Mindset “Belum”: Jalan Panjang Pendidikan Indonesia Maju

Publish

10 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
82
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Mindset “Belum”: Jalan Panjang Pendidikan Indonesia Maju

Oleh: Agus Subeno

Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti beberapa waktu lalu sederhana tetapi menggugah. Bangsa maju tidak lahir dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang yang dimulai dari ruang kelas, dari cara guru berbicara kepada muridnya, dari cara orang tua menyikapi rapor anaknya, dari cara sekolah memaknai kegagalan. Kunci dari proses panjang itu hanya satu kata, yaitu mindset. Bukan mindset yang menyerah, melainkan mindset yang percaya bahwa kemampuan bisa tumbuh melalui usaha, latihan, dan waktu. Psikologi menyebutnya growth mindset, lawan dari fixed mindset yang menganggap kepintaran adalah bawaan lahir dan tidak bisa diubah.

Gagasan ini sesungguhnya tidak baru. Carol Dweck dari Universitas Stanford sudah lama menelitinya. Anak yang percaya bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik akan lebih gigih menghadapi soal sulit, lebih tahan banting ketika gagal, dan lebih berani mencoba hal baru. Sebaliknya, anak yang percaya bahwa dirinya memang tidak berbakat matematika akan menutup buku begitu melihat angka. Masalahnya, mindset seperti itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia dibentuk setiap hari oleh kata-kata yang diucapkan guru di depan kelas, oleh sorot mata orang tua saat melihat nilai merah, oleh sistem penilaian yang hanya memberi ruang bagi jawaban benar tanpa memberi ruang bagi proses belajar.

Data PISA 2018 menampar kita dengan jujur. Lebih dari dua pertiga siswa usia lima belas tahun di Indonesia tidak yakin bahwa kecerdasannya bisa berkembang. Mereka tumbuh dalam keyakinan bahwa gagal berarti bodoh, bahwa salah berarti tidak mampu. Padahal salah adalah bagian paling penting dari belajar. Anak yang tidak pernah salah adalah anak yang tidak pernah mencoba hal di luar zona nyamannya. Ketika seluruh sistem pendidikan hanya merayakan nilai seratus dan menertawakan nilai empat puluh, maka kita sedang melatih generasi yang takut mencoba. Kita sedang mencetak generasi yang memilih aman daripada bertumbuh.

Lihatlah kelas kita hari ini. Seorang guru berdiri di depan papan tulis dan berkata, “Kamu memang tidak berbakat hitung-hitungan ya.” Kalimat itu terdengar ringan, tetapi ia menancap dalam benak anak selama bertahun-tahun. Anak itu lalu percaya bahwa dirinya memang tidak bisa matematika. Setiap kali menghadapi soal, ia menyerah sebelum mencoba. Di rumah, orang tua membuka raport dan fokus pada kolom nilai merah. “Tuh kan, dari dulu nilaimu jelek terus.” Kalimat itu mematikan harapan. Anak itu belajar bahwa usahanya tidak ada artinya, yang penting hanya angka di atas kertas. Di sekolah lain, lomba hanya diadakan untuk anak-anak yang sudah pasti juara. Anak-anak lain hanya jadi penonton. Mereka belajar bahwa panggung hanya untuk mereka yang sudah sempurna, bukan untuk mereka yang sedang belajar.

Padahal pendidikan dasar dan menengah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk gagal. Di sinilah anak belajar berjalan, jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi. Di sinilah anak belajar bahwa usaha sekecil apa pun tetap berarti. Guru yang baik bukanlah guru yang hanya memberi nilai, tetapi guru yang memberi harapan. Guru yang berkata, “Belum bisa hari ini, tapi kamu sudah lebih baik dari kemarin. Besok kita coba lagi.” Orang tua yang bijak bukanlah orang tua yang hanya membandingkan anaknya dengan anak tetangga, tetapi orang tua yang berkata, “Nak, nilai ini bukan akhir. Ini awal untuk kita belajar bersama.”

