Muhammadiyah Pekalongan Konsolidasi Benahi Organisasi Hingga Pendataan Warga

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

308
Muhammadiyah Pekalongan

Muhammadiyah Pekalongan

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan merapatkan barisan melalui konsolidasi organisasi di Masjid Hj Mutimah Dahlan, Kecamatan Doro, Ahad (13/9/2026).

Forum tersebut diikuti Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan organisasi otonom (ortom) tingkat daerah. Selain mengevaluasi4 capaian kinerja selama 2026, konsolidasi juga membahas pembenahan administrasi dan pendataan warga Muhammadiyah.

Administrasi memang menjadi bagian yang cukup menonjol dalam tradisi organisasi Muhammadiyah. Pendataan warga, pencatatan kegiatan, pelaporan kinerja hingga pengelolaan struktur menjadi bagian dari upaya menjaga organisasi tetap tertata.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono Kastari, mengatakan konsolidasi tersebut dilakukan untuk memperkuat barisan Muhammadiyah menuju organisasi yang modern, profesional dan maju.

"Untuk merapatkan barisan Muhammadiyah menuju MPM yaitu modern, profesional, dan maju," kata Mulyono.

Menurut dia, pembenahan organisasi dilakukan melalui sejumlah hal, termasuk protokoler serta pendataan warga menggunakan Satumu dan e-KTM.

"Yang jelas bahwa menguatkan dan memantapkan kita di dalam bermuhammadiyah, baik secara ideologi maupun secara kaidah dan organisasian," ujarnya.

Mulyono mengatakan pendataan warga menjadi salah satu perhatian karena organisasi membutuhkan data yang baik untuk menjalankan berbagai program. Selain itu, geliat gerakan jamaah di tingkat ranting dan amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga perlu diperkuat.

"Poin-poinnya ya, protokoler itu sendiri, kemudian bagaimana warga Muhammadiyah itu agar terdata dengan baik dengan Satumu dengan e-KTM, serta geliat gerakan-gerakan jamaah di ranting dan AUM-AUM itu menjadi lebih baik lagi," katanya.

PCM Doro Pilih Dakwah Humanis

Ketua PCM Doro, Amsorin, yang menjadi tuan rumah konsolidasi mengatakan forum tersebut diharapkan bisa menyatukan gerak Muhammadiyah dari tingkat cabang hingga ranting.

PCM Doro membawahi ranting-ranting yang menjadi ujung tombak dakwah di tingkat bawah. Karena itu, menurut Amsorin, kekuatan di berbagai lini perlu dihimpun agar program organisasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

"Harapan kami dari pimpinan cabang, kami kan membawahi ranting-ranting sebagai ujung tombak dakwah tingkat bawah, tentu bisa mengonsolidasikan kekuatan di semua lini agar satu gerak dan langkah, apa yang jadi program kita bisa terwujud," kata Amsorin.

Amsorin juga bercerita tentang tantangan Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah di Doro. Masyarakat di wilayah tersebut mayoritas beragama Islam, namun secara kultur warga Nahdliyin lebih dominan.

Kondisi itu membuat PCM Doro memilih pendekatan dakwah yang lebih humanis. Mereka berusaha menunjukkan keberadaan Muhammadiyah melalui kegiatan dan aksi yang bisa dilihat langsung masyarakat.

"Tantangannya, kami yang mayoritas Islam tapi kan nahdliyin yang mayoritas, maka kami kedepankan dakwah humanis. Muhammadiyah tidak pandai berkata-kata namun selalu hadir dengan aksi nyata," ujarnya.

Masjid Hj Mutimah Dahlan menjadi salah satu contoh yang disebut Amsorin. Pembangunan masjid tersebut sempat menghadapi kendala. Bahkan, kata dia, ada pihak internal yang sempat meragukan pembangunan tersebut.

"Seperti pembangunan masjid ini, awalnya kami sempat mendapatkan kendala, bahkan dari internal, banyak yang mengecilkan kami, tapi kami yakin Allah menolong kami," katanya.

Ingin Dekati Petani Durian dan Kopi

Setelah membangun kekuatan organisasi dan dakwah, Amsorin melihat masih ada kelompok masyarakat yang belum banyak disentuh Muhammadiyah Doro, yakni pedagang dan petani.

"Tantangan kedua, kami belum dapat menyentuh hal-hal nyata yang sebenarnya bisa jadi kekuatan PCM Doro, seperti pedagang dan petani," ujarnya.

Menurut Amsorin, sektor pertanian di Doro memiliki potensi besar. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan penghasil durian dan kopi. Namun, pengelolaan pertanian, terutama durian, menurut dia masih banyak dilakukan dengan cara tradisional.
4
Padahal, teknologi pertanian bisa menjadi salah satu jalan untuk membantu petani mengembangkan usaha mereka.

"Sumber pertanian ini sumbernya luar biasa, teknologi pertanian potensinya besar karena di sini sentra durian dan kopi. Petani durian selama ini dilihat masih berjalan tradisional sekali," katanya.

Karena itu, Amsorin berharap Muhammadiyah mulai masuk ke bidang pertanian dan perkebunan. Bukan sekadar membawa nama organisasi, tetapi ikut mencari jalan agar potensi yang sudah dimiliki warga Doro bisa berkembang.

"Berharap Muhammadiyah bisa terjun ke bidang pertanian dan perkebunan," ujar Amsorin. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bandung sukses menggelar....

Suara Muhammadiyah

26 November 2023

Berita

TEGAL, Suara Muhammadiyah – Kebertahanan sampai 113 tahun Muhammadiyah, menjadi ruang kontempl....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Sudan menyelenggar....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Berita

BANJARNEGARA, Suara Muhammadiyah – Ribuan jamaah dari berbagai unsur Persyarikatan Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

6 July 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota ....

Suara Muhammadiyah

7 October 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah