WAJO, Suara Muhammadiyah – Di tengah ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Niño, Muhammadiyah kembali menegaskan jati dirinya sebagai gerakan Islam yang menghadirkan solusi bagi persoalan umat. Melalui Lazismu Sulawesi Selatan, berkolaborasi dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Sulsel dan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Muhammadiyah meresmikan pemanfaatan Wakaf Sumur Bor di Lingkungan Salompare, Kelurahan Belawa, Kabupaten Wajo, Selasa (28/7/2026).
Program tersebut diresmikan oleh Ketua PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., didampingi Ketua Badan Pengurus Lazismu Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Mahmuddin, M.Ag., Ketua MPM PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, M.Si., M.Pd., M.M., serta disaksikan Camat Belawa, Arifuddin Arman, S.Kom., S.H., M.Si.
Bagi Muhammadiyah, menghadapi El Niño tidak cukup hanya dengan rasa prihatin. Persyarikatan memilih jalan ikhtiar melalui ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. Wakaf sumur bor menjadi bukti bahwa filantropi Islam mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan kehidupan.
Ketua PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja dan berikhtiar, bukan menggantungkan harapan pada praktik-praktik yang tidak memiliki dasar tuntunan agama.
"Muhammadiyah mengajarkan kita untuk berusaha. Jangan berharap datangnya pertolongan tanpa ikhtiar. Karena itu seluruh majelis dan lembaga harus aktif turun ke masyarakat, saling berkolaborasi menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan umat," ujarnya.
Menurut Ambo Asse, Muhammadiyah telah membangun berbagai instrumen dakwah yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pembinaan mualaf melalui Muallaf Center hingga pendampingan petani melalui Jamaah Tani Muhammadiyah. Lazismu menjadi kekuatan filantropi yang menggerakkan pembiayaan sosial agar dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Mahmuddin, M.Ag., mengatakan pembangunan sumur bor lahir dari hasil asesmen terhadap persoalan yang dihadapi petani.
"Masalah utama mereka adalah air. Ketika kemarau datang, lahan menjadi tandus dan tidak lagi produktif. Karena itu kami bersama MPM dan Jamaah Tani Muhammadiyah membangun sistem pompanisasi melalui wakaf sumur bor agar lahan kembali hidup dan petani tetap dapat berproduksi," katanya.
Ia menegaskan, Lazismu ingin mengembangkan filantropi Islam yang tidak hanya menyalurkan bantuan sesaat, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui program-program produktif.
Sementara itu, Ketua MPM PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, M.Si., M.Pd., M.M., menyebut kolaborasi tersebut merupakan wujud gerakan pemberdayaan Muhammadiyah.
"Kami bersyukur petani mulai merasakan manfaatnya. Sebelumnya kami juga telah berkolaborasi dalam program bantuan peternak bebek petelur beserta pakan. Program seperti ini akan terus kami dampingi agar berkembang dan benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Camat Belawa, Arifuddin Arman, S.Kom., S.H., M.Si., mengapresiasi kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat Belawa.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah melalui Lazismu, MPM, dan Jamaah Tani Muhammadiyah yang telah membantu penyediaan air bagi lahan pertanian masyarakat. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi kesejahteraan warga," katanya.

