CHICAGO, Suara Muhammadiyah — Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat menggelar pengajian yang membahas resiliensi dan perkembangan kehidupan Muslim Indonesia di tengah masyarakat multikultural. Kegiatan yang berlangsung di Chicago pada 10 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Resiliensi dan Flourishing Muslim Indonesia di Amerika: Merawat Iman, Menjembatani Budaya, Menebar Kebaikan.”
Pengajian tersebut menghadirkan Yayah Khisbiyah, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sekretaris LHKI (HubluMu), sekaligus Ketua MuAID PP Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, Yayah mengajak diaspora Muslim Indonesia untuk tidak hanya berfokus mempertahankan identitas keislaman dan keindonesiaan, tetapi juga mengembangkan kehidupan yang bermakna serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Menurut Yayah, tantangan diaspora Muslim di Amerika Serikat tidak berhenti pada upaya mempertahankan identitas asal. Persoalan yang lebih mendasar ialah bagaimana seseorang dapat bertumbuh sebagai Muslim, membangun keluarga yang sehat, dan menjalani kehidupan secara utuh di tengah keberagaman budaya.
Perpindahan dari Indonesia ke Amerika Serikat membawa beragam pengalaman, bahasa, nilai, dan kebiasaan yang perlu diselaraskan dengan lingkungan baru. Perbedaan sistem sosial dan kuatnya individualisme menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi diaspora dalam proses adaptasi.
Mengacu pada psikologi antarbudaya, Yayah menjelaskan bahwa proses adaptasi tidak harus membuat seseorang kehilangan jati diri. Pendekatan integration atau bikulturalisme dapat menjadi jalan untuk membangun hubungan harmonis antara identitas keindonesiaan, keamerikaan, dan keislaman.
Melalui konsep Integrated Bicultural Identity, diaspora diharapkan mampu memadukan berbagai identitas tersebut secara seimbang. Identitas yang berbeda tidak harus saling meniadakan, tetapi dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya.
Resiliensi Dibangun Bersama
Pembahasan berikutnya menyoroti pentingnya resiliensi dalam menghadapi tekanan internal, interpersonal, sosial, hingga struktural. Yayah menekankan bahwa resiliensi bukan semata-mata kemampuan individu untuk bertahan menghadapi kesulitan seorang diri. Sebaliknya, ketahanan tumbuh melalui dukungan keluarga, komunitas, dan hubungan sosial yang kuat.
Dalam konteks spiritual, Surah Al-Insyirah ayat 5–6 menjadi pengingat bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Nilai tersebut diharapkan memberikan ketenangan batin sekaligus menguatkan keyakinan diaspora dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Yayah juga mengajak peserta bergerak dari sekadar surviving atau bertahan hidup menuju flourishing, yakni berkembang dan menjalani kehidupan yang bermakna. Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengaitkan pendekatan psikologi positif melalui kerangka PERMA, yang mencakup Positive Emotion (emosi positif), Engagement (keterlibatan), Relationships (hubungan positif), Meaning (makna hidup), dan Accomplishment (pencapaian).
Dalam kehidupan diaspora Muslim, unsur-unsur tersebut perlu berpijak pada iman dan takwa. Dengan demikian, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari kenyamanan pribadi atau pencapaian duniawi, tetapi juga dari kebermaknaan di hadapan Allah SWT dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Islam, lanjutnya, menyediakan landasan spiritual untuk membangun ketahanan sekaligus merawat hubungan antarbudaya. Nilai ta'aruf dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa keberagaman manusia merupakan keniscayaan yang seharusnya mendorong setiap orang untuk saling mengenal.
Karena itu, perjumpaan dengan masyarakat yang berbeda latar belakang tidak semestinya hanya berujung pada toleransi pasif. Diaspora perlu membangun mutuality, yakni hubungan timbal balik yang memungkinkan setiap pihak saling memahami, belajar, dan memperkaya pengalaman satu sama lain.
Masjid sebagai Sumber Ketahanan Komunitas
Dalam membangun resiliensi kolektif, masjid dan kelompok jemaah memiliki peran strategis. Keduanya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk memperoleh dukungan psikologis, memperkuat persaudaraan, serta membangun solidaritas di tengah tantangan kehidupan diaspora.
Berlandaskan semangat Surah Al-Ma'idah ayat 2 tentang tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, Yayah menekankan lima pilar yang dapat menjadi sumber kekuatan diaspora, yaitu iman, keluarga, komunitas, makna hidup, dan kontribusi nyata kepada masyarakat sekitar.
Lima pilar tersebut diharapkan menjadi bekal bagi diaspora untuk menjaga kesehatan hubungan keluarga, memperkuat ikatan sosial, dan menemukan makna dalam kehidupan di negeri rantau. Dukungan komunitas juga penting agar individu maupun keluarga tidak merasa harus menghadapi seluruh persoalan sendirian.
Lebih lanjut, Yayah mendorong perubahan cara pandang diaspora dari defensive identity menuju confident and contributing identity. Artinya, umat Islam tidak cukup hanya bersikap defensif dalam mempertahankan identitas, tetapi perlu memiliki kepercayaan diri untuk berkontribusi secara positif bagi masyarakat luas.
Generasi muda diaspora, khususnya, perlu didorong untuk menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam tindakan nyata. Welas asih, keadilan, dan tanggung jawab sosial dapat menjadi landasan untuk mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi lingkungan sekitar.
Gagasan tersebut sejalan dengan teologi Al-Ma'un yang menjadi salah satu landasan gerakan Muhammadiyah. Melalui semangat tersebut, keberagamaan tidak berhenti pada ritual, tetapi diwujudkan dalam kepedulian sosial dan pelayanan kemanusiaan.
Komunitas Muslim yang secara demografis menjadi minoritas tetap dapat memberikan kontribusi besar melalui integritas, kebaikan, pelayanan, dan perjuangan menegakkan keadilan. Dalam konteks ini, Yayah mengajak diaspora untuk menjadi moral minority, yakni komunitas yang menghadirkan nilai-nilai moral dan manfaat bagi kemanusiaan universal.
Sebagai landasan etis kehidupan, Surah Al-'Asr juga menjadi pengingat tentang pentingnya memadukan iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran. Menutup pengajian, peserta diajak menerapkan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari merawat rutinitas spiritual, membangun dialog terbuka dalam keluarga, hingga memperkuat ruang perjumpaan positif di tengah komunitas.

