Pasar Saham Memerah Akibat Kepanikan Global, Dosen UMM Imbau Masyarakat Tak Terbawa Arus

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

288
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

MALANG, Suara Muhammadiyah - Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memicu kekhawatiran publik akan datangnya krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional yang rapuh.

Novi Puji Lestari, S.E., M.M., Dosen Manajemen UMM memaparkan bahwa tren negatif di lantai bursa belakangan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Tekanan jual yang masif di pasar modal lebih didorong oleh krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor.

“Secara keseluruhan, turunnya IHSG saat ini murni dipicu oleh panic selling dari para investor yang merasa khawatir secara berlebihan. Perlu dipahami bahwa pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat, bahkan sebelum kondisi ekonomi riil kita benar-benar membaik atau memburuk,” jelasnya.

Lebih lanjut, Novi sapaan akrabnya membeberkan pemicu utama gelombang kekhawatiran tersebut yang bermula dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi kurs yang fluktuatif ini membuat aset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

"Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita," tegasnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik di Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya.

"Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita," tambahnya.

Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid. Oleh karena itu, masyarakat awam dan investor pemula diimbau untuk tidak gegabah, menghindari aksi ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar, dan menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara lebih rasional dan terencana. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Dinamisasi Gerakan Perempuan Berkeadaban YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menindaklanjuti Arahan da....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Berita

NGAWI, Suara Muhammadiyah — Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan kunjungan st....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Banjarmasin kembali ....

Suara Muhammadiyah

18 August 2024

Berita

LAMTENG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) telah membuka Progra....

Suara Muhammadiyah

15 July 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Muhammadiyah Riau....

Suara Muhammadiyah

16 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah