YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berakhirnya bulan Ramadhan, dan memasuki bulan Syawal, niscaya semua bergembira.
Namun, di sisi lain, perlu diserempakan dengan peninjauan hal paling fundamental: ketakwaan.
"Apa parameter sehingga seseorang dianggap meningkat ketakwaannya?" Tanya Muhammad Izzul Muslimin, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dibentangkan saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Jumat (20/3), ada tiga parameter. Yakni spiritual, sosial, dan materi/fisik. Hal ini berpokok pangkal dengan Qs Al-Baqarah ayat 177.
Secara redaksional, ayat ini menginformasikan kalau orang bertakwa tampak seimbang antara ketiga parameter tersebut.
Di sinilah ketakwaan tidak sekadar dibuktikan dalam bentuk semakin meningkatnya ibadah mahdah semata.
"Tetapi juga harus bisa diwujudkan dalam kualitas kehidupan pribadi dan kualitas kehidupan sosial," ujar Izzul.
Lebih jauh lagi, ketakwaan seseorang berimplikasi dengan interaksi sesama manusia. Sangat tidak rasional, jika seseorang bertakwa, di sisi lain, berlaku menyimpang dari ajaran Islam.
"Dalam skala yang lebih luas, orang beriman dan bertakwa adalah orang yang kehidupan pribadi dan sosialnya senantiasa membawa kebaikan dan manfaat, bukan pribadi yang membuat masalah dan merugikan orang lain," tegasnya.
Tetapi, tidak dapat dinafikan, hal demikian dalam pengejawantahannya tidak mudah. "Ketakwaan dan keimanan kita akan diuji," tekannya.
Demikian pula dalam konteks kehidupan rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, harus menunjukkan bisa menjalin interaksi sosial yang baik.
"Hal itu bisa membawa nilai manfaat yang sebesar-besarnya," jelasnya, menggarisbawahi dengan tidak melakukan tindakan subversif.
"Yang merugikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," imbuh Izzul lagi.
Izzul mengajak, agar momen bulan Syawal sebagai ruang untuk peningkatan segalanya. Lebih-lebih yang substansial, ihwal keimanan dan ketakwaan.
"Kita mulai dari diri kita sendiri (ibda' binafsik) berusaha menjadi manusia bertakwa yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari," serunya.
Jika setiap personal manusia beriman berusaha berbuat yang terbaik, maka kita akan menjadikan kehidupan bermasyarakat yang baik.
"Demikian juga kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan menjadi baik pula. Sehingga akan tercapai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," tandasnya. (Cris)
