Persyarikatan Muhammadiyah bukan Dahlaniyah: Syarikat Dakwah Murni

Publish

20 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
124
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Persyarikatan Muhammadiyah bukan Dahlaniyah: Syarikat Dakwah Murni

Oleh: Gandi Teguh Ardiansyah, Mahasiswa UM Surakarta, berasal dari Sijunjung Sumatera Barat 

Bukanlah kebetulan kalau Muhammadiyah dilahirkan dalam bentuk organisasi, tidak seperti halnya Gerakan tarekat Sanusiah di Afrika Utara. Pembentukan organisasi itu dilakukan oleh Ahmad Dahlan setelah mempertimbangkan secara masak usul dari Kawan-kawan dan para muridnya, terutama yang sedang bersekolah di Kweekschool dan Normalschool. -Djazman Al Kindi Ilmu Amaliah Amal Ilmiah

Muhammadiyah tidak lahir sebagai gerakan personal yang bertumpu pada figur tunggal Ahmad Dahlan. Sejak awal, Persyarikatan ini dibentuk dalam wujud organisasi yang terstruktur dan berorientasi jangka panjang. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan hasil pertimbangan matang Dahlan bersama kawan-kawan dan para muridnya, terutama mereka yang mengenyam pendidikan modern di Kweekschool dan Normalschool. Seperti dicatat Djazman Al-Kindi dalam Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, bentuk organisasi dipilih agar dakwah Islam dapat hidup melampaui usia pendirinya.

Orientasi Ahmad Dahlan bukan sekadar membangun gerakan besar, melainkan mendirikan persyarikatan yang tertib, terorganisasi, dan berkelanjutan. Djazman membandingkan pilihan Dahlan ini dengan gerakan tarekat Sanusiah di Afrika Utara. Sanusiah memiliki pengaruh besar dan massa yang luas, namun tidak didukung struktur organisasi yang rapi. Akibatnya, kesinambungan gerakan sangat bergantung pada figur sentral. Dahlan membaca pelajaran sejarah ini dengan jernih dan memilih jalan institusional.

Pilihan membangun organisasi terbukti menjadi fondasi kokoh bagi Muhammadiyah hingga hari ini. Dari pengajian kecil dan majelis taklim, Muhammadiyah berkembang menjadi gerakan sosial-keagamaan yang besar, dengan jaringan pendidikan, kesehatan, dan amal usaha yang luas. Dahlan bahkan mewasiatkan agar pengajian-pengajian yang ia rintis tidak bubar meskipun dirinya wafat. Wasiat ini menunjukkan kesadaran bahwa dakwah harus diikat oleh sistem, bukan sekadar kharisma personal.

Karena itu, Muhammadiyah tidak dapat dipahami sebagai “Dahlaniyah”. Muammadiyah tidak membatasi keanggotannya, khusus bagi para murid atau mereka yang menyetujui Pelajaran, serta yang sependirian dengan Ahmad Dahlan saja. Warga Muhammadiyah meliputi siapa saja yang menyatakan beragama Islam dan berusaha untuk patuh mengikuti ajaran Nabi Muhammad, “Muhammadiyah”. Muhammadiyah tidak lahir dari ego pendirinya, tetapi dari kesadaran bahwa dakwah Islam memerlukan wadah bersama. Sebagai organisasi, Muhammadiyah harus dijalankan dengan semangat kebersamaan, musyawarah, dan pengabdian, serta menghindari dominasi kekuasaan dan kepentingan perseorangan.

Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah sebagai Prinsip Operasional Persyarikatan

Djazman Al-Kindi menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah syarikat dakwah, bukan arena kompetisi kepentingan. Organisasi ini menuntut etos kerja kolektif yang berlandaskan keikhlasan dan rasionalitas. Di sinilah konsep ilmu amaliah dan amal ilmiah menemukan relevansinya. Dakwah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata yang terukur, sistematis, dan bertanggung jawab.

Muhammadiyah juga bukan pekerjaan individual. Untuk menggerakkan persyarikatan, Dahlan memperkenalkan peran “para penganjur”, istilah tempo dulu bagi kader. Kader adalah penggerak utama organisasi, bukan sekadar pengikut pasif. Setiap kader dituntut memiliki kesanggupan mengajarkan Islam secara benar, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Dalam kerangka ini, kaderisasi bukan pelengkap, melainkan jantung kehidupan organisasi.

Peran kader menjadi semakin strategis dalam menjaga kesinambungan cita-cita Muhammadiyah. Tanpa kader yang militan dan berintegritas, organisasi akan kehilangan daya geraknya. Djazman menekankan bahwa amal kolektif harus ditopang oleh kesadaran ilmiah. Kader Muhammadiyah tidak hanya dituntut rajin beramal, tetapi juga memahami dasar pemikirannya, agar setiap tindakan memiliki arah dan tujuan yang jelas.

Mutohharun Jinan menegaskan bahwa salah satu bentuk keaktifan kader secara fisik adalah keterlibatan aktif di organisasi otonom. Ortom menjadi ruang pembelajaran praksis bagi kader untuk mengelola gerakan, memimpin kolektif, dan membaca realitas sosial. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), misalnya, berperan strategis di ranah mahasiswa sebagai laboratorium kader intelektual yang diharapkan mampu menggerakkan umat melalui kerja-kerja ilmiah dan sosial.

Keaktifan di ortom bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah. Melalui IMM, kader dilatih menggabungkan nalar kritis dengan aksi sosial. Inilah pengejawantahan nyata dari prinsip ilmu amaliah dan amal ilmiah. Gerakan mahasiswa Muhammadiyah diharapkan tidak terjebak pada aktivisme kosong, tetapi mampu menghadirkan program yang berdampak dan relevan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, penegasan bahwa Muhammadiyah bukan Dahlaniyah adalah upaya menjaga kemurnian orientasi Persyarikatan. Muhammadiyah adalah syarikat dakwah murni yang hidup dari kerja kolektif, bukan kultus individu. Warisan Ahmad Dahlan bukanlah figurisme, melainkan sistem. Dengan menjaga semangat kolektif, disiplin organisasi, dan kesatuan ilmu serta amal, Muhammadiyah dapat terus bergerak sebagai kekuatan dakwah yang berumur panjang dan bermakna bagi umat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Hukuman dalam Al-Qur'an: Memahami Konteks dan Fleksibilitas Hukum Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen ....

Suara Muhammadiyah

17 October 2025

Wawasan

Oleh: Gunawan Trihantoro. Sekretaris Forum Kreator Era AI (FKEAI) Provinsi Jawa Tengah dan AMM ....

Suara Muhammadiyah

11 November 2024

Wawasan

Masjid Kita Masjid Inklusif Oleh: Dr Muhammad Julijanto, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said ....

Suara Muhammadiyah

29 January 2025

Wawasan

Belajar dari Kiai Dahlan dan Jackie Chan Oleh: Agusliadi Massere, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan I....

Suara Muhammadiyah

27 December 2023

Wawasan

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi Saya membuka kitab “Hadits Arbain” sebuah buku kumpula....

Suara Muhammadiyah

15 December 2025