JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lazismu telah menginjak di usia ke-24. Sejak awal berdiri tahun 2002, telah berkiprah demikian rupa mentasyarufkan dana ZIS untuk memberikan kemaslahatan yang luas bagi masyarakat.
“Kami melihat kunci kekuatan Lazismu bahwa kita adalah dalam satu kesatuan hierarki bangunan nasional,” ujar Ahmad Imam Mujaddid Rais.
Berpangkal dari Qs as-Saff ayat 4, menjadi titik refleksi kolektif. Kata Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat itu, ayat ini menggambarkan orang-orang yang berjuang dalam membangun produk peradaban terbaik dalam satu bangunan yang kokoh.
“Saya ini harus menjadi atensi tersendiri bagi kita semuanya, apabila kita ingin memberikan satu dampak yang lebih nyata, lebih luas, kita perlu memperkuat diri kita dalam satu kesatuan tata kelolaan kelembagaan, dalam satu kesatuan sistem data,” jelasnya.
Di situlah tema milad ke-24 Lazismu “Integrasi Menguatkan Dampak” menemukan relevansinya. Rais menyebut, Lazismu berupaya untuk sistem yang dimiliki pengelolaan dan penyaluran dana ZIS semakin terintegrasi.
“Kita ingin merapikan sistem mulai integrasi data, integrasi jenis dana, ientegrasi antarsistem majelis dan lembaga di internal Persyarikatan maupun lintas keumatan dan kebangsaan,” terang Rais, Rabu (29/7) saat Resepsi Milad ke-24 Lazismu di Aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lantai 4 Medan Merdeka, Gambir, Kota Jakarta Pusat.
Demikian yang terlihat dari sisi integrasinya. Pada sisi berdampaknya, kata Mujadid, meniscayakan program yang dijalankan berdampak pada kebutuhan masyarakat.
“Kerap kali kita meletakkan diri kita sebagai sosok yang lebih tahu daripada masyarakat atau daripada subjek di tengah masyarakat, tetapi ternyata ketika program penyaluran berjalan tidak efektif,” tuturnya.
Karenanya, amil Lazismu perlu mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada masyarakat untuk mengetahui secara pasti kebutuhan seperti apa yang benar-benar tengah dibutuhan oleh masyarakat di akar rumput.
“Mendengarkan keluhan mereka, mendengarkan kebutuhan mereka, dan apa yang bisa kita bantu untuk memecahkan berbagai problema yang mereka hadapi,” bebernya.
Jauh daripada itu, transformasi mustahik. Di sini Rais mengomentari, barometer seorang mustahik setidaknya ada dua—jika ditempatkan pada sisi mustahik yang sejahtera—yaitu tata kelola dan dampak.
“Berapa jumlah kaum miskin yang ditransformasikan dari mustahik menjadi muzakki?” Sebut Rais, ini perlu diskusi bersama untuk mengukur secara saksama. “Supaya mereka naik kelas menjadi seorang muzakki,” tambahnya.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas mustahik juga penting. “Yang dibangun adalah manusia. Kita perlu duduk mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat terlepas dari jerat kemiskinan,” bebernya.
Satu sisi, Hilman Latief menyampaikan tahniah atas milad ke-24 Lazismu. Ia berharap, Lazismu ke depan makin berkembang lebih pesat dan maju.
“Insyaallah tambah berkah, tambah semangat, dan terus berkembang,” ujarnya, seraya meyakini orang-orang yang berjuang di jalan Allah melalui koridor zakat.
“Itulah mereka yang sesungguhnya berkembang,” ungkap Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut. (Cris)

