Pertahankan yang Baik, Hadirkan yang Lebih Baik

Suara Muhammadiyah

8 April 2026

561
Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

PONTIANAK, Suara Muhammadiyah – Bulan Syawal identik dengan Halal bi Halal. Tetapi, sebetulnya, sebut Muhadjir Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, halal bi halal tidak ada ajarannya di dalam Islam.

“Di dalam Al-Qur'an, di dalam hadis juga gak ada. Bahkan istilah halal bi halal itu tidak standar. Jadi di dunia mana pun enggak ada itu,” kata Muhadjir.

Lebih tepatnya, hal tersebut merupakan tradisi di Indonesia yang lahir dari ijtihad para ulama. Apakah itu boleh dilakukan?

“Ya boleh. Yang penting jangan dianggap itu sebagai bagian dari ibadah mahdah,” jelasnya.

Apalagi, sampai menjatuhkan hukum. Jika tidak halal bi halal, misalnya, hukumnya haram. Bagi Muhadjir, ini sangat melampaui batas.

“Jadi ini tidak ada urusannya dengan halal dan haram, tapi sangat dianjurkan karena bagian dari tradisi yang baik,” terangnya, Ahad (5/4) saat Silaturahim Idulfitri 1447 H dan Pelepasan Jama’ah Calon Haji KBIHU Muhammadiyah Kalimantan Barat di Auditorium Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Dalam konteks ini, Muhadjir meminta agar tradisi ini harus terus dilestarikan. Sebab, tradisi tersebut dinilai memiliki nilai positif karena mengandung ajaran untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.

“Jangan merasa jadi Muhammadiyah terus tidak mau mempertahankan yang baik-baik. Al muhafadhatu ‘alal qadimis shalih wal ahdhu bil jadidil ashlah, Mempertahankan yang lama dan baik, mengambil yang baru yang lebih baik," tegas Muhadjir.

Karenanya dipertemukan dengan term tajdid. Tajdid sebagai gerakan pembaruan, yang dikontekstualisasikan dengan halal bi halal ini, bukan berarti meninggalkan yang baik.

“Sesuatu yang baik, kebiasaan yang baik itu harus dipertahankan,” tekannya.

Ia mengaitkan nilai halal bi halal dengan ajaran Islam yang mendorong sikap pemaaf, sebagaimana termuat dalam Surah Al-A’raf ayat 199 serta Surah Ali Imran ayat 134 yang menekankan pentingnya menahan amarah dan memaafkan sesama.

“Momentum halal bi halal dipakai untuk bisa ketemu, saling memaafkan baik yang sebetulnya bersalah maupun tidak. Diupayakan bisa saling memaafkan. Maka, mari kita saling bermaaf-maafan,” tuturnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muham....

Suara Muhammadiyah

16 September 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Adalah keniscayaan, seni budaya amat melekat dalam denyut nadi kehidup....

Suara Muhammadiyah

13 July 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah 08 Semarang menorehkan prestasi membanggakan. Tempo l....

Suara Muhammadiyah

25 November 2024

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prof Dr Masrukh....

Suara Muhammadiyah

2 August 2025

Berita

SAMARINDA, Suara Muhammadiyah - Lulusan Kesehatan Masyarakat diharapkan mampu menjadi ujung tom....

Suara Muhammadiyah

6 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah