Stafsus Kemendikdasmen & PP Aisyiyah Bangkitkan Sekolah Korban Banjir Maninjau dengan Model Inklusi 3T
AGAM, Suara Muhammadiyah - Di tepian Danau Maninjau yang dulu tenang, kini masih tersisa luka. Banjir yang melanda pada 28 November 2025 lalu tidak hanya menyisakan lumpur dan kerusakan, tetapi juga kenestapaan yang dalam, terutama bagi dunia pendidikan di tingkat paling dasar. Rabu, 14 Januari 2025, menjadi secercah harapan baru ketika Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Dr. Rita Pranawati, M.A., bersama jajaran Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, menyambangi TK Muhammadiyah Aisyiyah Maninjau.
Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan formal. Di tangan mereka, dibawa serta bantuan konkret berupa Alat Peraga Edukatif (APE), kitchen set, media pembelajaran, dan pojok baca—sebuah paket kebangkitan untuk guru dan murid yang menjadi penyintas bencana. Bantuan ini disalurkan langsung kepada sekolah-sekolah TK ‘Aisyiyah terdampak, sebagai upaya memulihkan tidak hanya sarana, tetapi juga semangat belajar.
Dalam kesempatan itu, Dr. Rita Pranawati selaku Stafsus Kemendikdasmen menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun pendidikan yang merata dan inklusif, khususnya di daerah yang paling membutuhkan.
“Tugas majelis Dikdasmen adalah membuat role model sekolah inklusi, dengan fokus ke daerah terdampak bencana dan daerah 3T. Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) saat ini sudah masuk dalam kategori 3T menurut kementerian. Di sinilah peran kami, memastikan bahwa anak-anak di daerah terdampak dan terpencil tetap mendapat pendidikan berkualitas dan akses yang setara,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si., menyampaikan bahwa bantuan ini adalah wujud nyata kepedulian dan gerakan solidaritas perempuan Muhammadiyah.
“Peduli bencana sangat penting. Di saat masyarakat terdampak, banyak kehidupan yang sirna, harapan putus, dan hati berkeping-keping. Apalagi bila bencana terulang. Luka lama belum sembuh, luka baru datang lagi. Itulah yang dialami saudara-saudara kita di sekitar Danau Maninjau. Karena itu, kehadiran kami hari ini adalah untuk menyampaikan bahwa mereka tidak sendiri. Bantuan ini mungkin kecil, tapi kami harap bisa mengobati luka dan mengembalikan senyum anak-anak melalui pendidikan,” tuturnya dengan nada haru.
Ucapan terima kasih mendalam disampaikan oleh Ketua PW ‘Aisyiyah Sumbar, Dr. Syur’aini, M.Pd., yang menyaksikan langsung perjuangan warga di Jorong Pasar, Jorong Labuah, dan beberapa jorong lainnya. Menurutnya, kehadiran tim dari pusat tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga menguatkan psikologis warga dan guru.
Kunjungan ini menjadi simbol kolaborasi strategis antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam penanganan pascabencana, khususnya di sektor pendidikan. Tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk sekolah inklusif yang dapat menjadi contoh di daerah 3T. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, diharapkan pendidikan di Maninjau dan daerah serupa bisa bangkit lebih kuat, inklusif, dan siap menghadapi tantangan ke depan.

