Pandu Berkemajuan, Padangan Jenderal Sudirman

Suara Muhammadiyah

7 October 2026

58
Parade HW Foto Dok Cris/SM

Parade HW Foto Dok Cris/SM

Pandu Berkemajuan, Padangan Jenderal Sudirman

Oleh: Dr. Hasbullah, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM Lampung

Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, 8–10 Oktober 2026, bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini adalah momentum bersejarah untuk meneguhkan kembali arah gerak kepanduan Muhammadiyah di tengah gelombang perubahan zaman yang semakin deras. Tema “Pandu Berkemajuan” yang diusung dalam Tanwir ini seyogianya tidak hanya menjadi slogan seremonial, melainkan ruh yang menghidupkan setiap denyut nadi gerakan kepanduan kita.

Dalam konteks inilah, figura Panglima Besar Jenderal Sudirman yang telah dikukuhkan sebagai Bapak Pandu Hizbul Wathan dalam Muktamar HW ke-4 di Universitas Muhammadiyah Malang pada 2023 menjadi kompas moral dan strategis bagi kita semua. Semangat bela negara, keteguhan prinsip, dan strategi gerilyanya yang konon terinspirasi dari latihan kemah HW, adalah bukti nyata bahwa kepanduan bukan sekadar aktivitas rekreatif belaka. Lebih dari itu, kepanduan adalah sekolah kehidupan yang melahirkan pemimpin tangguh, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi bangsa.

Meneladani Padangan Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman bergabung dengan Hizbul Wathan sejak masa sekolah di Cilacap. Pengalaman kepanduannya membentuk karakter disiplin, tangguh, dan cinta tanah air. Taktik perang gerilyanya yang legendaris konon terinspirasi dari latihan kemah HW, termasuk napak tilas sejauh 150–200 km dari Cilacap ke Batur (Banjarnegara) pada 1941.

Dalam biografi resmi yang dirilis Pusat Sejarah TNI, disebutkan bahwa melalui kegiatan Hizbul Wathan, bakat-bakat kepemimpinan Sudirman terlihat. Ia menjadi pandu yang disiplin, bertanggung jawab, dan cinta terhadap alam. Secara umum, ada tiga kegiatan yang diikuti Sudirman muda sebagai seorang pandu HW, yakni pendidikan rohani, pelatihan jasmani, dan karya bakti. Hizbul Wathan menjadi jalan awal bagi Sudirman muda untuk terjun ke lapangan dakwah sebagai seorang kader Muhammadiyah. Pada 1937, ia menjadi wakil Pemuda Muhammadiyah wilayah Banyumas.

Ada empat nilai utama dari “padangan” (pandangan/jejak) Jenderal Sudirman yang relevan untuk kepanduan HW masa kini. Pertama, keteguhan aqidah dan integritas. Sudirman konsisten pada prinsip, meski dalam kondisi paling sulit sekalipun. Dalam konteks kepanduan modern, ini berarti pandu HW harus tetap teguh pada nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah, meski arus sekularisme dan relativisme moral semakin kuat. Sudirman dikenal selalu menjaga wudhu, bahkan saat perang gerilya pasukannya membawa kendi untuk wudhu. Ia juga selalu melaksanakan salat di awal waktu, dan segala sesuatu yang dilakukan adalah semata-mata untuk Allah.

Kedua, semangat bela negara. Kepanduan HW harus melahirkan kader yang cinta tanah air dan siap berkontribusi bagi bangsa. Di era globalisasi, bela negara tidak hanya berarti angkat senjata, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan untuk memajukan umat dan bangsa. Sebagaimana ditegaskan Ketua HW Jatim Fathurrahim Syuhadi, semangat kepanduan itulah yang menempa Jenderal Sudirman menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, sederhana, berjiwa pemimpin, dan penuh pengorbanan.

Ketiga, kepemimpinan yang melayani. Pemimpin pandu bukan yang paling depan dalam seremoni, tapi yang paling belakang dalam memastikan anggotanya selamat. Ini adalah esensi dari kepemimpinan profetik yang diajarkan dalam Islam dan diamalkan oleh Sudirman. Sudirman memimpin tetap dengan watak dan pembawaannya yang sederhana, tenang, dan loyal terhadap semua pendapat yang sekiranya menguntungkan untuk kemajuan kelompok. Kedudukannya sebagai pemimpin pun tidak membuatnya sombong atau angkuh.

Keempat, strategi dan inovasi. Gerilya Sudirman adalah contoh adaptasi kreatif dalam keterbatasan relevan untuk kepanduan di era digital. Kita harus berani berinovasi dalam metode pelatihan, kurikulum, dan pendekatan pendidikan karakter tanpa kehilangan ruh kepanduan itu sendiri. Sudirman mampu beradaptasi melalui strategi gerilya di tengah keterbatasan, menunjukkan kepemimpinan keteladanan dan adaptabilitas.

Tantangan Kepanduan HW di Era Disrupsi

Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan nonformal, saya melihat ada beberapa tantangan strategis yang harus dijawab oleh Tanwir I HW 2026 ini.

Pertama, tantangan relevansi. Di tengah dominasi gawai dan media sosial, apakah kepanduan masih menarik bagi generasi Z dan Alpha? Apakah nilai-nilai kepanduan masih dapat diinternalisasi melalui metode konvensional, atau perlu transformasi digital yang masif? Haedar Nashir dalam Muktamar HW ke-4 menegaskan bahwa HW harus memiliki kebaruan sehingga tidak berjalan stagnan. HW merupakan gerakan yang inklusif lintas usia dan kelompok, maka harus memiliki kepemimpinan yang dinamis dan progresif.

