TANGSEL, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah perlu memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengembangan usaha produktif, jaringan ritel, kemitraan dengan pelaku UMKM, serta pengelolaan aset yang berorientasi pada kesejahteraan umat.
Agenda tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam pembahasan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji, pada Hari Bermuhammadiyah Kota Tangerang Selatan, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang Selatan di Ahmad Dahlan Sport Center, SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, mengangkat tema “Membangun Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah untuk Dakwah Kesejahteraan Umat”.
Bagi Muhammadiyah, ekonomi bukan sekadar urusan memperoleh pendapatan atau memperbesar aset organisasi. Kekuatan ekonomi diperlukan agar dakwah, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial memiliki sumber pembiayaan yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak masa KH Ahmad Dahlan, perkembangan Muhammadiyah ditopang oleh semangat kemandirian, partisipasi masyarakat, dan dukungan kalangan saudagar. Tradisi memberi, berusaha, dan membangun jaringan sosial menjadi bagian penting dalam menopang gerakan.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah perlu mengintegrasikan kekuatan organisasi, amal usaha, jaringan anggota, dan potensi ekonomi lokal ke dalam suatu ekosistem yang saling menguntungkan. Saudagar Muhammadiyah tidak cukup bergerak sendiri-sendiri, tetapi perlu membangun kemitraan yang memungkinkan produk dan jasa mereka berkembang melalui jaringan yang lebih luas.
Salah satu peluang strategisnya ialah pengembangan jaringan ritel yang melibatkan UMKM. Melalui jaringan tersebut, produk anggota dan masyarakat dapat memperoleh akses pasar, sementara gerai ritel menjadi sarana distribusi yang memperkuat perputaran ekonomi di lingkungan persyarikatan.
Namun, keberhasilan jaringan ritel tidak cukup mengandalkan semangat organisasi. Diperlukan model bisnis yang sehat, pengelolaan profesional, standar mutu produk, sistem distribusi yang efisien, dukungan teknologi, dan kemitraan pendanaan yang transparan.
Di Tangerang Selatan, pengembangan ekosistem ini dapat dimulai dengan memetakan pelaku UMKM Muhammadiyah dan Aisyiyah, mengidentifikasi produk unggulan, serta membangun jaringan pemasaran bersama. Gerakan tersebut dapat diperkuat melalui koperasi, kemitraan usaha, pengadaan bersama, dan pengembangan gerai yang disesuaikan dengan kemampuan pasar.
Pada tingkat yang lebih luas, Muhammadiyah juga dapat mengembangkan korporasi sosial keagamaan, yakni badan usaha profesional yang mengintegrasikan keberlanjutan bisnis dengan manfaat sosial. Keuntungan usaha dapat dialokasikan untuk memperkuat pelayanan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan program kesejahteraan.
Pengelolaan dana abadi menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan untuk menopang kesinambungan program sosial. Demikian pula rencana usaha berskala besar, termasuk pengelolaan sumber daya alam, harus didasarkan pada kajian kelayakan, tata kelola yang kuat, kepatuhan terhadap regulasi, serta pertimbangan dampak lingkungan dan sosial.
Kemandirian ekonomi juga tidak berarti menutup diri dari pemerintah. Kerja sama dengan pemerintah dan mitra usaha dapat memperluas peluang, sepanjang dijalankan secara transparan dan tetap menjaga otonomi persyarikatan.
Bagi Muhammadiyah Tangerang Selatan, agenda berikutnya adalah mengubah gagasan menjadi program yang terukur: membangun basis data UMKM, mempertemukan saudagar, menyusun rencana bisnis, mengembangkan jaringan ritel, serta menetapkan indikator keberhasilan yang jelas.
Pesan pentingnya, perbedaan yang tidak mendasar jangan sampai menghambat kerja bersama. Potensi organisasi akan lebih besar apabila energi digunakan untuk membangun usaha produktif dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, ekonomi Muhammadiyah tidak berhenti pada pertumbuhan bisnis, tetapi menjadi jalan menuju dakwah kesejahteraan: usaha yang berkelanjutan, anggota yang berdaya, UMKM yang berkembang, dan masyarakat yang memperoleh manfaat nyata.

