Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang: Kreatif Menggembirakan Suasana Muktamar NU
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Wakil Sekertaris LPCRPM PP Muhammadiyah
“Saya bersama anak dan istri mau makan bakso gratis dari Muhammadiyah dulu ya, Pak. Setelah itu baru saya antar ke stasiun,” ujar seorang tukang becak yang baru saja menurunkan anak dan istrinya. Setelah itu, ia membaur dengan warga lain yang hendak menikmati bakso yang disediakan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang.
Saya bangga mendengar ucapan itu. Sore itu, saya memang hendak pergi ke Stasiun Jombang menggunakan jasa becak motor. Sebelumnya, selama beberapa jam saya ikut nongkrong dan melihat langsung apa yang dilakukan Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang di tengah ramainya hajatan Muktamar NU di Tambakberas, Jombang.
Siang itu, matahari cukup terik, seolah membakar bumi Desa Tambakberas. Ribuan warga berkumpul di sana. Mereka datang dan pergi, ikut menyemarakkan suasana Muktamar NU yang dihelat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Masjid, musala, asrama santri, dan rumah-rumah penduduk di sekitar lokasi nyaris tidak ada yang kosong. Mulai dari dalam rumah hingga pelataran, tempat-tempat tersebut dipenuhi para pengunjung Muktamar. Suasananya sungguh meriah.
Setiba di desa itu, saya langsung berteduh di sebuah rumah sederhana di sebuah pertigaan. Lokasinya sekitar 1 km dari lokasi utama Muktamar NU ke-35. Meski cukup jauh dari arena utama Muktamar, tempat ini sangat strategis dan ramai dikunjungi orang yang hendak melihat-lihat atau menghadiri acara Muktamar.
Suara anak-anak pelajar terdengar bersahut-sahutan menawarkan makanan, seperti bakso, telur rebus, dan minuman gratis kepada siapa saja yang melewati wilayah itu. Sementara anggota KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) sibuk mengatur lalu lintas dan melayani warga yang mengantre untuk menikmati kudapan yang disediakan oleh Posko Muhammadiyah.
Membangun Posko Layanan Warga
Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang menggunakan dua rumah kosong milik warga Muhammadiyah sebagai tempat pelayanan bagi warga di sekitar lokasi Muktamar. Rumah itu mereka namai POSKO MUHAMMADIYAH. Tempat ini sangat strategis karena berada tepat di pertigaan jalan besar, sekitar 1 km dari lokasi penyelenggaraan Muktamar NU.
Di depan posko, tepatnya di pinggir jalan raya, warga Muhammadiyah dan Aisyiyah menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa dinikmati secara gratis. Selain makanan, warga juga bisa melakukan pengecekan kesehatan secara cuma-cuma. Jika ada indikasi sakit, tersedia pula obat-obatan yang bisa diperoleh secara gratis.
Begitu masuk ke dalam rumah yang menjadi posko, ibu-ibu Aisyiyah Jombang dengan ramah langsung mempersilakan saya duduk dan menikmati berbagai sajian makanan yang mereka sediakan. Ada rawon, sayur lodeh, tahu, tempe, bihun goreng, ayam goreng, kerupuk, telur, dan berbagai makanan lainnya. Semua tersaji dengan rapi di atas meja dan boleh disantap oleh siapa saja. Meja-meja yang berjajar di depan saya pun penuh dengan berbagai makanan dan buah-buahan: nanas, jeruk, pisang, dan lain sebagainya.
Dalam sehari, posko kesehatan Muhammadiyah ini bisa melayani hampir 150 orang, mulai dari pengecekan tekanan darah hingga pemeriksaan laboratorium sederhana. Layanan kesehatan tersebut didukung oleh beberapa rumah sakit dan klinik milik Muhammadiyah, seperti RS PKU Mojoagung, Klinik PKU, serta rumah sakit Muhammadiyah yang berada di Jombang, Lamongan, Gresik, dan Mojokerto.
Untuk layanan makanan, tersedia pula ribuan mangkuk bakso yang disiapkan bagi warga dan siapa pun yang datang atau melewati wilayah tersebut. Tidak perlu ditanya apakah mereka peserta Muktamar, penggembira, tamu dari luar desa, atau sekadar warga yang kebetulan lewat. Semua boleh menikmati.
Hingga Ahad, 30 Agustus, pukul 13.00, tercatat sebanyak 12.600 mangkuk bakso telah didistribusikan. Selain itu, 10.000 telur rebus juga telah habis dibagikan kepada warga. Sebanyak 10 mobil ambulans juga telah melayani warga yang membutuhkan.
Melayani Tanpa Syarat
Saya ditemani oleh Ketua LPCRPM PDM Jombang, Ust. Mukriono. Ia menjelaskan bahwa gagasan membangun POSKO MUHAMMADIYAH ini memang diniatkan secara khusus untuk menggembirakan warga Tambakberas.
“Kami ingin menghormati para tamu yang datang, sekaligus melayani dengan tulus demi terjalinnya persaudaraan. Tidak lebih,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya cukup dalam. Tidak ada kepentingan lain. Siapa saja boleh datang, makan, minum, atau memeriksakan kesehatan.
Untuk mewujudkan gagasan baik itu, Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang terlebih dahulu berkoordinasi dengan panitia lokal Muktamar NU. Meskipun niatnya baik, komunikasi dengan pihak penyelenggara tetap penting dan harus didahulukan. Alhamdulillah, prosesnya berjalan lancar. Bahkan, gagasan tersebut disambut dengan suka cita.
“Tidak ada halangan apa pun dalam proses persiapannya,” ujarnya.
Menjelang pelaksanaan, gagasan tersebut ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak. Ada yang menyumbang telur, buah-buahan, minuman, dan berbagai kebutuhan lainnya. LAZISMU Jombang juga ikut menyediakan kebutuhan makanan untuk warga yang datang ke posko.
Muktamar di Luar Ruang Sidang
Saya dan Ust. Mukriono kemudian ngobrol panjang lebar hingga berkeliling ke berbagai sudut lokasi Muktamar. Kami tidak masuk ke ruang sidang. Lagi pula, kami memang tidak memiliki kepentingan untuk berada di dalamnya.
Bagi kami, melihat suasana di luar ruang sidang, memotret pernak-pernik Muktamar, dan menikmati kemeriahan yang ada sudah sangat menyenangkan. Ada begitu banyak pedagang yang menjajakan berbagai macam barang dan makanan. Ada warga yang datang dan pergi. Ada anak-anak muda yang sibuk membantu berbagai kegiatan. Ada KOKAM, BANSER yang mengatur lalu lintas. Ada ibu-ibu Aisyiyah yang sibuk menyiapkan makanan. Ada pula warga yang sekadar duduk, makan, minum, dan berbincang meriah.
Suasana seperti ini sering saya jumpai ketika menghadiri perhelatan Muktamar Muhammadiyah. Di luar arena sidang, selalu ada kehidupan yang bergerak dan ikut menjadi bagian dari kemeriahan Muktamar. Dalam suasana Muktamar NU kali ini, saya menemukan Muhammadiyah dan Aisyiyah hadir dengan caranya sendiri. Bukan untuk masuk ke ruang sidang, bukan pula untuk ikut dalam proses pemilihan atau terlibat dalam hiruk-pikuk di dalamnya. Muhammadiyah dan Aisyiyah hadir untuk melayani warga, dengan semangat persaudaraan dan kemanusiaan.
Semangkuk bakso mungkin terlihat sederhana. Pemeriksaan tekanan darah mungkin juga bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi ketika semua itu diberikan dengan tulus kepada siapa saja, tanpa membedakan siapa mereka, di situlah persaudaraan menemukan bentuknya yang sederhana.
Bagi saya, Muktamar bukan hanya tentang sidang dan pemilihan kepemimpinan. Di luar ruang sidang, ada suasana lain yang tidak kalah menarik. Ada warga yang datang, pedagang yang berjualan, anak-anak muda yang terlibat dalam berbagai kesibukan, ada reunian dan silaturahmi.
Di tengah semua itu, Muhammadiyah dan Aisyiyah Jombang memilih cara sederhana untuk ikut menggembirakan suasana Muktamar NU: melayani siapa saja dengan tulus.

