BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Bertempat di Pesantren Modern Zam Zam Muhammadiyah Cilongok Banyumas, LP2 PP Muhammadiyah Kerjasama dengan Program 1000 Cahaya melaksanakan pelatihan Efisiensi dan Transisi Energi Listrik. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 pesantren yang tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta terdiri dari mudir dan wakil mudir yang membidangi sarana dan prasarana.
Sumber energi listrik di Indonesia saat ini masih didominasi oleh energi fosil. Komposisinya terdiri atas batu bara sebesar 62–64%, gas 16%, serta minyak dan sumber lainnya sekitar 1–3%. Sementara itu, energi terbarukan baru menyumbang sekitar 15–19% dari total produksi listrik nasional, yang meliputi tenaga air (hidro) 7%, biomassa 6%, panas bumi 4–5%, serta energi surya dan angin yang masih kurang dari 1%. Dari sisi kapasitas, pembangkit listrik berbasis energi terbarukan baru mencapai sekitar 14,4% dari total kapasitas nasional sebesar kurang lebih 107 GW. Pemerintah sendiri menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan menjadi 23% pada tahun 2025 dan mencapai 73,6% pada tahun 2060.
Di tengah ancaman krisis energi yang berpotensi terjadi di Indonesia, diperlukan upaya kolektif untuk menumbuhkan budaya hidup yang berorientasi pada efisiensi dan transisi energi listrik. Ketergantungan pada energi fosil seperti batu bara dan gas tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang karena sifatnya yang tidak terbarukan, ketersediaannya yang semakin terbatas, serta biaya yang cenderung meningkat.
Pesantren sebagai institusi pendidikan, sekaligus sebagai tempat tinggal maka pesantren memiliki tingkat konsumsi energi yang cukup signifikan. Oleh karena itu, pesantren sangat tepat mengikuti pelatihan ini untuk mempraktikkan efisiensi energi di lingkungan pesantren. Melalui penerapan budaya efisiensi energi, pesantren tidak hanya dapat menekan biaya operasional, tetapi juga mengalihkan penghematan tersebut untuk mendukung kegiatan pendidikan dan sosial lainnya.
Gagasan transisi menuju energi terbarukan seperti pemanfaatan panel surya, biogas, dan sistem pemanas ramah lingkungan perlu terus dikembangkan di lingkungan pesantren. Upaya ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dan dampak lingkungan, tetapi juga mendorong kemandirian energi pesantren, memperkaya pembelajaran tentang keberlanjutan, serta menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam penggunaan energi yang bersih dan hemat.
Pertama, memberikan pengetahuan serta meningkatkan kesadaran para pengelola pesantren mengenai pentingnya gaya hidup ramah lingkungan melalui penggunaan energi listrik yang lebih efisien di lingkungan pesantren. Kedua, mengidentifikasi praktik-praktik baik yang dapat mendorong terwujudnya perilaku hemat dan ramah energi di lingkungan pesantren. Ketiga, menumbuhkan gagasan-gagasan praktis yang dapat diterapkan dalam upaya efisiensi dan transisi energi di pesantren.
Wakil Direktur Program 1000 Cahaya, Sudarto Kasim dalam sambutanya menyampaikan bahwa isi pelatihan ini tentu tidak menjadi menarik jika kita hanya bicara penghematan 1 Kwh, yang kira kira sekitar seribu rupiah. Tetapi bila itu dilakukan di setiap rumah tangga warga Muhammadiyah maka akan menjadi sangat siknifikan. Lebih lanjut Sudarto menekankan dalam pelatihan Efesiensi dan Transisi Energi jangan dimaknai pada teknologinya, tetapi sesungguhnya lebih kepada perubahan perilaku hemat energi.
Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Maskuri dalam sambutanya menyampaikan, saat ini dunia tengah menghadapi tatangan besar, berupa ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berwatak dakwah berkemajuan, memilih untuk tidak tinggal diam. Karena persoalan lingkungan hidup merupakan refleksi moral sebagai umat beriman dan tanggungjawab religius. Sebagaimana dalam Surat Ar-Rum ayat 41, bahwa telah nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh ulah tangan manusia. Lebih lanjut Maskuri menekankan bahwa kita dilarang keras untuk membuat kerusakan di muka bumi sebagaimana disitir dalam Surat Al-A’raf ayat 56.
"Oleh karena itu pelatihan ini menjadi sangat penting dalam rangka menjadikan kita lebih pedului pada lingkungan, transisi energi bersih dan efesiensi energi sebagai bagian dari ibadah dan dakwah Muhammadiyah," tegasnya. (soemanto/diko)

