WONOGIRI, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah sekian lama mengalami stagnasi organisasi. Melalui program pengabdian masyarakat yang digagas tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), PCM Nguntoronadi menjalani proses revitalisasi berbasis pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi yang partisipatif dan progresif.
Selama beberapa tahun terakhir, PCM Nguntoronadi hanya berjalan secara administratif tanpa program dakwah, kaderisasi, maupun pengembangan amal usaha yang nyata. Kondisi ini berdampak langsung pada melemahnya fungsi PCM sebagai ujung tombak gerakan Muhammadiyah di tingkat kecamatan. Minimnya kepemimpinan visioner, ketiadaan rencana kerja, serta lemahnya koordinasi internal menjadi persoalan utama yang dihadapi.
Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian UMS melaksanakan program bertajuk “Membangun Kultur Organisasi Progresif PCM Nguntoronadi dalam Bingkai Dakwah dan Persyarikatan”. Program ini tidak sekadar pelatihan teknis, melainkan dirancang sebagai ruang refleksi kolektif untuk membangkitkan kembali kesadaran peran strategis PCM dalam dakwah dan pelayanan umat.
Kegiatan inti dilaksanakan selama dua hari secara luring dengan melibatkan sekitar 40 peserta yang terdiri dari pengurus PCM, anggota majelis, serta simpatisan persyarikatan. Hari pertama difokuskan pada penguatan kepemimpinan organisasi Muhammadiyah, dengan penekanan pada kepemimpinan visioner, transformasional, dan berbasis nilai dakwah.
Peserta diajak untuk merefleksikan kembali posisi PCM bukan sebagai struktur formal semata, tetapi sebagai pusat gerakan dakwah, kaderisasi, dan penguatan umat. Diskusi berlangsung dinamis karena peserta secara terbuka mengakui berbagai kelemahan organisasi yang selama ini dihadapi.
Hari kedua dilanjutkan dengan workshop penyusunan Rencana Kerja Organisasi (RKO). Melalui diskusi kelompok dan pendampingan fasilitator, peserta berhasil menyusun dokumen RKO tahunan yang memuat program dakwah, kaderisasi, sosial kemasyarakatan, hingga rintisan ekonomi produktif persyarikatan. Bagi PCM Nguntoronadi, dokumen ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya organisasi memiliki arah kerja yang jelas dan terukur.
Selain perencanaan program, peserta juga mengikuti simulasi rapat dan manajemen organisasi. Dalam sesi ini, pengurus dilatih mempraktikkan rapat yang efektif, mulai dari penyusunan agenda, pembagian peran pimpinan rapat, hingga mekanisme tindak lanjut keputusan. Simulasi ini dimaksudkan untuk membangun kebiasaan kerja organisasi yang lebih tertib dan produktif.
Menariknya, program pengabdian ini juga menyisipkan workshop ekonomi produktif persyarikatan. Peserta diajak mengidentifikasi potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari dakwah kemandirian umat. Meski masih bersifat eksploratif, diskusi ini membuka wawasan baru bahwa PCM tidak hanya berperan dalam dakwah verbal, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi umat berbasis komunitas.
Hasil pengabdian tidak berhenti pada pelatihan. Salah satu dampak paling signifikan adalah tersusunnya dokumen RKO PCM Nguntoronadi yang menjadi pedoman kerja organisasi ke depan. Lebih dari itu, dinamika yang terbangun selama pelatihan mendorong terlaksananya Musyawarah Luar Biasa (Musylub) PCM Nguntoronadi, yang kemudian menghasilkan kepengurusan baru dengan semangat perubahan.
Kepengurusan hasil revitalisasi ini diharapkan mampu menjalankan fungsi PCM secara lebih aktif, kolaboratif, dan berorientasi program. Dengan kepemimpinan yang lebih segar dan rencana kerja yang jelas, PCM Nguntoronadi kini memiliki fondasi yang lebih kuat untuk kembali berperan sebagai penggerak dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah di tingkat lokal.
Tim pengabdian menilai bahwa proses revitalisasi PCM Nguntoronadi dapat menjadi model awal pembinaan PCM di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa. Pendekatan partisipatif, fokus pada kepemimpinan dan tata kelola organisasi, serta pendampingan pascapelatihan menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Ke depan, program ini direncanakan berlanjut pada tahap penguatan kaderisasi, pengembangan amal usaha, dan digitalisasi organisasi. Dengan demikian, pengabdian masyarakat tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan persyarikatan dan umat.

