YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bekerja sama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) selenggarakan Sertifikasi Skema Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat batch 1 pada Sabtu (18/7) di Gedoeng Moehammadijah.
Ketua LSP PP Muhammadiyah, Filosa Gita Sukmono menyampaikan, sertifikasi ini bukan berarti menunjukkan bahwa selama ini fasilitator di MPM tidak berkompeten. Tapi ini sebagai penegasan dan pengakuan dari pihak ketiga yakni BNSP.
“Muhammadiyah tanpa harus sertifikasi kita tuh sudah punya ekosistem yang kuat. Justru dengan kita-kita ini mengusung LSP, kita mendukung program dari negara, mendukung program dari BNSP,” katanya.
Menjelaskan tentang LSP PP Muhammadiyah, Filosa menyatakan, ini adalah LSP pertama yang dimiliki oleh organisasi kemasyarakatan. Oleh karena itu PP Muhammadiyah mendapat apresiasi terbaik dari BNSP.
Sementara itu, lembaga internal Muhammadiyah yang paling sering mengadakan sertifikasi adalah Lazismu dan Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW). Sedangkan sertifikasi untuk MPM ini adalah yang perdana diselenggarakan.
Pada kesempatan itu, Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin menyampaikan supaya uji kompetensi sertifikasi ini bukan untuk yang pertama dan terakhir. Bahkan MPM menyiapkan untuk uji kompetensi bagi fasilitatornya di luar negeri.
“Bahkan mungkin kita akan kolaborasikan dengan PCIM karena kita punya program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan pekerja migran,” katanya.
Yamin mengatakan, ikhtiar dan ide baik yang dijalankan oleh Persyarikatan harus didukung oleh seluruh komponen. Termasuk adanya LSP Muhammadiyah ini. Sebab, meski di Muhammadiyah telah ada ekosistem untuk membangun profesionalitas, tapi tak bisa dipungkiri butuh pengakuan eksternal.
“Tetapi pengakuan dan kepercayaan itu memang diikuti dengan eh dokumen, dengan aturan, dengan sistem yang berlaku secara nasional, dan negara sudah menentukan lembaga yang punya standar, mengakui standar profesi itu ada di BNSP,” katanya
Selain uji kompetensi dengan LSP PP Muhammadiyah, MPM kata Yamin, dalam berjalannya waktu telah memiliki ekosistem untuk meningkatkan kompetensi para fasilitatornya melalui Sekolah Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM).

