Prof Yunahar Ilyas: Pandangan Komprehensif dalam Kuliah Ulumul Qur'an

Suara Muhammadiyah

21 August 2026

268
Istimewa

Istimewa

Prof Yunahar Ilyas: Pandangan Komprehensif dalam Kuliah Ulumul Qur'an 

Oleh: Yoan Pramoga, Mahasiswa KPI UIN Palangka Raya
 
Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab suci yang dibaca dalam ruang ibadah untuk semata-mata mendapat pahala. Lebih jauh dari itu, menjadi sumber nilai, petunjuk, sekaligus rujukan penting bagi umat Islam dalam memahami kehidupan. Namun, memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca terjemahannya. Ada sejumlah perangkat keilmuan yang diperlukan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari ayat yang dibaca. Di sinilah Ulumul Qur’an memiliki posisi penting dalam studi keilmuan Islam.
 
Prof. Dr. Yunahar Ilyas melalui bukunya Kuliah Ulumul Qur’an berusaha menghadirkan pemahaman tersebut secara sistematis. Buku ini pada mulanya disusun sebagai buku teks pembelajaran bagi mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah Ulumul Qur’an, tetapi seiring berkembangnya waktu buku tersebut juga menjadi pedoman penting untuk ditujukan bagi masyarakat luas yang ingin memahami Al-Qur’an.
 
Buku yang diterbitkan ITQAN Publishing pada 2013 tersebut membahas Ulumul Qur’an dalam 16 bab. Pembahasannya dimulai dari pengertian dan ruang lingkup Ulumul Qur’an, Al-Qur’an dan wahyu, proses turunnya Al-Qur’an, Makkiyah-Madaniyah, pengumpulan Al-Qur’an, asbabun nuzul, qira’at, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, munasabah, kisah-kisah Al-Qur’an, mukjizat, hingga tafsir.
 
Dari susunan tersebut terlihat bahwa Profesor Yunahar tidak memandang Ulumul Qur’an sebagai satu ilmu yang berdiri sendiri dan memiliki ruang sempit dalam pembahasannya. Sebaliknya, merupakan kumpulan pengetahuan yang saling berkaitan untuk membantu manusia memahami Al-Qur’an secara lebih utuh.
 
Salah satu gagasan penting Profesor Yunahar Ilyas dalam buku tersebut adalah keluasan cakupan Ulumul Qur’an. Menurutnya, Ulumul Qur’an mencakup berbagai ilmu yang membahas segala sesuatu berkaitan dengan Al-Qur’an, mulai dari pengertian Al-Qur’an dan wahyu hingga persoalan tafsir. Dengan demikian, memahami Al-Qur’an membutuhkan perhatian terhadap proses turunnya, sejarahnya, struktur ayat dan surat, serta konteks yang menyertainya.
 
Cara pandang ini penting karena ayat Al-Qur’an tidak turun dalam ruang kosong. Profesor Yunahar secara khusus membahas nuzul Al-Qur’an, termasuk proses dan fase turunnya secara bertahap serta hikmah di balik proses tersebut. Ia juga membahas Makkiyah dan Madaniyah sebagai bagian dari perangkat untuk memahami karakter ayat berdasarkan konteks turunnya.
 
Begitu pula dengan asbabun nuzul. Profesor Yunahar menjelaskan bahwa tidak semua latar belakang turunnya ayat dapat ditentukan melalui dugaan atau penalaran bebas. Dalam pembahasannya, ia mengutip pandangan Al-Wahidi bahwa pengetahuan tentang sebab turunnya ayat harus didasarkan pada riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, ia menunjukkan bahwa terdapat ruang pengembangan pemikiran dalam Ulumul Qur’an, misalnya melalui kajian yang lebih sistematis terhadap persoalan tertentu.
 
Di sinilah kita dapat melihat karakter pemikiran dari Profesor Yunahar, yaitu kehati-hatian dalam perkara yang membutuhkan riwayat, tetapi tetap membuka ruang bagi pengembangan keilmuan. Ulumul Qur’an tidak berhenti sebagai kumpulan teori klasik, tetapi dapat terus dikaji selama tetap menghormati dasar-dasar keilmuan yang telah dibangun para ulama.

Dari Memahami Teks Menuju Memahami Pesan

Pandangan komprehensif Profesor Yunahar semakin terlihat ketika pembahasan diarahkan pada tafsir. Bagi pembaca, Ulumul Qur’an pada akhirnya bukan sekadar mengetahui istilah seperti Makkiyah, Madaniyah, asbabun nuzul, qira’at atau nasikh-mansukh. Semua perangkat tersebut memiliki fungsi untuk membantu memahami pesan Al-Qur’an dengan lebih tepat.
 
Misalnya, pengetahuan tentang asbabun nuzul dapat membantu pembaca memahami latar belakang turunnya ayat. Pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah membantu melihat karakter serta konteks perkembangan dakwah Nabi. Sementara pembahasan qira’at menunjukkan adanya keragaman bacaan yang memiliki implikasi terhadap pemaknaan dan tafsir. Buku Profesor Yunahar bahkan secara khusus membahas hubungan keragaman qira’at dengan tafsir Al-Qur’an.
 
Pada bagian akhir, Profesor Yunahar membahas tafsir, ta’wil dan terjemah. Kajian mengenai ketiganya penting agar pembaca tidak menyamakan begitu saja antara menerjemahkan teks Al-Qur’an dengan menafsirkan kandungannya. Sumber-sumber tafsir juga dibahas, antara lain penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, hadis, perkataan sahabat, ra’yu, dan isyari.
 
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa memahami Al-Qur’an merupakan pekerjaan intelektual sekaligus spiritual. Membaca ayat adalah langkah awal, sedangkan memahami maksud dan pesan yang terkandung di dalamnya membutuhkan ilmu, ketelitian, serta kesadaran terhadap konteks.
 
Karena itu, kekuatan buku Kuliah Ulumul Qur’an karya Profesor Yunahar Ilyas bukan hanya pada banyaknya tema yang dibahas, tetapi pada cara ia menyusun peta untuk memasuki studi Al-Qur’an. Ia memperlihatkan bahwa Al-Qur’an dapat didekati melalui banyak pintu keilmuan, tetapi setiap pintu memiliki kaidah yang harus dihormati.
 
Dalam konteks kehidupan mahasiswa sekarang, terutama generasi yang hidup di tengah derasnya arus informasi, pemikiran tersebut menjadi semakin penting. Hari ini, kemudahan mengakses potongan ayat dan tafsir di platform digital tidak selalu diikuti kemampuan memahami konteksnya. Karena itu, semangat yang dihadirkan Profesor Yunahar untuk mempelajari Al-Qur’an dengan perangkat ilmu dapat menjadi landasan agar umat tidak mudah mengambil kesimpulan keagamaan secara serampangan.
 
Maka dengan demikian, Kuliah Ulumul Qur’an mengajarkan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang membacanya, tetapi juga dari seberapa serius usaha untuk memahaminya. Ulumul Qur’an menjadi jembatan antara teks yang dibaca dan pesan yang hendak dipahami. Dalam pandangan Profesor Yunahar Ilyas, jembatan itu harus dibangun dengan ilmu, kehati-hatian, dan keterbukaan terhadap pengembangan kajian. Dengan cara itulah Al-Qur’an tidak berhenti sebagai teks yang dibaca, tetapi hadir sebagai petunjuk yang dipahami dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. (Ahaf)

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Goresan Al-Qalam di Tangan Generasi Baru: Mendekonstruksi Singgasana Kekuasaan Oleh: Muhammad Azam ....

Suara Muhammadiyah

8 June 2026

Wawasan

Kelola Negosiasi Bisnis dengan Efektif Menerapkan Bahasa Indonesia Penulis: Abdul Latif, Dosen UHAM....

Suara Muhammadiyah

2 February 2026

Wawasan

Darah Biru Mimi dan Mintuno Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LPUMKM PWM Jateng, Kabid Diaspora Ka....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Wawasan

Seruan Sang Khatib: Pentingnya Muhasabah Secara Holistik dalam Menapaki Kehidupan di Era Modern....

Suara Muhammadiyah

17 December 2025

Wawasan

Oleh: Cristoffer Veron Purnomo, Reporter Suara Muhammadiyah Betapa cepatnya kilatan waktu berlalu, ....

Suara Muhammadiyah

31 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah