Piawai Mengeksekusi

Publish

30 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
64
Istimewa

Istimewa

Piawai Mengeksekusi

Penulis: Iu Rusliana, Dosen Ilmu Manajemen Sumber Daya Insani Program MM Uhamka, Sekretaris PWM Jawa Barat 

Bayangkan, Anda dipimpin bos yang hanya bisa menyampaikan konsep, tetapi minim eksekusi. Mending kalau idenya berbasis data dan fakta lapangan. Kalau hanya sekumpulan daftar keinginan? Pusing tujuh keliling untuk mengimplementasikan. Bisa konflik dengan banyak pihak, karena daftar impian tersebut harus direalisasikan, padahal sangat mustahil dilaksanakan.

Pandai mengeluh, tanpa mampu mencari jalan keluar. Maka, selama ini permasalahan akan berputar, tidak ada penyelesaian. Apalagi usaha sungguh-sungguh menuntaskan, nol. Jangan tanya tentang kepastian dan gambaran alur proses yang harus ditempuh. Setelah dirapatkan, hanya menjadi catatan notulensi, tanpa eksekusi.

Tentu saja, pemimpin itu harus jago eksekusi. Konsep yess, tetapi tanpa usaha sungguh-sungguh, eksekusi itu butuh kemampuan. Ide-ide besar bisa disampaikan kapan dan di mana pun. Namun, melaksanakan ide butuh kemampuan menggerakkan, menjalankan.

Butuh cipta kondisi, pemetaan lapangan dan tahapan proses pelaksanaan. Butuh berkeringat dan menyingkilkan kemeja panjang. Sambil memonitor langsung pekerjaan. Butuh ngopi-ngopi, lobi, dan menyelesaikan berbagai hambatan. Sumber daya manusia, keuangan, dan jejaring menjadi kunci. Tentu saja di atas itu semua, doa yang terus dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa.

Jangan biarkan organisasi dipimpin para pemimpi. Hanya pandai berceramah tanpa mampu mengeksekusi. Hanya mengatakan ide, tanpa kemampuan berkoordinasi, melaksanakan program organisasi, mencari sumber daya, dan upaya-upaya taktis lapangan lainnya. Bahwa ada staf yang mengerjakan, tentu saja kalau kita pimpinan tidak usah ikut lebih jauh pada hal teknis. Namun, pasukan tanpa arahan akan kocar-kacir, tidak jelas pola pekerjaan. Mereka butuh petunjuk jelas, teladan, dan bimbingan. 

Wajar jika Robert S Kaplan dan David P Norton pernah menulis buku The Execution Premium: Linking Strategy to Operations for Competitive Advantage. Eksekusi itu tidak mudah, sementara berbusabusa diskusi itu kadang hanya menjadi sampah. Dari diskusi ke esekusi butuh kesungguhan terbaik.

Kaplan mengingatkan, semuanya bisa dimulai dengan menyusun formulasi strategi. Akan seperti apa tahapannya, prosesnya, siapa yang mengerjakan, sumber daya keuangan dan jejaringnya seperti apa, dirumuskan bersama. Lalu, turunkan strategi dengan rencana operasionalnya dengan detail. 

Tentu saja strategi harus dilaksanakan oleh struktur organisasi. Jangan lupa selaraskan dengan struktur organisasi yang akan mendukung. Sebagai tahap lanjutan, pastikan proses perencanaan operasi tersusun dengan baik. Bedakan antara strategi dengan operasi. Operasi sudah ke teknis dan detail. Lalu, dipantau dan dipelajari kekurangan dan kelebihannya. Hasil evaluasi dan pemantauan, lakukan pengujian dan adaptasi strategi baru. 

Langkah ini menjadi siklus bagaimana memastikan strategi dapat terimplementasi. Tentu saja, dukungan pimpinan menjadi kunci. Di sinilah mengapa, pemimpin harus piawai mengeksekusi kebijakannya. Jangan terlambat, apalagi memperlambat. Bagaimana kepiawaian eksekusi dapat dilakukan, jika pimpinan tidak memahami.

Oleh karena itu, kuasai benar masalah yang sesungguhnya. Bukan dari asumsi, apalagi informasi sepihak yang tidak utuh. Jika tidak paham, jangan sungkan bertanya kepada ahli. Syukur-syukur jika punya tim ahli, staf ahli, atau apa pun. Tanyakan pandangan yang komprehensif, plus minus dan risikonya. Kalau pun tidak, kumpulkan analisis dengan tenang, tidak harus buru-buru, apalagi dasarnya suka atau tidak. 

Buat alur proses melalui Standar Operasional Prosedur (SOP). Fokus pada upaya membongkar dan mengurai bottleneck, singkirkan penghambat. Optimalkan monitoring dan evaluasi untuk mendorong perkembangan program sehingga proses tahapan eksekusinya jelas terlihat. Laksanakan rapat pimpinan rutin sehingga kecepatan keputusan dan eksekusi terukur.

Beri waktu penyelesaian sehingga prosesnya terukur. Ada yang mandek, segera dorong hingga terlaksana. Lagi-lagi untuk ini semua, butuh komitmen semua pihak. Pimpinan harus terus bekerja keras, tuntas, ikhlas, dan cerdas mendorong gerakan organisasi. Tentu ini soal pilihan, meninggalkan legacy terbaik yang dikenang atau ingatan kurang elok tentang kita. Wallaahu’alam.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Memaknai Filosofi Garwa dalam Konteks Kehidupan Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasehat PRM Trok....

Suara Muhammadiyah

9 September 2025

Wawasan

Menjaga Arah MuhammadiyahRefleksi atas Kaderisasi dan Dinamika Gerakan Oleh: Amrizal Apakah Muham....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Wawasan

(Catatan Ketiga, Business Gathering Suryaganic MNU) Oleh: Khafid Sirotudin   Sebagaimana man....

Suara Muhammadiyah

6 June 2025

Wawasan

Lagu, Seni Musik dan Puisi: Sebuah Wakaf Literasi Oleh: Khafid Sirotudin Pada upacara penutupan Mu....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Wawasan

Kita Bergerak Maka Kita Ada Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen UHAMKA Jakarta, Sekretari....

Suara Muhammadiyah

3 October 2025