Menemukan Jalan Kebahagiaan

Publish

7 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
106
Foto oleh ijeab di freepik

Foto oleh ijeab di freepik

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan

Ahad malam lalu, saya menghadiri momen halalbihalal yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Cabe Ilir, Tangerang Selatan. PRM yang diampu oleh Maruf El Rumi, seorang jurnalis senior sekaligus pengamat sepak bola Indonesia, ini memang selalu menjadi wadah terbuka yang mampu menghidupkan ruh Muhammadiyah higga menuai manfaat bagi warga sekitar.

Dalam sambutannya, Umar Syurofa, salah satu pengurus PRM, memberikan laporan tentang kegiatan Ramadan yang berhasil mengumpulkan banyak bingkisan untuk kebutuhan selama puasa dan Idulfitri yang dibagikan kepada warga sekitar. Bahkan, pembagiannya mampu menjangkau warga yang berada jauh dari Pondok Cabe.

Pada halalbihalal kali ini, PRM menghadirkan Mas Kiai Menteri Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Seperti biasa, Mas Kiai Menteri ini selalu memiliki gaya khas yang memukau para hadirin dengan guyonan cerdas dan bahasa yang sangat mudah dicerna, meskipun sering mengutip buku-buku berbahasa asing. Penjelasannya selalu ringan, gurih, dan sangat kontekstual. Salah satu hal yang tidak banyak dimiliki oleh para pendakwah di internal Muhammadiyah adalah gaya humornya yang khas, yang tidak hanya dipahami oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga mampu membuat masyarakat umum terpingkal-pingkal.

Mas Kiai Menteri Abdul Mu’ti memulai pesan halalbihalal dengan mengutip buku berbahasa Inggris berjudul The Village Effect: How Face-to-Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter, karya Susan Pinker.

Buku ini memberi pesan bahwa orang-orang yang secara rutin bertemu dengan orang lain yang memiliki kedekatan—memiliki proximity (kedekatan sosial)—serta berinteraksi secara fisik karena memiliki banyak kesamaan, bahkan memiliki kedekatan batin, ternyata memiliki usia hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan orang yang hidup menyendiri.

Ada sebuah penelitian pada sebuah desa di Italia yang ditulis dalam buku tersebut, di mana penduduknya rata-rata berusia di atas 90 tahun. Setelah diteliti, ternyata faktor utamanya adalah pola kehidupan sosial mereka. Yakni efek baik dari kehidupan ala desa. Desa dalam perspektif antropologis. Dalam kajian antropologi, desa dipahami sebagai suatu sistem sosial di mana masyarakat memiliki kedekatan yang sangat kuat satu sama lain. Dalam istilah psikologi, hal ini disebut memiliki personal proximity. Karena adanya kedekatan personal tersebut, seseorang dapat menyampaikan apa pun yang ada dalam pikiran dan hatinya tanpa sekat-sekat sehingga tidak perlu menyimpan rahasia.

Ternyata, kemampuan untuk mengekspresikan isi hati dan pikiran membuat seseorang lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang memendam perasaan. Ketika seseorang memiliki ruang aktualisasi psikologis yang lebih luas, secara mental ia akan lebih sehat. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik.

Karena itu, momen halalbihalal seperti ini sangat penting sebagai ruang berbagi. Masyarakat modern tengah menghadapi persoalan serius, yaitu kekosongan makna. Kekosongan ini tidak bisa diisi hanya dengan gemerlap materi. Di tengah kehidupan yang serba materialistis, justru jiwa manusia semakin kosong. Rumah mungkin dipenuhi berbagai fasilitas hiburan, seperti karaoke, tontonan, dan sebagainya, tetapi batinnya tetap hampa. Hal ini karena kebahagiaan yang dihasilkan bersifat semu.

Dalam ajaran Nabi disebutkan bahwa hiasan rumah yang paling indah adalah Al-Qur’an dan salat. Namun, dalam kenyataannya, banyak orang lebih sibuk menghias rumah dengan berbagai peralatan canggih. Padahal, semua itu tidak mampu memberikan kebahagiaan yang sejati. Orang bisa membeli berbagai bentuk hiburan, bahkan kendaraan mewah, tetapi kebahagiaan tidak bisa dibeli. Kebahagiaan sejati justru terletak pada relasi yang baik dengan sesama manusia. Orang yang sering bertemu, berbagi cerita, dan menjalin hubungan sosial yang hangat cenderung lebih bahagia, lebih makmur, bahkan lebih cerdas.

Temuan ilmiah ini sejalan dengan hadis Nabi yang sering dibaca saat Idulfitri: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Jika seseorang ingin dipanjangkan umurnya, kuncinya adalah memiliki banyak sahabat. Secara empiris, tidak terdapat bukti bahwa orang yang memiliki banyak sahabat memiliki karier yang buruk. Demikian pula, tidak terdapat bukti bahwa orang yang berbuat baik kepada tetangga hidupnya sengsara.

