Pembelajaran Mendalam dalam Mata Kuliah AIK
Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., Kepala Bagian Mata Kuliah Wajib Kurikulum Universitas Muhammadiyah Malang
Ada ironi dalam pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di perguruan tinggi. Mata kuliah yang diharapkan menyalakan kesadaran keislaman kadang justru berakhir sebagai tumpukan definisi, tanggal sejarah, nama tokoh, dan rumusan ideologi yang dihafalkan menjelang ujian. Mahasiswa mungkin mampu menjelaskan tajdid, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, atau teologi Al-Ma’un. Namun, pengetahuan itu belum tentu hadir saat mereka berhadapan dengan hoaks, ketidakjujuran akademik, dan ketimpangan sosial. AIK dikuasai sebagai pengetahuan, tetapi belum sepenuhnya tumbuh sebagai pandangan hidup.
Materi AIK sebenarnya sangat kaya, mulai dari akidah, ibadah, akhlak, pemikiran Islam, sejarah Muhammadiyah, hingga praksis Islam Berkemajuan. Tantangan yang lebih mendasar ialah bagaimana semua itu dipertemukan dengan pengalaman mahasiswa. Ketika perkuliahan terlalu sibuk menuntaskan isi, ruang untuk menemukan makna menjadi semakin sempit. AIK pun bisa terasa sebagai mata kuliah identitas yang berjarak dari kegelisahan generasi muda.
Pada titik itulah deep learning atau Pembelajaran Mendalam menjadi relevan. Istilah ini bukan merujuk pada teknologi kecerdasan buatan, melainkan pendekatan yang mengajak mahasiswa memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan. Proses belajarnya berlangsung secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Yang dikejar bukan sebanyak apa materi tersampaikan, melainkan sedalam apa ia meninggalkan jejak dalam nalar, hati, dan tindakan.
Bagi AIK, gagasan ini sesungguhnya terasa akrab. Kiai Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Surah Al-Ma’un dengan sekali dijelaskan berarti selesai. Ayat itu diulang hingga murid-muridnya menangkap pesan bahwa membaca wahyu perlu berlanjut menjadi keberpihakan kepada kaum lemah. Ketika pemahaman melahirkan rumah yatim, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan gerakan sosial, Al-Ma’un tidak lagi berhenti sebagai teks. Ia menjelma menjadi etos yang bekerja.
Pembelajaran berkesadaran membantu mahasiswa memahami apa yang dipelajari, mengapa hal itu penting, dan perubahan apa yang mungkin tumbuh dalam dirinya. Perkuliahan AIK akan lebih hidup jika tidak selalu dibuka dengan deretan definisi, tetapi dengan pertanyaan yang dekat sekaligus mengusik. Mengapa orang yang rajin beribadah masih dapat berlaku curang? Mengapa agama mudah tampil sebagai simbol, tetapi kurang terdengar ketika kaum rentan membutuhkan pembelaan? Mengapa akses ilmu keislaman yang begitu luas tidak selalu meredam ujaran kebencian?
Pertanyaan semacam itu mengantar mahasiswa memasuki materi melalui pintu kenyataan. Dalam pembahasan tauhid, misalnya, mereka tidak hanya diajak mengenali pengertiannya, tetapi juga menengok hal-hal yang diam-diam menguasai hidup modern: uang, popularitas, algoritma, gengsi, dan kuasa. Dari sana, mahasiswa dapat merefleksikan keputusan yang lebih banyak ditentukan oleh penilaian manusia daripada keridaan Allah. Tauhid perlahan bergerak dari konsep menuju pengalaman membebaskan diri.
Bermakna: Mempertemukan Teks dan Realitas
Pembelajaran terasa bermakna ketika materi bersentuhan dengan disiplin ilmu, persoalan masyarakat, dan pilihan hidup mahasiswa. Nilai AIK dapat berbicara melalui beragam bahasa profesi. Mahasiswa kedokteran mengkaji etika pelayanan pasien miskin. Mahasiswa ekonomi menelaah pinjaman digital dan keadilan distribusi dari perspektif Al-Ma’un. Mahasiswa teknologi informasi membicarakan bias algoritma, penyalahgunaan data, dan hoaks dalam bingkai amanah. Pada perjumpaan semacam inilah AIK hadir bukan sebagai pulau tersendiri, melainkan kompas etik bagi ilmu dan profesi.
