YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kehidupan sosial kemasyarakatan dihadapkan pada dinamika yang begitu rupa. Apalagi, menyangkut perbedaan penetapan bulan Syawal (Idul Fitri 1447 H).
Tahun ini, memang terjadi perbedaan penetapan bulan Syawal. Namun demikian, hal ini merupakan keniscayaan, dan sebenarnya sudah sering terjadi perbedaan tersebut.
Akan tetapi, ruang publik dipenuhi catatan kritis dari warga masyarakat. Di sinilah, Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan aksentuasi terkait konteks ini.
"Kita tetap melakukan ikhtiar dengan cara yang elegan dan bisa melaksanakan Idul Fitri dengan baik," katanya, Kamis (26/3) saat Silaturahmi Idul Fitri 1447 H di Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.
Di samping itu, Haedar meminta tidak terlalu berlebihan dalam menilai persoalan perbedaan ini. Yang sejatinya, telah beberapa kali terjadi peristiwa tersebut di tubuh bangsa.
"Jadi ini dinamika dan membuat kita makin matang dan dewasa. Tidak perlu baper, karena apa? Kita ini organisasi yang sudah lahir lebih tua, jadi ya harus lebih lebih dewasa lah," tegasnya.
Meskipun sudah menjadi keniscayaan, dan semua pihak mestinya saling menghormati. Tetapi, di beberapa titik, ternyata masih ditemukan sejumlah pelarangan melaksanakan shalat Id pada Jumat (20/3).
"Tapi hebatnya warga Muhammadiyah tidak memaksa, akhirnya pindah ke tempat lain yang milik kita juga, dan alhamdulillah itu terlaksana dengan baik yang juga memperoleh respons yang luar biasa," bebernya.
Tetapi, pelaksanaan shalat Id pada tanggal tersebut, tidak hanya Muhammadiyah saja yang melakukan. Ada beberapa negara juga serupa melaksanakan Shalat Id pada tanggal itu.
"Memang selalu ada suasana yang dinamis, tetapi itulah bagian dari dinamika kita bersama. Dan, itulah bagian dari proses kita menuju satu kalender global tunggal Hijriah," urainya. (Cris)
