Pendidikan Bermutu, Jalan Lahirkan Generasi Cerdas, Tangkas, dan Trengginas
KLATEN, Suara Muhammadiyah – Konstruksi pendidikan Indonesia yang digagas Abdul Mu’tii “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, tegasnya untuk mewujudkan generasi berkualitas. Demikian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu mengemukakan.
“Kami berusaha memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi seluruh anak Indonesia dengan kebijakan pelayanan pendidikan yang accessible (mudah diakses), pendidikan yang flexible (fleksibel), dan pendidikan yang affordable (terjangkau),” ujarnya.
Generasi berkualitas derivasinya pada kelahirakn generasi unggul, generasi cerdas, generasi hebat, dan generasi tangguh. “Komitmen ini tentu menjadi bagian dari tugas kita bersama,” sambung Mu’ti.
Bulat orientasi yang didamba seperti itu, dalam bahasa Mu’ti disebut sebagai generasi agile (lincah), bukan generasi yang fragile (rapuh). “Generasi yang agile itu ringkasnya adalah generasi yang cerdas, tangkas, dan trengginas,” bebernya.
Generasi itu dikategorisasikan sebagai sosok generasi yang memiliki energi, memiliki semangat untuk maju, dan semangat untuk mandiri.
“Generasi yang sering kita sebut dengan mereka yang memiliki wawasan yang luas atau knowledgeable, keterampilan-keterampilan yang serba serbabisa,” terangnya saat meresmikan Daihatsu Vocational Expo 2026 & Launching Daihatsu School Skill Center (DSSC) SMK Muhammadiyah 2 Jatinom, Krajan, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/10).
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menyebut, kategorisasi berikutnya, yakni generasi yang capable, dan generasi yang tetap rendah hati dengan segala kemampuannya.
“Dengan segala keterampilannya yang saya sebut dengan generasi yang humble,” imbuhnya.
Mu’ti menggarisbawahi kalau generasi hari ini harus bisa mendapatkan pintu akses layanan pendidikan. Dalam konteks pendidikan di SMK, misalnya, mereka membutuhkan keterampilan, tidak hanya keterampilan teknik atau hard skill, tetapi kecakapan mental dalam bentuk soft skill.
“Soft skill adalah keterampilan yang dapat diadaptasikan dan ditransformasikan dalam berbagai bidang. Ciri itu antara lain kreativitas, kemampuan berpikir kritis, inovasi, kemampuan menganalisis data, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan untuk bisa beradaptasi, dan kemampuan penggunaan teknologi. Ini semua adalah skill yang kita butuhkan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Mu’ti mengingatkan, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Keterampilan teknis tertentu berpotensi tergantikan oleh otomatisasi dan teknologi, sehingga murid perlu memiliki kemampuan yang membuat mereka tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Karena itulah maka harus ada kemampuan-kemampuan yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, supaya mereka menjadi agile generation (generasi yang lincah), tidak menjadi fragile generation (generasi yang rapuh),” pungkasnya. (Cris)