak seluruh keluarga besar UMKU untuk memaknai bertambahnya usia sebagai bertambahnya tanggung jawab. Semakin dewasa usia institusi, semakin besar pula tuntutan terhadap kualitas, integritas, dan kontribusi yang harus kita berikan. "Insyallah dengan sinergitas semua pihak, diusia ke-28 UMKU terus bergerak menuju Go Better, terus tumbuh dan berdampak," tegasnya.
Dr. Edy juga menekankan bahwa Go Better bukan sekadar slogan UMKU. Kalimat itu harus menjadi cara berpikir, budaya bertindak, dan komitmen bersama. Lebih baik dalam memberikan pelayanan, lebih baik dalam menjaga mutu pembelajaran, lebih baik dalam mengembangkan riset, lebih baik dalam membangun kemitraan, dan lebih baik dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu pula, Rektor menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan UMKU.
Kepada para pendiri dan perintis, para pemimpin terdahulu, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra, orang tua mahasiswa, serta seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada universitas ini. "Kita kuatkan semangat kerja keras, kita tajamkan strategi melalui kerja cerdas, kita tuntaskan amanah melalui kerja tuntas, dan kita persembahkan hasil terbaik melalui kerja berdampak," tegas Dr. Edy.
Semangat untuk terus tumbuh dan berdampak juga disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMKU, H. Dodok Sartono, S.E. Pihaknya mengungkapkan, UMKU hadir dengan tujuan membentuk insan berkemajuan dan mencerdaskan kehidupan. Ada 3 keunggulan yang menjadi identitas UMKU selama ini, yakni spiritual, akademik, dan karier. "Go Better jangan hanya menjadi slogan, tapi menjadi folosofi dan budaya gerakan. Mari bangun UMKU ke depan menjadi universitas yang maju, profesional, dan modern," terangnya.
Ke depan, Dodok berharap UMKU makin baik dan menjadi perguruan tinggi terbaik di Pati Raya. Hal itu pun diikuti dengan jumlah mahasiswa yang juga bertambah.
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan berbagai penghargaan kepada sejumlah pegawai UMKU. Adapun penghargaan yang diberikan antara lain, Penghargaan Umroh untuk 5 pegawai yang sudah mendedikasikan diri kepada UMKU selama lebih dari 27 tahun. Lalu ada Penghargaan Karya Satya untuk 3 orang pegawai yang sudah bekerja 20 tahun lebih dan 2 orang pegawai dengan masa kerja lebih dari 10 tahun.
Selanjutnya, ada Penghargaan bagi 3 Dosen Beprestasi yang berhasil menerima hibah penelitian dan pengabdian dalam 3 tahun terakhir. Ada pula reward Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) untuk 2 orang dosen.
Tidak hanya itu, UMKU juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pegawai Tetap untuk 9 pegawai, SK Calon Pegawai untuk 19 pegawai, SK Perubahan dari Tenaga Kependidikan ke Dosen untuk 1 orang dosen, serta SK Kenaikan Pangkat Golongan untuk 1 orang dosen.
Resepsi Milad UMKU kali ini juga diisi dengan tausiah oleh Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. Termasuk penyampaian Orasi Ilmiah oleh dosen S1 Kebidanan UMKU, Dr. Bdn. Dwi Astuti, S.Si.T., M.Kes. bertajuk "Menyusui di Tengah Dunia Kerja: Membangun Dukungan Holistik Bagi Ibu Nifas".
Kampus Harus “Tumbuh untuk Berdampak”
Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, dalam tausiyah berjudul “Tumbuh dan Berdampak: Arsitektur Pencerahan di Era Disrupsi”, Prof. Muttaqin mengajak civitas akademika merefleksikan 28 tahun perjalanan UMKU sekaligus menyiapkan langkah ke depan dengan Risalah Islam Berkemajuan (RIB).
Prof. Muttaqin membuka tausiyah dengan QS. Yusuf ayat 76, wa fauqa kulli dzī ‘ilmin ‘alīm, yang artinya di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui. Menurut dia, UMKU kini sedang bertransisi menuju kedewasaan institusional, dan ayat itu mengingatkan bahwa dunia akademik tidak mengenal zona nyaman. RIB menuntut sikap rendah hati di hadapan ilmu, katanya, agar perguruan tinggi mampu memimpin perubahan dan tidak digilas olehnya.
Prof. Muttaqin menempatkan UMKU dalam peta besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Menurut data yang ia paparkan, PTMA kini berjumlah 165 institusi, terdiri atas 103 universitas, 30 sekolah tinggi, 24 institut, 6 politeknik, dan 2 akademi. Jumlah itu sekitar 4 persen dari 4.461 perguruan tinggi di Indonesia, dengan 154 di antaranya milik Muhammadiyah dan 11 milik ‘Aisyiyah.
Porsi PTMA di sejumlah indikator justru lebih besar. PTMA mengelola 2.527 program studi (8 persen dari 30.203 prodi nasional) dan menampung 721.053 mahasiswa (7 persen dari 9.967.423 mahasiswa). PTMA juga memiliki 21 perguruan tinggi berakreditasi unggul dan 552 program studi unggul. Selain itu, ada 23 fakultas kedokteran, atau 16 persen dari 144 fakultas kedokteran nasional.
Di sisi sumber daya manusia, PTMA memiliki 21.342 dosen, termasuk lebih dari 470 guru besar. Di tingkat global, Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) menjadi tonggak ekspansi internasional. Sebanyak 2.580 mahasiswa asing dari 75 negara juga tercatat belajar di PTMA. “Rekognisi global bukan lagi fatamorgana,” demikian pesan dalam materinya, “melainkan realitas yang sedang kita orkestrasi.” Menurut Prof. Muttaqin, UMKU adalah salah satu roda gigi vital dalam ekosistem peradaban itu.