Kelas pun sesekali dapat bergerak melampaui dinding kampus. Saat membahas filantropi, mahasiswa tidak hanya membandingkan zakat, infak, dan sedekah dalam makalah. Mereka bisa memetakan persoalan sosial, berdialog dengan pengelola Lazismu, kemudian merancang proyek kecil yang terukur. Dalam kajian lingkungan, mereka dapat mengamati persoalan sampah di masjid atau kampus lalu mengembangkan gerakan ekologis berbasis nilai khalifah. Pengalaman itu ditutup dengan refleksi tentang hubungan antara ayat, tindakan, dampak, dan keterbatasan ikhtiar mereka.
Pembelajaran menggembirakan tidak identik dengan kelas yang penuh permainan. Kegembiraan tumbuh ketika mahasiswa merasa dihargai, tertantang, dilibatkan, dan menemukan harapan. Suasana seperti ini memungkinkan mereka mencintai Islam karena keluasan rahmatnya serta mengenal Muhammadiyah melalui jejak karya nyata, bukan semata-mata karena ada nilai yang harus diraih.
Banyak jalan dapat dicoba, seperti studi kasus, debat etik, kunjungan ke amal usaha, dan kisah tokoh. Dalam pembelajaran sejarah Muhammadiyah, mahasiswa tidak mesti berhenti pada hafalan tahun dan nama. Mereka dapat menelusuri kegelisahan sosial yang melahirkan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan gerakan perempuan. Lalu muncul pertanyaan imajinatif: seandainya Kiai Ahmad Dahlan hidup di zaman kecerdasan buatan, krisis iklim, dan kesenjangan digital, gerakan apa yang mungkin beliau rintis?
Pertanyaan itu membuat sejarah hadir sebagai energi tajdid. Mahasiswa tidak sekadar menoleh dengan kagum kepada masa lalu, tetapi belajar membaca tantangan zamannya sendiri. Muhammadiyah kemudian tampak bukan sebagai museum organisasi, melainkan gerakan yang terus berijtihad untuk menjawab persoalan baru dengan pijakan nilai Islam yang kukuh.
Asesmen yang Menyentuh Proses
Pembelajaran mendalam akan sulit bertumbuh jika asesmen hanya memeriksa ingatan. Ujian tertulis masih berguna untuk melihat pemahaman dasar, tetapi kedalaman belajar membutuhkan cara lain untuk dibaca. Jurnal refleksi, portofolio, analisis kasus, proyek sosial, dan presentasi argumentatif dapat menjadi pilihan. Fokus penilaian bukan klaim kesalehan mahasiswa, melainkan kejernihan penalaran, kemampuan menghubungkan dalil dengan konteks, konsistensi proses, kerja sama, dan tanggung jawab atas tindakan.
Perubahan asesmen juga mengundang dosen untuk meninjau kembali perannya. Dosen AIK dapat hadir bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai perancang pengalaman, pengaju pertanyaan, teladan, dan sahabat intelektual mahasiswa. Nilai keadilan akan lebih mudah dirasakan melalui penilaian yang transparan. Penghormatan kepada sesama pun dipelajari dari cara dosen menyambut pertanyaan mahasiswa. Dalam AIK, cara mengajar diam-diam menjadi bagian dari pelajaran itu sendiri.
Tantangannya, Pembelajaran Mendalam mudah berhenti sebagai kosakata baru di dalam RPS. Kehadiran istilah mindful, meaningful, dan joyful belum dengan sendirinya mengubah pengalaman mahasiswa. Perubahan baru terasa ketika tujuan, aktivitas, relasi belajar, dan asesmen saling terhubung. Mungkin ada materi yang perlu diringkas agar pemahaman memperoleh ruang untuk tumbuh. Mungkin pula dosen perlu mengurangi ceramah agar mahasiswa lebih leluasa bertanya, menalar, mengalami, dan merefleksi.
AIK kerap disebut sebagai ruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Ruh tentu tidak cukup tersimpan dalam dokumen kurikulum; kehadirannya perlu terasa dalam kehidupan akademik sehari-hari di kampus. Keberhasilan AIK bukan hanya tampak dari konsep yang dapat diulang di ruang ujian, tetapi juga dari cara nilai Islam menuntun mahasiswa ketika tidak ada dosen yang mengawasi dan tidak ada angka yang diperebutkan.
Pembelajaran Mendalam menawarkan jalan agar AIK kembali kepada watak dasarnya, yakni ilmu yang mencerahkan akal, menghaluskan hati, dan menggerakkan amal. Harapannya, perkuliahan AIK tidak hanya melahirkan mahasiswa yang mengetahui Muhammadiyah, tetapi manusia yang menghadirkan Islam Berkemajuan melalui profesi dan keseharian. Sebab pelajaran agama yang paling dalam mungkin bukan yang paling lama tersimpan dalam ingatan, melainkan yang tetap bekerja tatkala seseorang harus memilih antara kenyamanan diri dan keberpihakan kepada kebenaran.

