PACITAN, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Pacitan menyelenggarakan pembukaan Musyawarah Daerah (Musyda) XI di Gedung DPRD Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Sabtu (17/10). Mengangkat tema “Melangkah Bersama, Berdampak Nyata”, forum ini menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat kaderisasi, meneguhkan nilai dakwah, serta merumuskan arah gerakan pelajar yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ketua Umum PD IPM Kabupaten Pacitan, Eki Marga Rama, menyampaikan bahwa Musyda memiliki arti penting bagi keberlanjutan organisasi. Menurutnya, forum permusyawaratan tidak hanya berkaitan dengan kepemimpinan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen dan memastikan gerakan IPM memiliki kontribusi yang dapat dirasakan secara nyata.
“Musyawarah Daerah XI ini bukan sekadar agenda rutin kepemimpinan, melainkan momentum bagi seluruh pelajar Muhammadiyah di Pacitan untuk memperkuat komitmen. Kita ingin memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil bersama tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan generasi muda di Pacitan,” ujar Eki dalam sambutannya.
Penegasan tersebut mengarahkan perhatian pada pentingnya menghubungkan gagasan organisasi dengan kebutuhan pelajar. Program yang dirancang melalui musyawarah perlu memiliki tujuan yang jelas, pelaksanaan yang terarah, serta manfaat yang dapat dievaluasi. Dengan demikian, aktivitas IPM tidak sebatas memenuhi agenda kelembagaan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pelajar yang lebih baik.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pacitan, Suparayitno Ahmad, S.Ag., M.Pd.I., menekankan dimensi dakwah dalam perjalanan IPM. Ia berharap kader mampu menjaga persatuan, memperdalam pemahaman keislaman, dan melahirkan pemikiran yang memberikan kemaslahatan bagi umat maupun daerah.
“Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah garda terdepan dakwah amar ma'ruf nahi munkar di kalangan pelajar. Melalui Musyda XI ini, saya berharap para kader IPM dapat terus menjaga kebersamaan, menguatkan nilai-nilai keislaman, dan melahirkan gagasan-gagasan yang membawa manfaat serta keberkahan nyata bagi umat dan daerah,” tutur Suparayitno.
Pesan tersebut menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses kaderisasi. Dalam lingkungan Muhammadiyah, pengembangan intelektualitas perlu berjalan beriringan dengan penguatan akhlak dan kepedulian sosial. Kader diharapkan tidak hanya memiliki kecakapan berorganisasi, tetapi juga mampu menerapkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur, M Yudha Wahyu Saputra, menggarisbawahi perlunya kolaborasi dan inovasi dalam mengembangkan gerakan pelajar. Ia mendorong kader agar tidak sekadar mengikuti perubahan, melainkan turut mengambil peran dalam menghadirkan pembaruan yang sesuai dengan tantangan zaman.
“Pelajar Jawa Timur harus menjadi pelopor perubahan yang kolaboratif. Semangat 'Melangkah Bersama, Berdampak Nyata' yang diusung PD IPM Pacitan ini harus mampu menyalakan spirit gerakan di seluruh pelosok daerah, membawa inovasi, dan menjadikan IPM sebagai organisasi pelajar yang selalu relevan serta kontributif,” kata Yudha.
Musyda XI menjadi ruang bagi kader untuk menimbang pengalaman organisasi, menyampaikan aspirasi, serta merumuskan prioritas bagi periode selanjutnya. Proses tersebut membutuhkan kedewasaan dalam berdialog, keterbukaan terhadap perbedaan pendapat, dan kesediaan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. (Ahyar)