Badai Disrupsi: Pendidikan Transaksional Terancam
Bagian paling tajam dari tausiyah adalah peringatan tentang kecerdasan buatan (AI). Prof. Muttaqin menyebut era AI mengancam praktik inti pembelajaran tradisional, yaitu dosen, transfer hafalan, ujian standar, dan ijazah sebagai komoditas. “Jika pendidikan kita hanya sebatas transfer pengetahuan mekanis dan komodifikasi nilai, kita akan segera digantikan oleh mesin,” demikian pesan yang ia sampaikan dalam materinya.
Ia lalu membandingkan dua model pendidikan. Pendidikan komodifikasi, yang rentan AI, bertumpu pada transfer pengetahuan murni, hafalan, ujian standar, dan ijazah sebagai tiket kerja. Pendidikan transformatif ala RIB, yang ia sebut kebal mesin, berpijak pada kebijaksanaan dan sound judgment, kemampuan memecahkan masalah kompleks dan berempati, serta pembentukan manusia pencerah yang berkarakter Islami. Pergeseran itu, kata dia, adalah peralihan dari sekadar output akademik menuju outcome sosio-ekonomi yang berdampak nyata.
Arah itu sejalan dengan kompas strategis Majelis Diktilitbang yang ia paparkan. Kompas itu memuat enam penekanan: penguatan ideologi dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), tata kelola unggul, reputasi akademik melalui hilirisasi riset dan jurnal bereputasi global, dampak sosial nyata “bukan sekadar menara gading”, internasionalisasi yang melampaui MoU di atas kertas, serta transformasi menuju akreditasi unggul.
Prof. Muttaqin memetakan perjalanan UMKU dalam tiga fase. Fase pertama adalah akar kesehatan, ketika UMKU membangun fondasi sains kesehatan di Kudus, dengan perjalanan lewat Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), Akademik Keperawatan (AKPER), Akademi Kesehatan (AKKES), dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES). Fase kedua adalah transformasi, ketika keilmuan dilebarkan hingga menjadi universitas. Kini UMKU berada di fase ketiga, titik lepas landas menuju kedewasaan.
“Dua puluh delapan tahun adalah usia emas transisi,” demikian inti pesannya. UMKU, menurut dia, tidak lagi mengukur diri dari kelangsungan hidup institusi, tetapi dari seberapa jauh bisa melompat.
Ia menilai SDM adalah mesin utama. Tanpa akselerasi radikal pada kualifikasi S3, katanya, transformasi UMKU menuju klaster utama hanya akan menjadi angan-angan. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah mahasiswa harus diiringi jaminan rasio dan kualitas prodi.
Laporan Kinerja UMKU 2025/2026 bertajuk “Go Better” memperlihatkan capaian yang sudah berjalan. Evaluasi berbasis balanced scorecard menempatkan kinerja rektor pada angka 76 persen, kategori baik. Mahasiswa baru yang mendaftar ulang naik dari 1.320 pada tahun akademik 2024/2025 menjadi 1.653 pada 2025/2026, lalu 1.748 pada 2026/2027, atau tumbuh 5,75 persen. Serapan anggaran mencapai 92,01 persen. Pembangunan sarana juga berjalan, mulai dari Gedung E-Combi di Kampus 2 hingga 13 ruang kelas baru, disertai pembentukan lima unit pelaksana teknis baru.
Cetak Biru 2027: Bertumbuh, Unggul, Berdampak
Sebagai penutup, Prof. Muttaqin menawarkan cetak biru UMKU 2027 dengan tiga pilar akselerasi:
-
Bertumbuh: mengejar target kualifikasi S3 secara agresif dan terukur, menerapkan sistem Accurate untuk akuntabilitas keuangan, dan menumbuhkan mahasiswa secara rasional dengan rasio 1:20.
-
Unggul: mencapai target lima prodi unggul dan 15 prodi baik sekali, mempertahankan kampus bebas rokok, serta mengaktifkan kembali Baitul Arqam bagi dosen, karyawan, dan mahasiswa.
-
Berdampak: menghilirisasi riset menjadi solusi sosial di Muria Raya lewat sinergi quadruple helix. UMKU berperan sebagai produsen inovasi sains kesehatan dan teknologi tepat guna, bersama industri lokal di bidang farmasi, kesehatan, dan manufaktur Kudus, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sasaran utamanya antara lain penurunan stunting dan peningkatan kesehatan ibu dan anak.
“Inovasi UMKU tidak boleh berhenti di laci perpustakaan,” demikian ditegaskan dalam materinya. Hasil riset harus dihilirisasi untuk menjawab persoalan masyarakat lereng Muria.
Tausiyah ditutup dengan seruan “Dari Kertas Menuju Maslahat” dan doa. Menurut Prof. Muttaqin, manifestasi tertinggi RIB di abad ke-21 adalah mewujudkan inovasi teknologi yang menjawab persoalan zaman. Ia berharap Milad ke-28 menjadi tenggat waktu kedewasaan, dan UMKU menjadi pencerah persyarikatan, pemandu bagi bangsa, dan kampus yang tumbuh untuk berdampak.
Usai Resepsi Milad, dilanjutkan dengan bermacam-macam lomba, seperti UMKU Silat Star, Konten Kreator Competition, Lomba Qiroah, Karya Tulis Ilmiah, Turnamen Bola Voli Putra. Selanjutnya, ada pula Lomba Penulisan Esai, Lomba Poster Ilmiah, Stand-up Comedy, dan ditutup dengan UMKU Run pada 20 Desember 2026. (NR/Supardi)

