YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1447 H resmi dimulai dengan mengangkat materi bertajuk Genealogis Akidah di Muhammadiyah, yang digelar di Dormitory UMY, pada Jumat malam (20/2). Materi pertama dari enam materi yang tersaji selama 3 hari ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, Saad Ibrahim dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof Din Syamsuddin. Mereka bertiga berada dalam satu panel.
Dalam paparannya, Agung Danarto menjelaskan bahwa istilah “genealogi” dalam konteks ini dimaknai sebagai upaya menelusuri asal-usul atau akar pemikiran yang dalam bahasa Jawa disebut “jebule”.
Ia kemudian mengurai diskursus teologi Islam klasik, mulai dari Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, hingga salafiyah, untuk memetakan posisi akidah Muhammadiyah.
Menurutnya, dalam soal ketuhanan, Muhammadiyah meyakini bahwa Allah memiliki sifat, sejalan dengan pemahaman Asy’ariyah, namun penetapan sifat tersebut tidak dapat diserupakan dengan apa pun. Akal manusia, tegasnya, memiliki keterbatasan dalam menjangkau hakikat sifat-sifat Tuhan.
Ia juga menyinggung perdebatan klasik antara Ibnu Rushd yang menekankan prinsip sebab-akibat dan Al-Ghazali yang meletakkan segala sesuatu sepenuhnya dalam kekuasaan Tuhan. Dalam posisi ini, Muhammadiyah menegaskan keseimbangan: segala ketentuan berasal dari Allah, tetapi manusia tetap dituntut berikhtiar. Yang mana hal ini sejalan dengan HPT (Himpunan Putusan Tarjih), secara geneologis Muhammadiyah lebih dekat kepada Asy’ariyah, meskipun tidak mengikatkan diri secara total pada satu genealogis.
“Muhammadiyah tidak sekadar mengadopsi, tetapi mengolah dan melakukan ijtihad sesuai konteks,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah lebih tertarik mengembangkan tauhid yang bersifat fungsional—tauhid yang tidak berhenti pada tataran konseptual, melainkan bergerak menjadi energi gerakan. Dari teologi menuju aksi, tauhid Muhammadiyah diwujudkan dalam peran sebagai khalifah yang menghadirkan kemaslahatan.
Sementara itu, Saad Ibrahim menegaskan bahwa lawan dari tauhid adalah syirik. Tauhid yang dianut oleh Muhammadiyah, menurutnya, adalah tauhid yang membawa kemajuan. Spirit kemajuan tersebut bertumpu pada pengembangan sains dan teknologi, sejalan dengan perintah Islam untuk membaca dan menuntut ilmu.
Ia bahkan mengilustrasikan dinamika teologi dengan pendekatan sains: fisika klasik dianalogikan seperti jabariyah yang deterministik, sedangkan fisika kuantum menyerupai qodariyah yang memberi ruang kemungkinan. Analogi ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Muhammadiyah, iman dan ilmu pengetahuan bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Adapun Din Syamsuddin menguraikan bahwa genealogi paham keagamaan Muhammadiyah merupakan hasil sintesis dari berbagai khazanah pemikiran Islam. Muhammadiyah, katanya, mengambil yang terbaik dari setiap arus pemikiran dan mengolahnya menjadi corak khas. Kejelian dalam memilih dan meramu inilah yang menjadi kekuatan ideologis Muhammadiyah.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan ideologi Muhammadiyah mulai mengkristal pada periode KH Mas Mansur, dan proses ideologisasi itu relatif tuntas pada masa tersebut. Secara konseptual, paham keagamaan Muhammadiyah dirumuskan dalam prinsip at-Tawazun bayna al-Tajrid wa al-Tajdid—keseimbangan antara pemurnian dan pembaruan.
Meski dalam akar teologinya, terdapat pengaruh Al-Asy’ariyah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Jamaah, Al-Maqrizi, serta mazhab Al-Syafi’i. Namun, pemurnian yang menjadi ciri Muhammadiyah bukanlah sikap pasif. Pemurnian tauhid dipadukan dengan upaya memerdekakan umat dan membangun peradaban.
Din menegaskan bahwa Muhammadiyah mengikuti semangat salaf tiga generasi awal Islam, bukan salafisme yang berkembang di luar konteks tersebut. Jika dicermati, Muhammadiyah bukan sepenuhnya Asy’ariyah, melainkan dapat disebut sebagai “Neo-Asy’ariyah” yang telah melalui proses reaktualisasi, revitalisasi, dan rekonstruksi.
“Meski dirumuskan secara singkat, Muhammadiyah sejatinya adalah sintesa kebaikan dari berbagai pemikiran,” ujarnya. Dengan demikian, teologi sintesis Muhammadiyah bukan sekadar wacana, tetapi menjadi fondasi gerakan yang menjawab persoalan kemanusiaan dan peradaban. (diko)

