MUI Siap Jadi Mitra Pemerintah Wujudkan Swasembada Pangan dan Ekonomi

Suara Muhammadiyah

25 July 2026

449
Zulkifli Hasan

Zulkifli Hasan

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Melihat situasi bangsa saat ini, Menko Pangan Zulkifli Hasan menilai indeks demokrasi di Indonesia cenderung kebablasan. Dimana sistem pasar bebas membuat rakyat Indonesia tak berdaya menghadapi persaingan dari luar, khususnya di bidang pangan dan ekonomi. Oleh sebab itu, menurut Zulhas, swasembada pangan menjadi langkah jitu yang diambil pemerintah untuk menghadapi tantangan kedaulatan negara di masa depan. 

"Swasembada pangan adalah kehormatan kita sebagai bangsa yang berdaulat," ujarnya dalam Kongres Umat Islam Indonesia ke-8 di Hotel Bidakara Jakarta Selatan pada Sabtu, 25 Juli 2026. 

Ia sepakat bahwa swasembada pangan dapat menjadi salah satu kunci yang dapat membawa Indonesia maju menjadi negara berdaulat. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, upaya ini terus dikawal secara serius melalui berbagai program strategis, diantaranya subsidi pupuk yang semakin mudah diakses oleh para petani, produk pertanian lokal yang mulai diserap oleh pasar, serta harga produk pertanian yang mulai mampu bersaing. Dalam hal ini, petani menjadi pihak yang diuntungkan dalam percaturan ekonomi. Capaian ini menurut Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi kabar gembira bagi masyarakat di akar rumput.

"Hasil ini tak jarang membuat para petani mulai berani mencicil motor dengan cicilan 1 juta per bulan," ungkapnya. 

Mengapa swasembada di berbagai sektor menjadi sesuatu yang sangat penting. Zulhas menjelaskan, situasi dunia yang dihadapkan pada persoalan geopolitik global yang semakin memanas, setiap negara akan mengutamakan kepentingan negaranya masing-masing. Artinya, jika terjadi perang dalam skala besar, Indonesia harus mampu bertahan tanpa mengharapkan bantuan dari luar. 

Dalam hal ini kemandirian menjadi kunci penting. Melalui tata kelola kebijakan yang tepat, serta didorong dengan integritas yang tinggi, ia menegaskan bahwa Indonesia mampu keluar dari lubang ketergantungan dari negara lain. Impor dapat di-stop. Bahkan produk pertanian nasional mengalami surplus yang sesuai harapan.

"Kita tidak boleh lagi ribut masalah celana cingkrang atau jenggot. Yang boleh kita ributkan di forum ini terkait bagaimana caranya mengentaskan masyarakat kita yang masih miskin," ujarnya. 

Ia mengatakan, sudah saatnya Kongres Umat Islam Indonesia menjadi wadah yang berfokus pada masalah-masalah konkrit di masyarakat bawah. Mencari dan memberi solusi alternatif bagi mereka yang nasibnya berada diujung tanduk. Hanya melalui jalan inilah menurut Zulhas, masyarakat akan menaruh hormat kepada forum terbesar ormas Islam tanah air. 

Menurutnya, dalam waktu 18 bulan, sudah banyak hal telah dilakukan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Di antaranya, keberpihakan pemerintah kepada masyarakat akar rumput yang semakin jelas, serta mengembalikan kekayaan alam ke pangkuan Ibu Pertiwi. 

"Kita lihat di banyak pemberitaan, 4 juta kebun ilegal berhasil dikuasai negara. Penerapan ekspor impor satu pintu untuk mencegah kerugian negara," paparnya. 

"Musuh kita yang sesungguhnya adalah ketertinggalan," ia menutup orasinya. (diko)

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bekerja....

Suara Muhammadiyah

28 April 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Penasihat Presiden bidang Haji Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Ef....

Suara Muhammadiyah

12 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pi....

Suara Muhammadiyah

28 January 2025

Berita

GRESIK, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik menyelenggarakan sosialisasi ....

Suara Muhammadiyah

15 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah