Ramadhan, Al-Qur'an, dan Pengetahuan
Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja Universitas Al Azhar Indonesia
Bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat penting dalam peradaban Islam. Dalam bulan inilah satu hal terpenting bagi manusia terjadi, yaitu turunnya al-Qur'an (Qs.2:185). Al-Qur'an bukan hanya sebagai kitab suci, ia lebih menjadi titik pijak transformasi peradaban manusia.
Disebut transformasi peradaban karena ia adalah kitab suci yang menyandang sebagai petunjuk menjadi manusia bertuhan sekaligus berpengetahuan (Qs. 96:1). Sejak saat itu ilmu pengetahuan melekat menjadi komponen yang tidak terlepas dari tubuh manusia.
Ramadhan menjadi bulan yang merekonstruksi peradaban manusia melalui turunnya al-Qur'an. Melaluinya manusia menjadi makhluk yang berpijak pada iman dan juga akalnya. Al-Qur'an mengajarkan arti penting pengetahuan, membebaskan manusia dari belenggu kebodohan. Al-Qur'an sejak diturunkan menjadi dasar gerak pembentuk peradaban baru manusia.
Sejak saat itu beragama tidak lagi berbentuk fatalisme, melainkan menunjukkan jatidiri manusia sebagai makhluk berpengetahuan. Agama tidak lepas dari pengetahuan. Kewajiban berilmu melekat dalam diri manusia yang beragama. Bahkan syarat disebut beragama adalah berakal.
Ramadhan & al-Qur'an
Ramadhan selama ini sebatas difahami sebagai bulan dimana umat Islam tidak makan dan minum, dan melakukan hubungan suami-isteri. Ia difahami sebagai bulan puasa, tanpa menengok hal lain yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekedar puasa. Ramadhan sangat berkaitan erat dengan rekonstruksi peradaban manusia melalui turunnya al-Qur'an.
Ramadhan menjadi bulan penuh kemuliaan karena di bulan inilah al-Qur'an diturunkan. Al-Qur'an menunjukkan pedoman menjadi manusia yang sejati. Dia menjadi petunjuk bagaimana menjadi manusia yang memiliki kualifikasi jiwa ketuhanan sekaligus jiwa kemanusiaan sehingga ia tidak perlu diragukan lagi (Qs.2:2).
Al-Qur'an diturunkan demi kepentingan manusia itu sendiri. Dengannya terbentuk nilai-nilai moralitas yang tertanam dalam akal budi manusia terdalam. Penyatuan antara iman dan ilmu pengetahuan diajarkan dalam al-Qur'an, dan itu menjadi pedoman agar manusia tidak melepaskan atau mencerai-beraikan keduanya, memisahkan antara iman dan ilmu (Murdiani, 2017).
Al-Qur'an ini menjadi periode untuk mengakhiri kehidupan jahiliyah manusia. Kebodohan yang terjadi di kala itu terutama adalah kebodohan atas miskonsepsi ketuhanan yang terjadi. Manusia yang terjebak pada konsep menuhankan benda dan jauh dari Tuhan yang sesungguhnya yaitu Allah. Manusia yang terdekonstruksi atas hakikat Tuhan yang sejati. Al-Qur'an mengarahkan manusia menuju hakikat ontologis Tuhan yang sesungguhnya (Qs.3:64).
Ramadhan & Ilmu Pengetahuan
Melalui al-Qur'an, Ramadhan menunjukkan kedekatannya dengan pengetahuan. Melalui al-Qur'an inilah manusia diajarkan untuk mengenal Tuhannya melaui iman dan akalnya (Qs.21:30).
Berbeda dengan konstruksi pengetahuan pada umumnya yang membedakan secara tegas antara wawasan pengetahuan dan wawasan ketuhanan, Islam melalui al-Qur'an tidak mendikotomi keduanya melalui konsep sekularisme. Melalui ilmu manusia dituntut mengenal Tuhannya. Nilai tauhid mencapai pemahaman yang tinggi dengan jalan akal pengetahuan dan iman.
Al-Qur'an melalui hal ini membuktikan dirinya bukan sebuah kitab yang ditulis oleh tangan manusia. Gagasan ilmu pengetahuan yang terdapat di dalamnya melampaui zaman dimana ia pertama kali diturunkan. Ia bukan perkataan Nabi Muhammad Saw, karena seorang manusia yang hidup di Abad 6 Masehi tentu belum mengenal konsep ilmu pengetahuan modern dan saintifik tentang alam semesta seperti yang tertuang di dalam al-Qur'an. Turunnya al-Qur'an menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw hanyalah penyampai dari pesan Tuhan kepada manusia.
Turunnya al-Qur'an di dalam bulan Ramadhan yang membawa pengetahuan bagi manusia telah menunjukkan sebuah pesan bagi manusia bahwa ilmu pengetahuan manusia dapat diperoleh tidak dalam keadaan manusia yang terikat dengan dunia, hawa nafsu, tubuh yang tengah merasakan kekenyangan. Pengetahuan dapat diserap melalui jiwa manusia yang mampu menghilangkan ego berbentuk rasa menundukkan, menggenggam, dan memiliki.
Relasi ontologis antara ilmu pengetahuan dengan al-Qur’an dalam Bulan Ramadhan mengajarkan pada manusia bahwa penguasaan ilmu pengetahuan bukanlah penguasaan atas penundukan dunia. Bahwa segenap ego yang tersingkirkan melalui pengosongan perut juga hati atas dunia ditujukan semata sebagai bentuk penghambaan diri manusia pada Allah sebagai pemilik ilmu pengetahuan yang sejati.
Al-Qur,an yang membawa ilmu pengetahuan melalui kata Iqra diturunkan di tengah bulan Ramadhan yang mewajibkan diri manusia menahan dirinya dari sifat serakah dan tamak. Menguasai ilmu pengetahuan bermakna ketulusan mendekatkan diri padaNya. Ia tidak dihadirkan di tengah manusia yang kekenyangan dalam gemerlap dunia. Pengetahuan dan pencerahan manusia turun melalui penghapusan ego. Ia turun dikala Muhammad Saw tengah menyepi (berkhalwat) di gua Hira di malam hari menjauhkan diri dari gemerlap hiruk pikuk perdagangan Kota Makkah kala itu.
Hikmah diturunkannya al-Qur’an di Bulan Ramadhan adalah Allah hendak mengajarkan pada manusia untuk merekonstruksi batiniyah juga tubuh dalam proses menerima kebenaran. Kebenaran pengetahuan muncul dari proses pengosongan perut dan pengendalian jiwa batiniyah manusia.
“Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk” (Qs. Ar-Ruum: 26).