Kita sering menuntut anak untuk berani, tetapi kita sendiri tidak memberi ruang untuk mereka gagal. Kita menuntut siswa untuk kreatif, tetapi kita menghukum setiap jawaban yang berbeda dari kunci jawaban. Kita ingin Indonesia maju, tetapi kita mendidik anak dengan rasa takut. Padahal tidak ada bangsa besar yang lahir dari rasa takut. Bangsa besar lahir dari keberanian mencoba, dari keberanian gagal, dari keyakinan bahwa hari ini belum bisa bukan berarti selamanya tidak bisa.

Kabar baiknya, mindset bisa diubah. Dunia sudah membuktikannya. World Bank bersama Kementerian Pendidikan pernah menguji program sederhana di sejumlah sekolah. Guru diberi pelatihan untuk mengubah cara bicara. Alih-alih berkata “kamu bodoh”, mereka belajar mengatakan “kamu belum menguasai, tapi kamu bisa belajar”. Hasilnya mengejutkan. Nilai siswa meningkat. Kepercayaan diri mereka tumbuh. Yang berubah bukan kurikulumnya, bukan bukunya, tetapi keyakinan anak tentang dirinya sendiri. Ketika anak percaya bahwa dirinya bisa tumbuh, maka ia akan berjuang lebih keras. Ketika anak percaya bahwa gagal adalah bagian dari belajar, maka ia tidak akan berhenti di tengah jalan.

Perubahan tidak harus dimulai dari Jakarta. Ia bisa dimulai dari satu ruang kelas di pelosok. Dimulai dari satu guru yang berani mengubah kalimatnya. Dimulai dari satu orang tua yang berani mengubah cara memandang raport anaknya. Dimulai dari satu kepala sekolah yang berani memberi panggung kepada anak yang sedang berproses, bukan hanya kepada anak yang sudah jadi juara. Perubahan kecil yang konsisten akan menjadi arus besar yang mengubah wajah pendidikan Indonesia.

Maka tugas kita sekarang sederhana tetapi tidak mudah. Tugas guru adalah mengganti kata “tidak bisa” menjadi “belum bisa”. Tugas orang tua adalah mengganti pertanyaan “kamu ranking berapa” menjadi “hari ini kamu belajar apa”. Tugas sekolah adalah membuka ruang bagi anak yang masih belajar, bukan hanya merayakan anak yang sudah sempurna. Tugas kita semua adalah menanamkan keyakinan bahwa setiap anak berhak tumbuh sesuai waktunya.

Indonesia tidak akan maju karena kurikulumnya paling baru atau gedung sekolahnya paling megah. Indonesia akan maju ketika anak-anaknya percaya bahwa mereka bisa. Ketika anak-anaknya tidak takut salah. Ketika anak-anaknya berani mencoba lagi setelah jatuh. Dan keyakinan itu tidak tumbuh dari langit. Ia tumbuh dari kata-kata kita setiap hari.

Sudah saatnya kita berhenti mencetak generasi yang takut gagal. Sudah saatnya kita mulai mencetak generasi yang percaya bahwa hari ini belum bisa, tetapi besok pasti bisa. Karena bangsa maju bukan lahir dari anak-anak yang sempurna sejak lahir. Bangsa maju lahir dari anak-anak yang tidak pernah berhenti belajar. Dan itu semua berawal dari satu kata kecil yang sering kita lupakan: belum.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengapa Tidak Ada Nabi Setelah Muhammad? Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

13 May 2026

Wawasan

Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Surah An-Nisa ayat 48 dan 116 menjela....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Bung Hatta, Sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Bernegara  Oleh:....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Wawasan

Menguatkan Pijakan Ideopolitor untuk Masa Depan Muhammadiyah Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Kader Mu....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Wawasan

Benarkah Muhammadiyah Kekurangan Kader Ulama? Oleh: Muhammad Utama Al Faruqi, Penerjemah Bahasa Ara....

Suara Muhammadiyah

17 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah