JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Literasi zakat menjadi sangat luar biasa yang mesti terus digencarkan secara berkelanjutan. Bahkan, kehadiran zakat di Indonesia sebut Hilman Latief sebagai ekosistem yang paling kompleks, tapi satu sisi, bersifat komprehensif.
Demikian dikemukakan saat Resepsi Milad ke-24 Lazismu, Rabu (29/7) di Aula Lantai 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Medan Merdeka, Gambir, Kota Jakarta Pusat.
“Perbankan-perbankan syariah hadir, asuransi syariah, keuangan syariah, zakat, dan itu narasinya luar biasa,” ujarnya.
Yang jadi perenungan di sini, seyogyanya perlu lebih exposure ke tingkat internasional. Sebab, dinilai oleh Hilman, ekosistem zakat belum sepenuhnya sampai pada hal yang dimaksudkan.
“Kita baru ke angka, baru fokus kepada penghimpunan jumlah sekian,” tuturnya.
Tapi untuk hal fundamentalnya seperti memproyeksikan visi, bagaimana mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan belum ada yang merakit atau merumuskan secara konkret.
“Karena itulah kita agak sulit mendapatkan exposure internasional, bisa terbaca peran kita yang luar biasa ini oleh komunitas internasional,” beber Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Di situlah mesti menjadi atensi Lazismu, di samping juga, turut melakukan pembaruan-pembaruan dalam hal ihwal platform data.
Karenanya, menjadi penting praktik lembaga data yang terakumulasi dalam bingkai jurnalisme filantropi yang disepadukan untuk memotret best practice yang telah dilakukan untuk diketahui oleh masyarakat luas.
“Bagaimana semua itu didokumentasikan dan dinarasikan dengan baik sehingga dampaknya dapat dilihat oleh masyarakat, bahkan dunia internasional,” tekan Hilman.
Diambil sebuah sampel dari pengalaman berdiskusi dengan pelbagai mitra strategis, Hilman melihat mereka telah berpikir maju. Yang maujudnya investasi memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung layanan kesehatan berikut derivasi lainnya.
“Proyeksinya luar biasa. Beberapa orang Indonesia juga sudah ada,” ucapnya.
Dari kacamata pengalaman Hilman itu kemudian, ia mendorong untuk melakukan inovasi dan solusi berkelanjutan. Yang tidak stagnan pada layanan sosial yang bersifat konvensional.
“Ke depan kita sudah mulai merumuskan strategic issu-nya untuk filantropi di Indonesia, Islamic filantropy secara khusus,” serunya.
Sehingga, menjadi sangat mendesak untuk memperkuat eksosistem filantropi Islam di Indonesia. “Kita ke depan juga berbicara filantropi itu menjadi lebih advance, identik dengan excellence, bukan platform-platform pinggiran,” tandasnya. (Cris)

