Perkuat Spirit Pelayanan, Haedar Nashir Resmikan Dua Gedung Baru RSI 'Aisyiyah Malang
MALANG, Suara Muhammadiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meresmikan dua gedung baru Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah Malang, yakni Gedung Darussyifa’ dan Darunnajah, Ahad (1/11). Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan bahwa pergerakan Muhammadiyah telah merambah berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga ekonomi. Saat ini, Muhammadiyah memiliki 165 perguruan tinggi, 130 rumah sakit, serta lebih dari 6.300 klinik dan balai kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Kami hadir ingin mencerdaskan, memberdayakan, menyejahterakan, memajukan, membangun keadaban dan peradaban masyarakat atau umat dan bangsa, bahkan kemanusiaan semesta,” ungkapnya.
Haedar menjelaskan, kehadiran berbagai amal usaha Muhammadiyah tidak sekadar memperluas organisasi, tetapi merupakan wujud nyata dakwah Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam. Prinsip tersebut diterjemahkan melalui kerja-kerja kemanusiaan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan tanpa membedakan agama, suku, golongan, ras, maupun latar belakang sosial.
Ia mencontohkan kehadiran Muhammadiyah di wilayah Indonesia Timur, termasuk Papua, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan Katolik. Muhammadiyah membangun lembaga pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial di wilayah tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Kehadiran itu bahkan melahirkan fenomena yang dikenal dengan istilah Kristen Muhammadiyah atau Krismuha. Haedar menyebut fenomena tersebut sebagai salah satu bukti bahwa Muhammadiyah hadir untuk semua kalangan. “Ini satu bukti dari kehadiran Muhammadiyah untuk semua,” tegasnya.
Menurut Haedar, semangat pelayanan tersebut berakar pada teologi Al-Ma’un yang sejak awal menjadi landasan gerakan Muhammadiyah. Kiai Ahmad Dahlan dan generasi awal Persyarikatan tidak berhenti pada pengajaran dan penghafalan surat Al-Ma’un, tetapi menerjemahkannya menjadi tindakan nyata melalui pendirian rumah sakit, klinik, dan lembaga sosial.
Dari spirit Al-Ma’un itulah lahir amal usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Haedar mengingatkan agar ketika amal usaha Muhammadiyah semakin berkembang, semangat awal untuk menghadirkan kemaslahatan tidak boleh hilang.
“Bagi kita sekarang spirit awalnya harus tetap dakwah untuk rahmat bagi semesta alam. Karena itu, kita juga terkena hukum atau sunah Allah untuk ber-fastabiqul khairat. Maka tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan kualitas dan kebermanfaatan yang semakin baik dalam berbagai kehadiran amal usaha kita,” jelasnya.
Haedar juga menekankan bahwa Muhammadiyah sejak awal bercita-cita menjadi gerakan Islam yang berkualitas. Cita-cita tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 110 tentang khairu ummah, yakni menjadi umat terbaik yang menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.
Untuk mewujudkan hal itu, Muhammadiyah perlu memperkuat jaringan dan kerja sama antarlembaga. Amal usaha yang telah berkembang besar diharapkan dapat membantu lembaga yang masih tumbuh agar mampu meningkatkan kualitas secara lebih merata, terstruktur, dan sistematis.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan satu amal usaha tidak boleh membuatnya berjalan sendiri. RSI Aisyiyah Malang, misalnya, diharapkan terus berkembang sekaligus peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Kemajuan Muhammadiyah, menurutnya, harus berjalan seiring dengan kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
“Kalau masyarakat maju, Muhammadiyah senang. Apapun golongannya, apapun lembaganya. Sebaliknya, kalau masyarakat tertinggal, Muhammadiyah juga merasa itu beban yang tidak ringan. Karena kemajuan harus menjadi milik kita bersama,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menguraikan sejumlah spirit yang harus terus dirawat dalam gerakan Muhammadiyah, di antaranya ikhlas, amanah, gemar beramal, dan ta’awun atau semangat saling membantu. Nilai-nilai tersebut menjadi energi yang menggerakkan Persyarikatan dalam membangun amal usaha hingga menjangkau berbagai wilayah.
Ia menegaskan bahwa ikhlas merupakan energi rohani yang membuat warga Muhammadiyah terus berkhidmat meskipun menghadapi keterbatasan. Sementara amanah menjadi prinsip penting dalam mengelola organisasi dan bantuan yang diterima. Bantuan dari pemerintah maupun pihak lain, menurutnya, harus dikelola secara bertanggung jawab dan dikembangkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Haedar juga mengajak warga Muhammadiyah menjaga tradisi gemar beramal. Kemajuan amal usaha, termasuk rumah sakit, tidak boleh membuat semangat berinfak, bersedekah, dan berwakaf menjadi redup. Justru semakin berkembangnya lembaga harus diikuti dengan semakin kuatnya kepedulian sosial.
Selain itu, semangat ta’awun perlu diwujudkan melalui kerja sama dengan pemerintah, TNI, Polri, lembaga bisnis, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat luas. Muhammadiyah tidak boleh menjadi gerakan yang elitis dan berjarak dari kehidupan masyarakat.
Haedar mengingatkan agar warga Persyarikatan tetap menjaga hubungan sosial secara langsung di tengah dominasi media sosial. Menurutnya, komunikasi digital memang bermanfaat, tetapi tidak boleh menggantikan kepedulian dan interaksi nyata dengan lingkungan sekitar.
Ia mencontohkan berbagai persoalan sosial yang membutuhkan kehadiran Muhammadiyah, seperti masyarakat yang terjerat rentenir dan kesulitan ekonomi. Persyarikatan harus hadir memberikan solusi melalui gerakan pemberdayaan dan pelayanan sosial.
Pada kesempatan tersebut, Haedar menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kota Malang, khususnya Wali Kota Wahyu Hidayat beserta jajaran, atas dukungan dalam proses pembangunan dua gedung RSI Aisyiyah Malang. Ia juga mengapresiasi para pemimpin daerah sebelumnya, masyarakat sekitar, serta jajaran rumah sakit yang telah bekerja keras mewujudkan pengembangan fasilitas tersebut.
Menurutnya, pembangunan dua gedung baru itu tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk dukungan pemerintah dalam proses perizinan pembangunan jembatan yang berkaitan dengan akses rumah sakit.
Haedar berharap RSI Aisyiyah Malang terus tumbuh sebagai rumah sakit yang mengedepankan semangat pelayanan. Peningkatan fasilitas kesehatan, katanya, memiliki dampak luas karena kesehatan masyarakat berkaitan erat dengan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.
“Bersama rumah sakit pemerintah dan rumah sakit lain, tentu kita harus semakin meningkatkan usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat yang baik nantinya berpengaruh pada pendidikan yang baik dan sumber daya insani yang baik,” pungkasnya.