Pada akhirnya, kebahagiaan itu sebenarnya sederhana: sering bertemu orang lain, banyak tersenyum, dan menjalin hubungan yang hangat. Kita tidak harus selalu pergi ke tempat hiburan yang mahal. Kebahagiaan tidak selalu harus dibeli. Bahkan, sering kali kebahagiaan hadir dari hal-hal sederhana yang tidak memerlukan biaya. Selama ini, banyak orang mengisi hidupnya dengan berbagai hiburan, bahkan sampai berlebihan, seolah-olah tidak ingin ada ruang kosong dalam dirinya. Namun, pada kenyataannya, orang memang bisa membeli hiburan, tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan.

Nabi mengajarkan pentingnya silaturahmi. Jika merujuk pada penjelasan M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an, terdapat pembahasan tentang makna halalbihalal dan silaturahmi. Kata silah sendiri berarti menyambung atau mengurai benang yang kusut, bahkan juga diartikan sebagai menyambung tali yang terputus. Karena itu, sering digunakan istilah “tali silaturahmi”. Dalam Al-Qur’an, ketika membahas tentang “tali”, digunakan istilah habl. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Hal ini menunjukkan bahwa manusia harus bersatu dan tidak terpecah belah, dengan ikatan utama berupa nilai-nilai yang bersumber dari Allah.

Oleh karena itu, pertemuan-pertemuan seperti halalbihalal dan berbagai forum di ruang publik menjadi sangat penting. Semakin sering orang bertemu dan berinteraksi secara langsung, semakin kuat pula ikatan sosialnya. Sebaliknya, masyarakat yang terisolasi akan lebih mudah diadu domba. Interaksi yang hanya terjadi di dunia maya, yang pada hakikatnya merupakan “dunia semu”, tidak selalu menghadirkan kedekatan yang tulus. Seseorang bisa saja memiliki banyak teman di grup WhatsApp, tetapi hubungan tersebut belum tentu bermakna. Situasi ini menunjukkan bahwa di tengah kemudahan akses informasi, tidak menjamin adanya silaturahmi. Karena itu, penting bagi kita untuk tetap rendah hati, memperkuat silaturahmi dan dialog yang sehat.

Buku kedua yang dikutip oleh Mas Kiai Menteri Abdul Mu’ti adalah karya Fareed Zakaria berjudul Ten Lessons for a Post-Pandemic World. Dalam buku tersebut, ia menyampaikan sepuluh pelajaran penting pascapandemi COVID-19. Salah satunya tentang bagaimana seseorang dapat menjadi penulis yang baik dan memiliki gagasan yang otentik.

Ia menyampaikan sebuah prinsip: “jangan hanya membangun jejaring, tetapi bangunlah ikatan”. Mengapa demikian? Karena jejaring (network) itu rapuh dan mudah rusak. Ia ibarat jaring laba-laba—terlihat luas, tetapi sebenarnya lemah dan mudah putus. Dalam Al-Qur’an, perumpamaan ini juga dijelaskan, bahwa orang yang imannya lemah diibaratkan seperti rumah laba-laba—tampak ada, tetapi tidak kokoh. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang tidak dilandasi oleh nilai dan ketulusan akan mudah runtuh.

Karena itu, hubungan antarmanusia tidak cukup hanya dibangun atas dasar kepentingan. Ada hubungan yang hanya bersifat profesional, bahkan ada yang sekadar “hubungan tanpa perasaan”. Ikatan seperti ini tidak kuat karena tidak melibatkan kedalaman emosional maupun nilai. Sebaliknya, yang perlu dibangun adalah ikatan yang utuh lahir dan batin yang dilandasi oleh keimanan, ketulusan, dan kepedulian. Inilah yang akan memperkuat silaturahmi dan menjaga keutuhan masyarakat. Silaturahmi bukan sekadar bertemu, tetapi juga upaya untuk merawat, memperbaiki, dan menguatkan hubungan agar tidak mudah terputus.

Jika relasi sosial kita hanya bersifat kontraktual, maka sulit menemukan kebahagiaan sejati di dalamnya. Tidak ada yang disebut teman sejati dalam hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan. Inilah yang kemudian diajarkan dalam Islam: bahwa kebahagiaan lahir dari hubungan yang tulus, bukan sekadar transaksi.

Sebagaimana disampaikan oleh Fareed Zakaria, jika kita ingin memiliki ide-ide yang hebat dan menjadi lebih cerdas, maka perbanyaklah bertemu dengan orang. Namun, ketika bertemu, jangan hanya menggurui. Kita juga harus mau mendengar. Di situlah letak pembelajaran yang sesungguhnya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tapak Tilas Penerjemahan Al-Qur`an dalam Bahasa Inggris (1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilm....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Wawasan

Refleksi 95 Tahun Sumpah Pemuda Rekonstruksi Kembali (Revisi) dalam Membangun Bangsa dan Negara Ha....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Wawasan

One Day One Health Education: Gerakan Sehat Sepanjang Ramadhan Oleh: Ekorini Listiowati, Majelis Ke....

Suara Muhammadiyah

3 March 2026

Wawasan

Ketika Nafsu, Akal dan Hati Berembuk Oleh: Saiev Dzaky El Kemal, S.H.,M.E ,Wakil Direktur PPM K.H M....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Wawasan

Misteri Sapaan "Saudara Perempuan Harun" Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

6 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah