MOROWALI, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Morowali terus berbenah dengan memperkuat struktur organisasi di tingkat cabang. Langkah ini tampak jelas melalui pembentukan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bahodopi yang resmi ditetapkan dalam sebuah musyawarah yang berlangsung khidmat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi konsolidasi organisasi untuk memperluas jangkauan dakwah di wilayah Kabupaten Morowali.
Musyawarah pembentukan tersebut digelar pada Ahad (12/4/2026), di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara tertib. Mereka membahas agenda secara sistematis hingga akhirnya mencapai mufakat bersama. Selain itu, forum ini juga menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat antar kader.
Lebih lanjut, kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Morowali, Taufan Tanjing. Ia hadir bersama Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik, Ustadz Sumarto Silangkap, S.H., S.H.I. Kehadiran keduanya tidak hanya memberikan legitimasi, tetapi juga memperkuat arah gerak organisasi ke depan.
Dalam musyawarah tersebut, menetapkan Haykal Makmun, S.Sos. sebagai Ketua PCM Bahodopi periode 2022–2027. Kemudian, Rusfandi Sabir, S.Ag. dipercaya sebagai sekretaris. Sementara itu, Hastuti, S.E. mengemban amanah sebagai bendahara. Susunan ini terbentuk melalui mekanisme musyawarah mufakat yang berjalan dinamis dan partisipatif.
Selanjutnya, peserta juga menyepakati pembentukan tiga Pimpinan Ranting Muhammadiyah sebagai basis gerakan di tingkat desa. Pertama, ranting Lalampu menunjuk Ichal, S.Pd. sebagai ketua. Kedua, ranting Bahodopi menetapkan Abd Rachman sebagai ketua. Ketiga, ranting Labota mempercayakan kepemimpinan kepada Wawan Setiawan, S.Pd. Dengan demikian, struktur organisasi menjadi lebih lengkap dan terarah.
Di sisi lain, forum juga menegaskan pentingnya percepatan penyusunan struktur lanjutan. Oleh karena itu, tim formatur diminta segera melengkapi komposisi kepengurusan baik di tingkat cabang maupun ranting. Langkah ini dinilai penting agar program kerja dapat berjalan efektif dan terukur.
Tidak hanya itu, peserta musyawarah juga menekankan perlunya sinergi lintas sektor. Mereka mendorong kolaborasi antara pimpinan cabang dan ranting agar program dakwah semakin menyentuh kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, organisasi mampu menghadirkan manfaat yang nyata di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Sejalan dengan itu, Muhammadiyah Morowali terus berbenah dengan mengedepankan prinsip profesionalisme dan integritas. Para pimpinan yang terpilih diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Mereka juga diharapkan mampu menghadirkan inovasi dalam setiap program kerja yang dirancang.
Lebih jauh lagi, pembentukan PCM Bahodopi menjadi momentum penting dalam memperkuat eksistensi organisasi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Muhammadiyah Morowali terus berbenah secara berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya berfokus pada struktur, tetapi juga pada kualitas gerakan dakwah yang lebih progresif.
