Mukmin Tangguh Lulusan Madrasah Ramadhan

Publish

22 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
100
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mukmin Tangguh Lulusan Madrasah Ramadhan

Oleh: Moh. As Syakir Hasbullah, Imam Masjid Ahmad Dahlan Sumodikaran, Bojonegoro, Jawa Timur

Imam Syafi’i pernah merumuskan tiga indikator berat sebagai tolok ukur kualitas iman seseorang: “Bermurah hati di saat kekurangan, bersikap wara’ ketika sendirian, dan berbicara benar di hadapan orang yang diharapkan sekaligus ditakuti.”

Bagi jiwa yang imannya rapuh, ketiga hal ini terasa nyaris mustahil dijalani. Namun Islam tidak membiarkan hamba-Nya tetap lemah. Ramadhan hadir sebagai “kawah candradimuka”—madrasah intensif yang menempa mentalitas mukmin agar bertransformasi menjadi pribadi tangguh melalui keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Melawan Kikir di Masa Sulit

Ketangguhan pertama diuji melalui harta. Menjadi dermawan saat kelapangan adalah hal biasa, tetapi tetap berbagi di tengah keterbatasan adalah puncak kesalehan sosial. Ramadhan melatihnya melalui rasa lapar yang menumbuhkan empati secara organik, bukan sekadar wacana.

Allah Swt. menegaskan bahwa ciri orang bertakwa ialah mereka yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit (QS. Ali Imran: 134). Rasulullah Saw. pun mencontohkan ketangguhan ini: beliau adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya memuncak pada bulan Ramadhan, bahkan digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus (HR. Bukhari).

Di sinilah Ramadhan menempa kita untuk memutus ketergantungan pada materi, lalu beralih pada semangat ta’awun (tolong-menolong). Kesalehan tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi menjelma menjadi kekuatan sosial yang menguatkan ekonomi umat.

Integritas dalam Kesunyian

Ketangguhan kedua adalah integritas pribadi. Mukmin tangguh tidak memiliki “wajah ganda”: tetap saleh di tengah keramaian dan tetap terjaga dalam kesunyian. Inilah hakikat wara’. Puasa adalah ibadah rahasia yang melatih kejujuran personal di hadapan Sang Khaliq.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’.” (HR. Ath-Thabrani). Saat seseorang mampu menahan diri dari yang halal di ruang tertutup karena merasa diawasi Allah (muraqabah), saat itu ia sedang membangun benteng kesalehan pribadi yang kokoh.

Ramadhan melatih kita agar tidak mudah goyah oleh godaan maksiat. Integritas tetap tegak, bahkan ketika tidak ada pengawasan manusia. Inilah fondasi ketangguhan spiritual seorang mukmin.

Sintesis Ketangguhan: Keberanian Moral

Ketangguhan ketiga merupakan sintesis antara kedalaman kesalehan pribadi dan keluasan kepedulian sosial: keberanian moral. Banyak orang terjepit antara harapan dunia dan ketakutan pada manusia, sehingga memilih bungkam di hadapan kezaliman.

Teladan ketangguhan ini tampak pada Nabi Musa a.s. saat menghadapi Fir’aun. Beliau berdoa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.” (QS. Thaha: 25–27).

Mukmin yang “lulus” dari madrasah Ramadhan akan memiliki nyali menyampaikan kalimat al-haq, sebab ia sadar bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR. Abu Dawud). Inilah manifestasi mukmin tangguh yang menjalankan fungsi kontrol sosial demi kemaslahatan bersama.

Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan, melainkan momentum sinkronisasi antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Mukmin tangguh tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari tempaan amalan-amalan berat yang dijalani secara konsisten selama sebulan penuh.

Jika Ramadhan kita lalui dengan melatih kedermawanan, menjaga integritas, dan mengasah keberanian moral, insyaAllah kita akan lahir kembali sebagai pribadi kokoh—bukan hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga tangguh dan bermanfaat di tengah masyarakat.

Wallahu a‘lam bi al-shawab.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Insan Rabbani Episentrum Perubahan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Oleh: Agusliadi Massere Saya,....

Suara Muhammadiyah

7 November 2023

Wawasan

Islam dan Perang: Antara Perdamaian dan Pembelaan Diri Donny Syofyan Apakah Islam menganjurkan uma....

Suara Muhammadiyah

9 September 2024

Wawasan

Cahaya di Balik Air Mata: Menemukan Penghiburan Surgawi dalam Perjalanan Isra Mi’raj Penulis:....

Suara Muhammadiyah

16 January 2026

Wawasan

Kenakalan Remaja Sebuah Refleksi Keadaan Bangsa  Oleh: Dr. Amalia Irfani, M. Si, LPPA PWA Kalb....

Suara Muhammadiyah

31 March 2024

Wawasan

Muhammadiyah Menjawab Zaman Oleh: Saidun Derani Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Suarabaya ....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024