Penguatan Ideologi Muhammadiyah di PTMA sebagai Fondasi Kemajuan

Publish

12 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
78
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Penguatan Ideologi Muhammadiyah di PTMA sebagai Fondasi Kemajuan

Oleh: Dzar Al Banna, S.S., M.A., Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dan Wakil Sekretaris 1 MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Suatu bangsa dapat terlihat kuat, maju, dan teratur dari luar. Infrastruktur berdiri megah, sistem pemerintahan berjalan, serta berbagai capaian pembangunan tampak membanggakan. Namun, di balik kemajuan tersebut, sebuah bangsa dapat menjadi rapuh apabila masyarakatnya kehilangan pemahaman terhadap ideologi, dasar negara, dan falsafah yang menjadi fondasi kehidupannya. Kerapuhan itu tidak selalu tampak secara langsung, tetapi dapat terlihat dari melemahnya rasa persatuan, berkurangnya kepedulian terhadap kepentingan bersama, serta munculnya sikap individualistik yang mengabaikan cita-cita bangsa.

Ideologi dan dasar negara bukan sekadar kumpulan konsep atau hafalan yang dipelajari di bangku pendidikan. Ideologi merupakan pedoman yang memberikan arah dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Ketika masyarakat memahami dan mencintai ideologi bangsanya, mereka akan memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan serta berkontribusi bagi kemajuan bersama. Sebaliknya, ketika pemahaman tersebut melemah, bangsa akan mudah terpecah oleh berbagai kepentingan sempit yang dapat mengancam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kondisi yang serupa juga dapat ditemukan dalam lingkungan perguruan tinggi. Sebuah kampus dapat memiliki dosen dan tenaga kependidikan yang sangat kompeten dalam bidang keilmuannya. Mereka memiliki pendidikan tinggi, pengalaman yang luas, serta kemampuan profesional yang mumpuni. Dari sisi akademik, kampus tampak berjalan dengan baik. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat potensi kerapuhan apabila civitas akademika tidak memahami ideologi, tujuan, visi, dan arah pengembangan kampus tempat mereka mengabdi.

Tidak sedikit individu yang bekerja di sebuah perguruan tinggi hanya berfokus pada tugas dan tanggung jawab teknis sesuai bidangnya masing-masing. Dosen mengajar dan meneliti, tenaga kependidikan menjalankan administrasi, sementara pimpinan mengelola organisasi. Akan tetapi, apabila mereka tidak memahami nilai-nilai dasar yang menjadi ruh institusi, maka pekerjaan yang dilakukan cenderung bersifat mekanis dan kehilangan makna yang lebih besar.

Sebagai contoh, pada perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki nilai-nilai khas tertentu, pemahaman terhadap ideologi dan tujuan pendirian kampus menjadi sangat penting. Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi pedoman dalam setiap aktivitas akademik maupun nonakademik. Ketika sivitas akademika tidak memahami atau bahkan tidak mengenal nilai-nilai tersebut, maka akan muncul kesenjangan antara tujuan institusi dengan praktik yang dijalankan sehari-hari.

Akibatnya, arah pengembangan kampus menjadi kurang terintegrasi. Setiap individu mungkin bekerja dengan baik, tetapi bergerak berdasarkan pemahaman masing-masing tanpa kesadaran akan tujuan bersama. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat tercapainya visi institusi dan mengurangi kekuatan budaya organisasi yang seharusnya menjadi identitas kampus.

Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan ideologi Muhammadiyah dan tujuan dasar kampus secara berkelanjutan. Penguatan ini bukan hanya melalui penyampaian informasi mengenai sejarah, visi, dan misi institusi, tetapi juga melalui proses internalisasi nilai yang dilakukan secara sistematis. Setiap dosen, tenaga kependidikan, dan pimpinan perlu diberikan pemahaman yang mendalam mengenai filosofi pendirian kampus, cita-cita yang ingin diwujudkan, serta peran masing-masing dalam mencapai tujuan tersebut.

Program orientasi, pelatihan, perkaderan Baitul Arqam, diskusi nilai-nilai institusi, maupun forum refleksi organisasi dapat menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman tersebut. Selain itu, nilai-nilai kampus harus diwujudkan dalam kebijakan, budaya kerja, dan aktivitas sehari-hari sehingga tidak berhenti sebagai slogan atau dokumen administratif semata.

Keteladanan pimpinan juga menjadi faktor yang sangat penting. Nilai-nilai institusi akan lebih mudah diterima dan dihayati apabila para pemimpin mampu menunjukkan implementasinya dalam tindakan nyata. Dengan demikian, seluruh civitas akademika dapat melihat hubungan yang jelas antara ideologi kampus dengan praktik kerja sehari-hari.

Pada akhirnya, kampus yang kuat bukan hanya kampus yang memiliki sumber daya manusia yang unggul secara akademik, tetapi juga kampus yang memiliki kesatuan pemahaman mengenai tujuan dan arah perjuangannya. Keahlian dan profesionalisme akan menjadi lebih bermakna ketika didukung oleh pemahaman ideologis yang kokoh. Sebagaimana sebuah bangsa membutuhkan dasar negara sebagai fondasi persatuannya, perguruan tinggi juga memerlukan pemahaman yang kuat terhadap ideologi Muhammadiyah dan tujuan institusinya agar seluruh elemen dapat bergerak seiring, sejalan, dan bersama-sama mewujudkan cita-cita yang telah ditetapkan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Doa yang Tertunda, Jawaban yang Sempurna Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universita....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Wawasan

Spirit Nuzulul Qur’an: Pembangun Peradaban Islam Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Pondok Shabran....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Kaitan IMM dan Film Jumbo Oleh: Figur Ahmad Brillian/ IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam Unive....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Wawasan

Anak Saleh (22) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Wawasan

SARASEHAN PEMIKIR: Memikirkan Pemikiran Pendidikan Muhammadiyah  Ringroad Barat-Jogja, Kamis, ....

Suara Muhammadiyah

20 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah