Paradigma Kurban Korporat yang Teruji, Belajar dari 13 Tahun Komitmen PT Gramasurya

Publish

7 June 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
1988
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Setiap Idul Adha, panggung citra kedermawanan korporat kembali digelar. Spanduk megah bertuliskan "Kurban dari PT X" menjadi pemandangan lazim. Sebuah praktik yang tampak mulia, namun jika kita jujur pada esensi, sering kali hampa substansi. Sebab, kurban pada hakikatnya adalah ibadah personal, sebuah dialog vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang syarat sahnya adalah niat tulus dari seorang individu.

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan tanpa sadar telah mereduksi ibadah agung ini menjadi sekadar program CSR yang berorientasi citra, melupakan bahwa kurban atas nama entitas perusahaan lebih tepat jatuh sebagai sedekah, bukan ibadah kurban yang syar'i.

Namun, di tengah kelaziman yang keliru itu, PT Gramasurya telah menjadi anomali yang konsisten. Selama tiga belas tahun terakhir, perusahaan ini menjalankan sebuah tradisi yang seharusnya menjadi standar emas: memfasilitasi kurban, namun niat dan namanya diperuntukkan bagi perwakilan karyawan mereka.

Ini bukan lagi sebuah "langkah inspiratif" yang baru lahir. Ini adalah sebuah filosofi yang mengakar, sebuah komitmen jangka panjang yang telah teruji waktu. Apa yang dipraktikkan PT Gramasurya, yang jejaknya pada Idul Adha 1446 H ini kembali terpatri di berbagai sudut Yogyakarta dan Bantul—mulai dari Masjid Al-Muhsinin di Gedong Kuning, Masjid Al-Irsyad di Mergangsan, hingga Mushola Sajada di Kasihan—adalah sebuah kurikulum filantropi yang utuh.

Pertanyaannya menjadi lebih tajam: Jika PT Gramasurya telah membuktikan bahwa model ini bisa berjalan secara konsisten selama lebih dari satu dekade, apa yang menghalangi ribuan perusahaan lain untuk mengikutinya? Ketidaktahuan? Atau keengganan untuk melepas ego korporat demi keberkahan yang lebih otentik?

Sudah saatnya korporasi di Indonesia berhenti menepuk dada atas kurban yang tidak sah secara ibadah. Belajarlah dari komitmen 13 tahun PT Gramasurya. Bahwa investasi terbaik bukanlah pada spanduk, melainkan pada keberkahan yang terus mengalir dari niat lurus para karyawannya, tahun demi tahun.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Gugur dalam Tugas, Abadi dalam Kemuliaan: Doa dan Duka untuk Kader Muhammadiyah Oleh: Haidir Fitra ....

Suara Muhammadiyah

31 March 2026

Humaniora

Mengenal Sejarah Halal Bihalal: Jejak Awal dari Soeara Moehammadijah Oleh: Hening Parlan, Mahasiswa....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Humaniora

Cerpen Ulfatin Ch Langit masih seperti dulu. Burung-burung masih berkicau merdu. Bunga pukul empat....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Humaniora

Silaturrahmi 1447: Perjumpaan Fisik dan Peningkatan Kualitas Oleh: Mahli Zainuddin Tago Jogja, 26 ....

Suara Muhammadiyah

29 March 2026

Humaniora

Pengajian di Desa Kayu Calla, Berjalan kaki Hingga Naik Pick Up Oleh: Furqan Mawardi, Muballigh Aka....

Suara Muhammadiyah

13 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah