MPKS dan Lazismu Sumut Perkuat Sinergi Filantropi Umat
MEDAN, Suara Muhammadiyah — Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara bersinergi dengan Lazismu Sumatera Utara menggelar diskusi dan konsolidasi bertajuk Ngobrol Filantropi dan Silaturahmi (Ngopi Silat). Kegiatan berlangsung di Gedung PWM Sumatera Utara, Kota Medan, Rabu (4/11/2026) ini digelar untuk memperkuat ekosistem kedermawanan Islam dalam mengentaskan kemiskinan struktural.
Forum ini menghadirkan Wakil Ketua MPKS Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang juga Associate Professor FEB UHAMKA, Faozan Amar, yang merupakan Direktur Eksekutif Lazismu Pusat pertama. Acara dihadiri Mohd. Yusri Isfa dan Robie Fanreza selaku Ketua dan Sekretaris MPKS PWM Sumut, Putrama Al-Khair dan Muhammad Irsyad selaku Ketua dan Sekretaris Lazismu PWM Sumut beserta jajarannya.
Dalam pemaparannya, Faozan Amar menegaskan pentingnya mereorientasi gerakan filantropi Islam agar tidak terjebak pada pendekatan karitatif atau sekadar pembagian bantuan konsumtif jangka pendek. Menurutnya, potensi besar Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) harus diarahkan pada program-program pemberdayaan ekonomi yang produktif dan berkesinambungan.
"Filantropi Islam melalui instrumen ZISWAF tidak boleh berhenti hanya pada aksi tanggap darurat. Berdasarkan Teologi Al-Ma'un yang diwariskan KH Ahmad Dahlan, lembaga pelayanan sosial Muhammadiyah harus hadir menghimpun dan mendayagunakan dana umat sebagai solusi atas persoalan keumatan, seperti kemiskinan dan kebodohan," ujar Faozan.

Faozan yang juga Associate Professor FEB UHAMKA ini mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan gerakan filantropi di Indonesia dapat berkembang pesat. Pertama, ajaran agama dan tingginya kesadaran beragama masyarakat untuk membantu sesama. Kedua, budaya gotong royong yang sudah menjadi tradisi mendalam bangsa Indonesia. Ketiga, akselerasi teknologi digital yang semakin memudahkan masyarakat dalam berderma kapan saja dan di mana saja.
Faozan menambahkan, penguatan daya beli dan kesejahteraan masyarakat rentan saat ini membutuhkan sinergi yang solid antara pengelola dana kedermawanan dan eksekutor program sosial di lapangan. Kehadiran Lazismu sebagai penghimpun dan MPKS sebagai pengelola jaringan pelayanan sosial harus menjadi dwitunggal yang makin padu dalam mentransformasi status mustahik (penerima manfaat) menjadi muzakki (pemberi zakat).
Sementara itu, jajaran pimpinan dari MPKS PWM dan Lazismu Sumatera Utara menyambut baik akonsolidasi gagasan ini. “Kita manfaatkan kehadiran Bang Faozan di Medan untuk memberikan pencerahan tentang strategi filantropi yang efektif”, kata Robie yang memandu acara diskusi. Melalui agenda Ngopi Silat, diharapkan gerakan filantropi dan pelayanan sosial di Sumatera Utara semakin terstruktur, transparan, dan memberikan dampak nyata yang luas bagi kemaslahatan umat.