Muhammadiyah Besar Karena Sadar Literasi
Penulis: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM Bantul, Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY
Tahun 2010 – 2015 saya pernah diminta oleh Ketua Majelis Pustaka dan Informatika (MPI) PDM Bantul, Pak Waluya JPe (alm) untuk membantunya sebagai sekretaris. Pengalaman singkat itu membuahkan pemahaman dalam diri saya bahwa kebesaran Muhammadiyah saat ini ditunjang oleh kuatnya kesadaran literasi para pendirinya.
Bayangkan, pada saat warga pribumi di Hindia Belanda mayoritas masih buta huruf, Kyai Dahlan telah mendirikan Taman Pustaka sebagai salah satu pilar pertama Muhammadiyah. Pilar literasi ini mengawali hadirnya Muhammadiyah bersama pilar Pendidikan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan Perempuan.
Literasi relevan dikupas dalam konteks perkembangan organisasi Islam, karena wahyu pertama yang diterima Rasulullah Muhammad SAW adalah perintah membaca. Nampaknya Kyai Dahlan mendefinisikan literasi dalam konteks Muhammadiyah bukan sekedar membaca.
Dengan demikian literasi dapat membangun pemahaman untuk diaktualisasikan sebagai amaliah nyata. Maka di dalam Muhammadiyah dikenal semboyan berilmu amaliah dan beramal ilmiah.
Akar Historis Literasi Muhammadiyah
Jauh sebelum mendirikan Muhammadiyah, Kyai Dahlan telah menanamkan praktik literasi yang baik kepada para santrinya. Tentu pembaca sudah mengetahui cerita Kyai Dahlan dalam mengajarkan Surah Al Ma’un.
Umumnya saat itu orang ngaji ya hanya membaca dan menghafal. Tapi Kyai Dahlan bener-bener memastikan para santrinya paham hingga mau mengamalkan perintah dari Al Ma’un.
Dengan demikian para santrinya mampu menggali isi Al Quran sekaligus menjadikannya sebagai pedoman hidup untuk diamalkan dalam kehidupan. Kyai Dahlan memaknai literasi sebagai garansi mutu agar gerakan dakwahnya membawa manfaat nyata.
Taman Pustaka (kini MPI) Pilar Gerakan Berkemajuan
Kyai Dahlan memilih gerakan literasi sebagai salah satu pilar awal berdirinya Muhammadiyah dengan mendirikan Taman Pustaka. Pilihan ini menggambarkan harapan Kyai Dahlan agar persyarikatannya menjadi pusat keunggulan termasuk ilmu pengetahuan.
Kyai Dahlan tentu sosok yang adaptif, sehingga mampu memotret fenomena masalah yang mendera umat Islam. Selanjutnya memetakan pendekatan yang tepat sebagai solusinya.
Lima pilar awal yang dipilih untuk membangun Muhammadiyah adalah strategi Mbah Kyai Dahlan untuk menjawab masalah yang telah dipetakan. Kemampuan adaptif Sang Kyai sudah pasti dibangun melalui proses tradisi berliterasi yang panjang.
Maka gerakan persyarikatan ini cocok menjadi solusi permasalahan umat Islam Jawa di awal abad ke-20, yang identic dengan kebodohan, miskin, kotor, tidak higienis, sakit-sakitan, dan pikiran serta keyakinannya tersandera tahayul.
Walhasil, umat Islam menyambut hangat hadirnya Muhammadiyah yang melaju dengan gerakan pendidikan, tabligh, sosial, pemberdayaan Perempuan, dan literasi. Dampaknya, pengajian-pengajian Muhammadiyah cepat berkembang di berbagai kota.
Akses Pendidikan pribumi yang sempit juga terjawab oleh berdirinya sekolah Muhammdiyah. Termasuk Soeharto kecil yang miskin, tertampung sekolah di Schakel Muhammadiyah.
Gara-gara punya ijazah asli sekolah ini, Soeharto muda bisa hidup mapan sebagai sersan KNIL. Status sosial yang keren di masa colonial, tanpa bekal ijazah Schakel School, Soeharto hanya bisa ikut seleksi serdadu rendahan (fuselier) yang harus mengabdi 10 tahun untuk bisa mencapai pangkat kopral KNIL.
Soeharto mungkin terinspirasi dari Muhammadiyah, sehingga akses Pendidikan di kemudian hari dibangun besar-besaran saat memimpin Indonesia. Pada masa orde baru, melalui instruksi presiden (INPRES) tentang wajib belajar 6 tahun, sekolah-sekolah dibangun. Maka Sekolah Dasar yang dibangun di zaman Presiden Soeharto diberi nama SD INPRES.
Emansipasi Wanita ala Kartini yang membuat Perempuan bisa belajar baca tulis, di masa colonial sudah sangat hebat. Pada masa itu, Muhammadiyah sudah berfikir dan bergerak untuk pemberdayaan Perempuan.
Perempuan Jawa dahulu geraknya dibatasi hanya sebagai konco wingking, tidak jauh dari perkara dapur dan mengurusi rumah. Oleh Ahmad Dahlan di awal berdirinya Muhammadiyah para Perempuan sudah didorong pinter dan bergaul secara luas.
Maka hari ini banyak perempuan terpelajar, kita juga memiliki Aisyiyah yang mampu membangun Lembaga Pendidikan dari usia dini hingga universitas, serta banyak rumah sakit di Indonesia.
Fasilitas sosial dan Kesehatan Muhammadiyah juga menjamur di Indonesia. Tidak hanya rumah sakit dan panti asuhan, bahkan kita memiliki LAZISMU yang akuntabel dan selalu meraih predikat wajar tanpa pengecualian dalam auditnya.
Merawat Tradisi Literasi
Semua capaian prestasi Muhammadiyah saat ini, pada dasarnya adalah buah dari tradisi literasi. Tidak ada ceritanya orang mampu berdakwah, membangun dan mengurusi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, ambulan sosial, bahkan sampai olahraga , tanpa diawali tradisi literasi yang baik.
Sejatinya semua urusan baik kehidupan kita di dunia maupun akherat kelak dapat sukses apabila kita menguasai ilmunya. Maka literasi itu penting, karena dapat memberikan kita pemahaman sehingga adaptif dalam merespon semua persoalan.
Tantangan kita hari ini adalah merawat dan mewariskan tradisi literasi dalam keluarga besar Muhammadiyah. Budaya literasi harus mewarnai setiap entitas keluarga Muhammadiyah. Salam.