Kedua, tantangan identitas. Di satu sisi, kepanduan HW harus tetap berkarakter Islami dan berkemajuan. Di sisi lain, kita juga harus inklusif dan adaptif terhadap perubahan sosial. Bagaimana menyeimbangkan keduanya tanpa kehilangan jati diri? Haedar juga mendorong HW untuk mampu membawa misi Islam berkemajuan, sehingga HW bisa berjalan seirama dengan Muhammadiyah. Utamanya dalam menampilkan Islam berkemajuan dalam berbagai aspek kehidupan dan mampu memberikan solusi untuk berbagai permasalahan bangsa.

Ketiga, tantangan kolaborasi. Kepanduan HW tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi kuat dengan sekolah Muhammadiyah, perguruan tinggi, pesantren, dan organisasi otonom lainnya seperti IPM, Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah. Tanwir ini harus menjadi ruang ko-kreasi program yang melibatkan semua pemangku kepentingan. HW diharapkannya menguatkan peran kebangsaan dengan prinsip kepanduan yang telah diajarkan, seperti tangguh, resiliensi, pantang menyerah, siap menolong dan wajib berjasa, suka akan perdamaian dan persaudaraan, dan penyayang bagi semua makhluk.

Lima Masukkan Strategis untuk Tanwir

Mengingat Tanwir HW 2026 difokuskan pada penataan arah strategis organisasi dalam ruang persidangan, berikut lima masukkan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, penguatan identitas “Pandu Berkemajuan”. Rumuskan indikator konkret “kepanduan berkemajuan” dalam dimensi aqidah, akademik, digital, dan sosial. Integrasikan nilai-nilai Jenderal Sudirman dalam kurikulum pelatihan kader HW. Muktamar HW harus menjadi proses yang menghasilkan program dan keputusan penting demi kemajuan organisasi dan bangsa. Bukan hanya menjadi kegiatan rutinitas dan formalitas semata, harus ada kebaruan yang diberikan.

Kedua, transformasi digital kepanduan. Kembangkan platform digital untuk pelatihan, sertifikasi, dan jejaring pandu HW se-Indonesia. Manfaatkan kecerdasan buatan untuk personalisasi pembelajaran dan asesmen kompetensi pandu. HW merupakan gerakan yang inklusif lintas generasi, terdiri dari mereka yang berpengalaman dan generasi muda yang memiliki ide-ide segar.

Ketiga, kolaborasi strategis dengan AUM dan Ortom. Perkuat sinergi dengan universitas, sekolah, pesantren, dan organisasi otonom Muhammadiyah untuk memperluas basis kader. Jadikan Tanwir sebagai ruang ko-kreasi program antara HW, IPM, Nasyiatul Aisyiyah, dan lainnya. Muktamar HW ke-4 diikuti 812 hadirin dan 700 penggembira dari seluruh Indonesia, serta kegiatan perkemahan Jambore Nasional diikuti 3.100 peserta dari target awal sejumlah 1.500 peserta.

Keempat, pendidikan karakter berbasis nilai kebangsaan. Revitalisasi napak tilas dan studi lapangan yang menginternalisasi semangat bela negara. Kembangkan modul “Sudirman School of Leadership” untuk pelatihan pemimpin pandu HW. Muchdi berharap dengan diresmikannya Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman, generasi muda dan khususnya Pandu Hizbul Wathan bisa mengenali jejak Jenderal Sudirman dalam semangatnya membela tanah air.

Kelima, dokumentasi dan publikasi. Hasilkan dokumen strategis (buku putih, policy brief) dari Tanwir yang dapat diakses publik. Dorong kader HW untuk menulis opini, esai, dan karya ilmiah tentang kepanduan berkemajuan di media nasional. Jadikan muktamar sebagai agenda strategis menyusun kepemimpinan yang lebih baik. Terdiri atas mereka yang berpengalaman dan anak-anak muda yang memiliki ide-ide segar.

Dari Metro Lampung untuk Indonesia Berkemajuan

Tanwir I HW 2026 di Universitas Muhammadiyah Metro bukan hanya pertemuan rutin, melainkan titik tolak untuk menghadirkan kepanduan yang “berkemajuan” dalam arti sebenarnya: berkemajuan dalam aqidah, ilmu, teknologi, dan akhlak.

Dengan meneladani padangan Jenderal Sudirman, pandu HW dapat menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi muda yang tangguh, disiplin, dan siap memimpin perubahan. Pribadi Jenderal Sudirman yang merupakan Bapak Kepanduan Hizbul Wathan (HW) harus diteladani dan menjadi inspirasi bagi semua pandu.

Pandu Berkemajuan, Padangan Jenderal Sudirman. Dari Metro Lampung, kita mulai menulis bab baru sejarah kepanduan Muhammadiyah untuk Indonesia yang lebih baik.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Pernahkah Anda berpikir apakah....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Wawasan

Oleh: Cristoffer Veron P Setelah menikmati lelap tidur panjang berikut menyaksikan bunga mimpi nan ....

Suara Muhammadiyah

21 September 2023

Wawasan

Anak Saleh (25) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

9 January 2025

Wawasan

Benarkah Muhammadiyah Kekurangan Kader Ulama? Oleh: Muhammad Utama Al Faruqi, Penerjemah Bahasa Ara....

Suara Muhammadiyah

17 April 2024

Wawasan

Oleh: Miqdam Awwali Hashri, SE Kesehatan adalah hal yang paling utama. Orang yang sehat dapat berib....

Suara Muhammadiyah

24 July 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah